Our Voice

Our Voice
22. Semua Yang Mereka Katakan


__ADS_3

Episode 22


Semua Yang Mereka Katakan—


...💨💨💨...


...~ Hiro Sato ~...


Hari kembali larut dalam tirai gelap dan akan tergantikan dengan esok yang gemilang.


Sekarang aku berada di bak mandi berisikan air panas yang merendam tubuhku. Rasanya, ini seperti pelayanan hotel bintang lima yang terdapat pada setiap destinasi wisata, dan sungguh, aku sedang tidak berfantasi untuk mengatakan hal-hal yang berlebihan.


Sekitar tiga meter dari tempatku berendam, di sebelah kiri, terdapat sepasang pasta gigi, tisu toilet, pengharum kamar mandi, sikat gigi, sabun cuci muka, dan beberapa perlengkapan lainnya yang diletakkan dengan rapi di atas wastafel. Tidak lupa dari itu, di tengah pintu kamar mandi pun terdapat gantungan handuk, dan bajuku juga menggantung di atas sana.


Aku hanya berdiam diri, memanfaatkan waktu bersantai ini dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan apa yang gadis itu katakan sebelumnya.


“Siapa pun pasti akan mengalaminya, bahkan di masa depan nanti, kamu juga akan merasakan itu.”


Aku pelan-pelan menarik napasku, kemudian membuangnya dengan perlahan.


“Terima kasih, Yuna,” gumamku.


Namun, bersamaan dengannya, tanpa sengaja aku kembali mengingat sebagian kecil dari kejadian itu.


Satu tahun yang lalu, tepatnya sebelum aku melarikan diri, rumah itu penuh dengan kedamaian.


Bersama dengan ibuku, kami duduk bersama di ruang tamu, memandangi kehangatan sinar mentari yang mengintip dari balik jendela jungkit yang lebar. Kicauan burung terdengar dari beberapa sudut arah di luar rumah, suara anak-anak tetangga yang sedang bermain ria menuruni tangga rumah kami dan berlarian ke sana-sini, dan ayah mengizinkan mereka masuk agar diriku tidak kesepian.


“Hiro.” Saat Ibu memanggilku, itu seperti melodi yang bergema dan teriring secara harmonis.


“Ya, Ibu?”


“Kenapa wajahmu selalu murung akhir-akhir ini,” katanya sambil mengusap kepalaku. “Ada masalah di sekolah?”


Wajahku berubah kusut, rasa cemas turut hadir menemaniku. “Bukan itu yang aku pikirkan. Kalian tidak akan pergi, kan? Tolong jawab aku.” Aku memeluk Ibu, sambil menikmati kehangatan yang sering kami rasakan setiap waktu; setiap hari, hingga saat ini.


Akan tetapi, Ibu tidak menyahut. Dia lebih memilih untuk tersenyum, lalu menatap Ayah yang sedang berdiri dengan cangkir kopi hangat di tangannya.


“Kami tidak akan pergi ke mana-mana, Hiro.” Di sampingku, Ayah mendudukkan dirinya dengan pelan, kemudian meletakkan secangkir kopi itu di meja yang berada di depan kami.


Lain dari pada itu, di atas taplak juga terdapat vas bunga transparan dengan air yang cukup keruh. Mungkin mereka lupa menggantinya karena terlalu sibuk bekerja.


Hampir saja terpaku dengan itu, kali ini pandanganku kembali pada Ayah. “Tapi, bukankah orang-orang itu ....”

__ADS_1


Dengan cepat Ayah menempelkan telunjuknya di depan mulut, seperti memintaku untuk diam.


“Ayah?” gumamku.


“Lupakan semua itu, Hiro. Jangan pedulikan apa yang kamu dengar dari mereka, ya?” Senyum Ayah seolah menenangkanku, lalu dia perlahan mengambil cangkir itu kembali. “Tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada kami, tenang saja.”


Setelah mengatakan hal demikian, Ayah mulai meneguk kopinya.


Waktu itu, aku percaya dengan semua yang mereka katakan. Namun, seharusnya aku tidak seperti itu.


Aku sangat menyesal.



Terlepas dari itu, karena mandi yang menyegarkan telah berakhir, aku kembali membuka pintu kamar mandi untuk keluar. Akan tetapi, hal ini sedikit membuatku terkejut setelah Pak Fujima sontak berdiri di depanku.


“Ah, Sato,” ujarnya dengan mulut sedikit menganga.


“Ya, Pak Fujima?”


“Sebenarnya sabun kamar mandi sebelumnya telah habis, jadi aku baru saja membelinya.” Pemilik restoran itu mengulurkan sekantong plastik kecil padaku.


“Ini apa?” tanyaku kembali.


Itu adalah sabun mandi cair kemasan botol yang mereknya aku ketahui, dan sabun itu jelas sangat terkenal.


“Eh— apa?” Pandanganku terbelalak. Sambungan kabel yang terpasang di kepalaku seolah-olah baru saja kembali terhubung. Lalu ... jangan bilang yang ada di sana ..., dugaku dalam hati.


Aku kembali melirik salah satu botol cair yang sebelumnya aku gunakan untuk mandi, itu berdiri dengan bangga di atas tempat sabun. Jadi, ya, seharusnya, semua orang akan mengerti jika itu adalah sebuah sabun, begitu pula denganku.


“Tidak, Sato, itu adalah sampo.” Pak Fujima tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.


Sudut mataku kembali tertuju padanya, dengan sedikit penyesalan. Mandi lagi gak, ya? gumamku dalam hati.


Sebenarnya menggunakan sampo secara tidak sengaja di kulit itu tidak akan berdampak buruk. Hanya saja, efek yang dihasilkan tidak akan semaksimal ketika seseorang menggunakan sabun seperti pada umumnya.


Oleh karena itu, lain kali aku harus memeriksa setiap barang yang ada di kamar mandi ini terlebih dahulu, agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi di masa depan.


...💨💨💨...



Terlihat beberapa pakaian yang menggantung di dalam lemari. Sepertinya, semua itu adalah milik Pak Fujima saat dia masih muda. Pemilik restoran itu juga mengizinkanku untuk mengenakannya selama aku tinggal di sini.

__ADS_1


Satu hal yang kupikirkan tentang ini adalah, betapa beruntungnya diriku, kira-kira.


“Malam ini, yang mana, ya, yang akan aku pakai?” Pandanganku tertuju pada satu set piyama biru yang menggantung di antara beberapa pakaian kasual lainnya. “Firasatku berkata ini,” kataku seraya mengambilnya.


“Ternyata masih muat, tidak kusangka ....” Aku becermin di depan kaca lemari, sambil meratapi tinggi badanku yang masih terlihat sama seperti tahun lalu.


Jika ada waktu lebih ( nantinya ), mungkin aku akan berenang lagi.


Tiba-tiba ponsel yang berada di kasurku bergetar, diikuti nada dering khas yang bisa langsung membuatku tahu siapa orang yang sedang membuat panggilan tersebut.


Aku segera mengangkatnya tanpa ragu dan menyapa, “Ya, Keira? Sepertinya kau tidak pernah absen meneleponku setiap hari."


“Tentu saja, Bos! Aku ingin tahu kabar terbarumu setiap saat.” Seperti biasa, dari gelagatnya berbicara, Keira tampak memicu telunjukku untuk segera mengakhiri panggilan ini sesegera mungkin.


“Langsung ke topik utamanya saja. Aku sedang lelah.”


”Baiklah, jadi bagaimana kabarmu, Hiro?”


“Itu lagi,” jawabku sambil menghela napas. “Aku baik-baik saja, Keira. Apa tidak ada yang lain lagi?” Kali ini aku mematikan fitur mute pada panggilan tersebut agar suaranya bisa terdengar, bahkan saat jauh dari telingaku.


Di samping itu, ibu jariku sekarang sedang bersiap di ikon telepon berwarna merah, menunggu aba-aba.


“Ada kok; tenang saja.”


“Apa?”


“Sudah lelah jalan-jalan ke—“


Suara bip bergema dengan kasar. Pembicaraan itu seketika berakhir saat jariku secara tidak sengaja—sedikit direncanakan, sih—menyentuh ikon tersebut.


“Wah, sayang sekali; aku tidak bisa mendengarnya. Maafkan aku, Keira.” Aku terbahak-bahak, kemudian menatap meja kayu kecil yang berada di sebelahku.


“Hmm, aku rasa itu seperti baru saja diletakkan ....” gumamku.


Selain lampu tidur yang belum dihidupkan dan setumpuk majalah ringan, di sana terlihat patung kuda poni mini berwarna putih, berdiri dengan tegap dan elok. Saat ini aku berpikir jika Pak Fujima-lah yang meletakkan patung itu di atas meja.


Oleh karenanya, tanpa sadar diriku tersenyum.


Sejauh ini, aku seperti diperhatikan dengan baik olehnya, mirip seperti ayah.


...💨💨💨...


...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...

__ADS_1


__ADS_2