
Bab 33
Kamu Tidak Penasaran?—
...*****...
...~ Hiro Sato ~...
“Huh, pakai baju ini panas sekali, sumpah,” keluhku.
Rupanya, sebelum Pak Fujima berangkat ke rumah ibu atau anaknya, dia memberiku sebuah seragam. Baunya masih sangat wangi, mulus, dan tak bernoda. Itu adalah satu set seragam koki berwarna putih lengkap dengan celemeknya. Saat mengenakan itu, aku tampak seperti Pak Fujima junior.
“Tapi ini boleh juga.” Setelah menyampaikan pendapat negatifku, aku kembali membenarkan topi kokiku yang miring.
“Hei, Hiro! Kok restorannya se—” Suara seorang gadis, dan itu seketika terhenti.
Aku berbalik badan, mengarahkan netraku pada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu dapur.
“Oh, akhirnya dia datang juga,” ujarku, sambil mendekatinya.
Itu Yuna. Wajahnya terlihat cemas. Dia terus menatapku, seolah-olah ada seribu pertanyaan yang gadis itu hendak tanyakan padaku.
“Ada apa denganmu, Yuna?” Aku harap dia baik-baik saja.
Gadis itu memutar lehernya, sambil menuding meja kasir yang sedang mematung di sisi barat restoran. Hanya saja Pak Fujima sedang tidak berada di sana, dan tentu saja itu bukan hal yang biasa.
Aku kembali bertanya, pelan-pelan agar dia tidak ketakutan. “Ya, lalu kenapa, kau—“
“Di mana Pak Fujima? Aku tidak merasakan keberadaannya!” Teriakannya hampir memekakkan telingaku.
Namun, untung saja, aku sudah menyumbat kedua telingaku dengan jari. Ini akan baik-baik saja. “Jadi kau berteriak hanya untuk itu, Yuna?”
“Ya!”
“Dia lagi pergi ke rumah ibunya,” kataku, sambil tersenyum ramah. “Jadi restoran kami hari ini tutup dulu.”
“Oh, jadi begitu.” Yuna mendekap dadanya. Aku bisa merasakan embusan napas yang begitu hangat keluar dari mulutnya, seperti melepas lega.
“Lagi pula kenapa kau langsung cemas gitu? Bisa jadi dia sedang berada di toilet, atau tidur, atau masih banyak kemungkinan lainnya lagi, lho.” Aku mengoceh, dan Yuna tampak sukar mendengarnya.
Yuna menyeringai. Dia meletakkan tangannya di atas dada, seperti seorang model yang ingin menyampaikan keluhan pada manajernya. “Anggap saja ini sama seperti kejadian saat aku bisa menemukan pencuri tas nenek itu. Kamu ingat, kan?” Gadis itu melewatiku, lalu dia meletakkan tas belanjanya di atas meja dapur yang kosong.
⠀
⠀
__ADS_1
“Yuna, apa kau memang ingin belajar masak?” Setelah mencoba meyakinkannya, aku menarik napasku pelan-pelan; mencoba untuk tidak menghembuskannya lagi selama beberapa waktu.
“Tentu saja. Aku sangat optimis kali ini.” Di tangan kanan Yuna terdapat sebuah buku catatan kecil, sedangkan di tangan kirinya ada sebuah pulpen.
Pada akhirnya membuang napas itu keras-keras, lalu mendekap dadaku dengan satu tangan. Semoga saja pembelajaran ini tidak berakhir sama seperti waktu aku mengajarkannya di perpustakaan. Itu tentang mesin digital yang dapat mencari lokasi buku dengan cepat, dan aku masih ingat bagaimana raut depresi gadis itu karena sama sekali tidak mengerti cara menggunakannya.
“Baiklah, ke sini sebentar.” Aku berjalan menuju meja stainless panjang setinggi enam kaki yang terletak di tengah-tengah dapur.
“Jadi ini bahannya?” Saat Yuna bertanya, nada bicaranya sangat sopan. Itu berbeda jauh dari Keira—sahabatku sendiri.
“Ya,” jawabku, sambil menatap bahan-bahan makanan yang diperlukan untuk membuat bubur zosui.
Di atas meja terdapat semangkuk besar nasi; beberapa potongan dada ayam yang telah diiris-iris; selusin telur; beberapa wortel; daun bawang; sebotol kaldu bubuk yang berdiri dekat tempat Yuna berdiri; sebotol kecap besar, dan tidak lupa setoples gula kecil. Sisanya adalah beberapa perlengkapan umum yang digunakan untuk memasak, dan aku sudah memastikan jika semuanya telah siap di posisinya masing-masing.
“Kau sudah melihat bahannya, simpel, bukan?” tanyaku.
“Ya, aku bisa mengetahuinya sekarang.”
Jika sudah seperti ini, maka acara selanjutnya pasti adalah memasak, pikirku.
⠀
⠀
“Kenapa dibuat seperti itu, Hiro?” Ini adalah komplain pertama Yuna setelah melihatku memotong dadu dada ayam dan wortel itu.
“Oh begitu, ya.”
“Ya,” jawabku singkat.
Saat ini Yuna tidak melakukan apa-apa ( untuk sementara waktu ). Aku meminta dia untuk memerhatikannya terlebih dahulu. Itu jauh lebih penting.
“Hmm, Hiro.” Tiba-tiba suara gadis itu berubah rendah.
“Ya?” Aku meliriknya sekali, kemudian kembali pada mangkuk kecil yang baru saja kupersiapkan.
"Ingat kejadian tentang pencuri tas nenek waktu itu?"
"Tentu saja aku ingat." Sambil menjawab Yuna, aku menuangkan air tersebut ke dalam mangkuk
"Kamu tidak penasaran kenapa aku bisa menemukan orang itu di dalam gang?"
"Kenapa?" Tiba-tiba Yuna terdengar seperti berdesis. Aku kembali menaruh pandanganku padanya. "Yuna?"
"Kamu gak mau dengerin, ya?" Meski wajahnya sedikit tertutup tudung, tetapi aku tahu jika Yuna sedang cemberut.
__ADS_1
"Bukan begitu ...." Setelah air, sekarang aku menambahkan kaldu bubuk, kecap, dan gula, kemudian mencampurkan semua bahan tersebut ke dalam mangkuk. "... aku penasaran, kok, beneran."
Senyum Yuna kembali. "Sebenarnya angin-angin itulah yang memberitahuku," katanya.
Tanganku berhenti mengaduk. Sepertinya rasa penasaranku baru saja digandakan.
“Serius, tuh?” raguku.
"Iya, aku juga baru tahu kalau itu bisa dilakukan."
"Eh?"
"Kok kamu terkejut gitu?" Yuna memiringkan kepalanya, sambil menatapku dengan wajah datar.
"Aku hanya tidak— maksudku, apa yang kau maksud dengan baru tahu?" tanyaku.
Yuna mengangkat telunjuknya di atas dada, pandangannya pun mendongak, seperti sedang berpikir.
“Aku membaca buku cerita saat kita berada di perpustakaan sebelumnya,” jawab gadis itu, sambil terkikik. "Dari sanalah aku mengetahuinya, keren, kan?"
“Tidak kusangka ....” Ketidakpercayaanku secara penuh tumbuh. “... jadi selama lima menit itu kau benar-benar membacanya?” Aku merasa Yuna memiliki banyak kemampuan yang hebat. Salah satu diantaranya adalah: membaca dengan cepat.
Yuna lantas bergerutu, “Tapi aku masih ngerasa kecewa, nih.” Sambil menempelkan sepasang jarinya di dahi.
Aku beralih mengambil beberapa butir telur, kemudian memecahkannya satu persatu. "Kecewa?"
"Kamu ngalangin aku buat ngalahin orang itu."
"Huh? Itu kan ...."
"Aku rencananya mau nyoba kekuatan udara yang katanya bisa membuat orang tertidur," tutur Yuna. Dia melipat tangannya, juga terlihat sedikit geram. "Tapi kamu malah maju duluan; kamu nyari mati apa?" herannya.
Aku sedikit terkejut saat mendengarnya. Waktu itu aku memang berniat untuk melindungi Yuna dengan melawan pencuri tersebut. Kami mengalami perkelahian singkat yang menegangkan, hingga pada akhirnya pencuri tersebut berniat mengakhiriku dengan pisau lipat yang ia keluarkan dari saku celananya.
Pandanganku kembali kepada Yuna. Aku melihat mata birunya yang indah nan berkilauan. "Aku merasa memang harus melakukannya."
"Melakukan ... nya?" tanya Yuna, sambil mencondongkan badannya.
Saat aku hendak menuangkan campuran air dan ketiga bahan dalam mangkuk tersebut ke dalam panci sup, lisanku berkata, "Aku hanya ingin melindungimu, Yuna."
Tanpa sadar aku mengatakan hal demikian.
...*****...
...... Bersambung ......
__ADS_1
...Our Voice © 1 St Original Works...