Our Voice

Our Voice
21. Lebih Berat Ke Depannya


__ADS_3

Episode 21


Lebih Berat Ke Depannya—


...💨💨💨...


...~ Hiro Sato ~...


“Aku jadi merasa bersalah, maafkan aku karena tidak mengetahui kondisimu.” Kak Aina menjatuhkan matanya, sekilas terlihat murung.


“Tidak apa, ini salahku. Kakak tidak perlu seperti itu.” Yuna bersikeras berusaha agar tidak membuat wanita itu sedih. Di samping itu, dia juga ingin menutupinya, karena tidak boleh ada seorang pun yang mengetahui rahasia itu kecuali aku.


Kenapa hanya aku, ya? Ini memang sedikit aneh.


“Kau harus segera pulang dan beristirahat, Yuna. Jadi, baiklah,” seru Kak Aina. “Kalau begitu, aku yang akan mengantarmu pulang kali ini.” Meski gelap telah menerjang langit, tetapi semangatnya tidak pernah tumbang.


“Aku saja yang mengantarnya. Kak Aina tidak perlu repot-repot begitu.” Aku mengucapkannya dengan refleks. Bukan begitu seharusnya, Hiro; bukan itu yang ingin kau katakan, sesalku dalam hati.


Kak Ryuji mengedipkan sebelah matanya, seolah menggodaku. “Mau menjadi pahlawan, nih? Cie ....”


“Tolong lihat situasinya, Kak; dia lagi sakit tuh,” jawabku dengan datar. Yuna lantas membuat ekspresi seakan-akan dirinya memang terlihat sakit.


“Aku sudah tidak tahan lagi, Hiro ... tolong temani aku pulang ke stasiun sekarang, sebelum aku ....” Ketika Yuna refleks menyandarkan dirinya di bahuku, wajahku seketika memerah total, dan ini tidak bisa dikendalikan.


“Bo–bolehkah kami pergi sekarang? Kalian dengar ucapannya, kan?” Aku menerangkannya sebisa mungkin, tetapi pikiranku—karena sandaran Yuna—seolah melayang karena tertarik embusan udara yang tenang.


Kak Ryuji hanya menyunggingkan senyumnya. Namun, berbeda dengan Kak Aina. Dia terus menatap kami dengan pandangan sedingin es. Akan tetapi, tidak berselang lama situasi itu kembali mencair.


“Baiklah, aku percaya padamu, Hiro. Selamatkan dia!” Kak Aina meninju udara, wajahnya pun ikut berseri-seri.


...💨💨💨...



Di perjalanan menuju stasiun, Yuna perlahan menghela napasnya.


“Yang tadi hampir saja, ya, Hiro?” Tanda-tanda kecemasan masih terlukis pada dirinya. Itu mungkin akan menjadi hal buruk yang tak dapat dihindarkan.


Aku juga kembali mengatur napasku. “Benar, tapi apa mereka juga bisa merasakannya, maksudku ....”


“Bagaimanapun, angin-angin itu, tekanan udara atau semacamnya, mereka semua hidup di dalamku,” kata Yuna sambil melirikku. “Jadi pada kenyataannya, karena dingin itu timbul karena mereka, maka fisikku ini juga pasti akan terpengaruh. Tentu saja orang-orang itu juga bisa merasakannya.”


“Begitu, toh.” Aku mengangguk, seperti mendapat pencerahan.


“Kamu juga merasakannya, bukan? Saat kita benar-benar dekat.”

__ADS_1


“Ah, iya. Itu sering terjadi, tidak salah lagi ....”


“Tapi ada satu hal yang masih tidak bisa aku mengerti.” Tiba-tiba Yuna berhenti, kemudian memutar badannya lagi padaku.


Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi Yuna terlihat sangat serius. “Ada ... apa?” tanyaku ragu-ragu.


“Saat pertama kali kamu melihatku duduk di bangku jalan itu—“ Yuna menghentikan kalimatnya, setelah seorang kakek dengan tongkat kayunya berjalan dengan lambat melewati kami.


Jika harus berterus terang, sebenarnya ini cukup menguji kesabaranku.


Ketika pria tua itu sudah semakin jauh dari kami, tatapan Yuna kembali terpaku padaku. “—padahal jarak kita tidak terlalu dekat, kan?”


“Seingatku, begitu.”


Yuna lantas terkejut. “Tidak, ini aneh; bagaimana bisa?” Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan.


“Ada apa, Yuna?” Semoga saja itu bukan sesuatu yang buruk.


Tidak lama Yuna mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jaketnya, lalu menggeser beberapa opsi menu, kemudian membuka sebuah ikon dengan gambar kamera.


“Ini dia.” Setelahnya, Yuna menghadapkan gawainya di depan mataku, tetapi tidak terlalu dekat. “Apa kamu tahu ini di mana?” tanyanya.


Gambar yang dia tunjukkan adalah sebuah perpustakaan besar bertingkat yang terdapat di kota ini.



Maka darinya, aku harus bergegas pulang setelah ini.


“Kamu baik sekali, Hiro, karena sudah mengantarku sampai ke stasiun lagi.” Yuna tersenyum, dan kami berdiri di depan pintu putar Stasiun Kirina.


“Kau yang memintanya, aku hanya menjalankan tugasku.”


“Padahal aku tidak serius saat itu.” Saat Yuna menjulurkan lidahnya ke depan, itu membuat perasaanku seolah-olah menguap, karena malu.


“Oh iya, Hiro, jadi sebenarnya kamu tidak bekerja di sana?”


“Di restoran Pak Fujima?”


“Ya, aku jadi iri padamu.” Yuna berubah cemberut, untuk beberapa alasan yang tidak kuketahui.


“Ke–kenapa, Yuna?”


“Soalnya, aku harus membayar kontrakanku sendiri.” Yuna mendongak, mengintip langit penuh bintang dari balik kanopi transparan stasiun.


Saat aku ikut melihatnya, itu seperti membuatku tersadar. Penciptaan Tuhan yang telah menghadirkan manusia di muka bumi ini memang benar-benar sempurna, tidak diragukan jika itu sangat memukau.

__ADS_1


“Ditambah lagi karena aku belum bekerja, ini pasti akan menjadi lebih berat ke depannya, ya, kan, Hiro? tanya Yuna sambil tergelak senyum.


“Ya, aku juga harus bersiap sebelum itu datang.” Aku mengepalkan tanganku, tetap optimis dengan tujuanku di masa depan.


“Siapa pun pasti akan mengalaminya, bahkan di masa depan nanti kamu juga akan merasakan itu.”


“Aku tahu,” jawabku singkat.


“Baiklah, kalau begitu sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Yuna bersiap masuk melewati pintu putar itu. “Sampai jumpa hari minggu nanti, Hiro.” Setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke depan, berjalan perlahan dan pergi meninggalkanku.


“Sangat disayangkan jika hari ini telah berakhir,” gumamku.


Aku segera berbalik dan berjalan keluar dari stasiun.


...💨💨💨...



Saat aku membuka pintu restoran, Pak Fujima sudah kembali berada di tempatnya. Mesin kasir itu juga tampak mengilap seperti baru kembali dilap.


“Anda sudah kembali?” Aku mendorong pintu itu kembali pada posisinya—sangat pelan, sampai-sampai tidak ada suara decitan yang terdengar darinya.


“Ya, makan malam tidak boleh lama-lama. Aku harus kembali pada restoran ini!” sahutnya dengan terbahak-bahak. “Bagaimana denganmu sendiri, Sato?”


“Denganku?”


“Huh?” Pak Fujima seperti terkejut, tawanya seolah-olah lari meninggalkannya. “Kau izin pergi karena kencan, bukan?”


“Tidak-tidak! Aku hanya makan malam; tidak lebih dari itu!” bantahku. Baru kali ini suaraku setinggi ini.


Tiba-tiba pemilik restoran itu menghela napasnya, nada suram terdengar kecil ketika dia tertunduk.


“Eh, anda kenapa?”


Hanya lima detik sejak saat itu, Pak Fujima kembali menarik wajahnya ke atas, lengkap dengan senyum yang menyeringai. “Pemuda memang selalu malu ya untuk mengakuinya,” ujarnya dengan jelas—tanpa ragu.


“Aku— ya, tidak!” Sebelum dia melihatku, aku memutuskan untuk berlari melalui tangga berputar yang berada di dekat kamar kecil restoran.


Sekarang, aku berniat untuk kembali ke kamar.


Hanya saja saat sebelum aku bergegas naik, Pak Fujima kembali berteriak, “Air panasnya sudah siap, Sato, kau bisa mandi dulu sebelum beristirahat, mengerti?” Suaranya tegas, tetapi sangat hangat dan menyentuh. Langkah kakiku refleks terhenti karenanya, kemudian kembali menoleh pada pemilik restoran tersebut.


"Hmph!" Aku mengangguk sambil menyunggingkan senyum sebagai tanda terima kasih yang tulus.


...💨💨💨...

__ADS_1


...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...


__ADS_2