
...—Hiro Sato—...
Minggu yang bersahaja telah datang. Sebelumnya, di malam saat perbincangan terakhirku dengan Yuna di stasiun, dia menunjukkan foto perpustakaan besar bertingkat yang ada di kota ini, dan kalau tidak salah, namanya adalah Perpustakaan Narukami. Sekarang kami menempatkan diri di sana, mungkin untuk beberapa waktu.
“Yuna,” panggilku.
“Ya, Hiro?” Yuna menjawabku dengan hangat, seperti bunga yang mekar di musim semi.
Sejak satu jam lamanya, kami terus berjalan mengitari lorong-lorong di lantai lima perpustakaan. Aku tidak mengerti bagaimana, tetapi Yuna lebih memilih untuk menaiki tangga daripada menggunakan lift. Rasa muak dan riang turut bergelora di hatiku, seperti saling berkontradiksi.
“Jika menggunakan itu ....” Aku menuding pintu lift itu, dan secara kebetulan ia terbuka. Beberapa anak muda keluar dari dalamnya, lalu menyebar ke beberapa bagian koridor dengan pola yang tidak beraturan. “... kita pasti akan lebih hemat waktu, kurasa.”
“Aku sedang ingin olahraga, sih, jadi sekalian naik tangga itu pasti akan menguras keringat,” tutur Yuna, suaranya terdengar seperti anak kecil. “Kali ini aku juga menggunakan jaket yang lebih ketat, jadi pasti akan lebih cepat berkeringat.” Gadis itu kemudian bersorak, dan dari sini aku bisa merasakan jika dirinya sedang sangat bersemangat.
Aku menghela napas. Kalau begitu lebih baik kita berolahraga pagi saja, Yuna, gerutuku dalam hati, mencoba menyesuaikan diriku dengan salah satu aturan perpustakaan. Jangan berisik dan membuat gaduh di dalamnya, atau kau akan dikeluarkan secara tidak terhormat, seingatku, tulisan itu terpasang dengan kejam di papan lobi perpustakaan.
“Tapi sepertinya percuma saja ....” Yuna menurunkan tudung jaketnya, dan wajahnya nyaris tidak terlihat
“Kenapa?”
Yuna lantas mendekatiku, kemudian berbisik, “Berapa kali harus aku katakan kepadamu, Hiro?” Suaranya terdengar seperti mengecamku.
“A–aku mengerti, Yuna.” Mungkin rasa lelah karena menaiki tangga itulah yang membuatku lupa. Namun, lain daripada itu, aku memikirkan sesuatu yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Jika harus dijabarkan lebih rinci, mungkin arus udara yang berada di dalam tubuh Yuna bekerja seperti sebuah turbin yang tidak terlihat, dan terus berputar tanpa henti—memberikan kesejukan yang tidak ada habisnya. Mekanisme seperti itu bisa saja terjadi, kemungkinannya tidaklah nol.
Di lain sisi, aku menatap buku-buku yang disusun rapi dan berkilauan di setiap rak setinggi tujuh kaki. Tidak hanya itu. Di balik salah satu rak, terdengar suara beberapa pemuda yang sedang berbincang, dengan topik yang tidak relatif dengan tempat mereka berada saat ini.
“Aku sudah menembak gadis itu, dan kalian mau tahu jawabannya?” Suara salah satu pemuda itu sangat percaya diri, terdengar sombong, dan sepertinya dia ingin memamerkan momen fana itu kepada teman-temannya.
“Ah, padahal aku duluan yang mau melakukannya, Kimimaru. Sedih sekali rasanya; hatiku mau hancur sekarang juga.” Aku bisa mendengar suara salah satu temannya yang sangat dalam, itu tulus menyatakan rasa patah hatinya.
“Jangan khawatir, Arata, kau pasti akan baik-baik saja; kau masih bisa menuai banyak jagung di ladang yang luas, jadi teruslah bersemangat, oke?” Yang satu ini pasti salah satu obat penenang yang selalu ada di grupnya, tetapi suaranya terdengar meremehkan. Ia tidak berbeda jauh dengan si tukang pamer itu.
__ADS_1
“Hiro, kenapa kamu diam?” Yuna menarik jaketku dari sebelah, sentuhannya sangat halus.
“Tidak, ayo kita lanjutkan; kau mau mencari buku itu, kan?”
“Tapi kita sudah mencarinya sejak di lantai dasar tadi,” kata Yuna, pandangannya perlahan jatuh ke lantai. “... dan sampai saat ini kita masih tidak menemukannya.”
Untuk beberapa saat, setelah memikirkannya, setetes ide masuk ke dalam kepalaku, seperti bohlam lampu yang kembali menyala. “Kita bisa mencoba itu!” Aku menepuk kedua tanganku, berseri-seri karena tidak sabar menunjukkan itu kepadanya.
“Mencoba apa?” tanya Yuna.
Entah kenapa, tetapi sekarang aku berani melakukannya. “Ikut aku!” sahutku, dan kali ini aku yang menggenggam tangan Yuna.
⠀
Di hadapan kami terdapat sebuah podium besar. Di puncaknya, tampak sebuah layar touch screen yang menampilkan gambar animasi sepasang anak yang sedang memegang buku. Saat Yuna menyentuhnya, mereka perlahan lenyap dan tergantikan dengan judul Selamat Datang Di Perpustakaan Narukami. Informasi teks yang padat pun turut tampil di bawahnya, satu per satu secara halus. Tidak lama, tatapan Yuna berubah bingung.
“Eh, ini ... apa, Hiro?” tanyanya, dengan mulut sedikit menganga.
Gadis itu kemudian melirikku. Dia terlihat sedikit cemberut, seperti mengutuk ketidaktahuannya. “Ya, aku jarang pergi ke perpustakaan, sih. Tapi sejauh ini, aku sama sekali belum pernah melihat benda yang seperti ini,” gerutunya, sambil membuang muka.
Aku mendorong diriku, bersikap sebagai pemandu yang akan menerangi jalannya. “Baiklah, kalau begitu aku saja yang akan—“
“Tidak”—Yuna langsung menutupi podium itu dengan badannya, mencoba menghalangiku—“kamu juga harus ngajarin aku, Hiro,” gerutunya, sambil mengerutkan dahi.
Karena itu permintaannya, maka dengan terpaksa aku melewatkan kesempatan ini. “Baiklah, tapi bisa kamu sedikit ke ....”
“Oh, maaf, silakan.” Yuna perlahan menggeser badannya ke sebelah, dan tatapannya selalu terpaku padaku.
Aku menempelkan jariku ke panel layar tersebut, kemudian mulai menjelaskan mengenai mesin yang sedang bekerja di hadapan kami.
“Ini biasanya digunakan ketika kau ingin mencari buku yang ada di perpustakaan ini,” tuturku, sambil menunjuk kotak pencarian yang berada di tengah-tengah layar. “Di bagian ini, kamu akan mengisikan keyword buku yang kamu inginkan, dan”—Jariku menunjuk ikon lensa yang berpasangan di sebelahnya—“setelah kamu menekan tombol yang satu ini, maka sistem akan mencari buku tersebut berdasarkan keyword yang kamu masukkan tadi. Jika pencarian berhasil ditemukan, maka mereka akan menunjukkan lokasi koridor spesifik dari buku itu, mengerti?” Saat aku menatap gadis itu kembali, tatapannya kosong, seperti berada di dunia lain.
“Hmm, kau baik-baik saja, Yuna?” Aku menghadapkan telapak tanganku di depan Yuna, lalu mengangkat dan menurunkannya beberapa kali untuk menyadarkannya.
__ADS_1
Pandangan Yuna perlahan berkaca-kaca, dan aku tercengang karenanya. “Kamu baru datang ke kota ini, kan?” tanyanya, dengan suara seolah menahan tangis.
“I–iya, aku sudah bilang beberapa waktu yang lalu.”
“Itu kebohongan yang nyata, tidak mungkin sampai sejauh ini.”
“Huh?”
Tiba-tiba Yuna menempatkan kedua tangannya di bahuku, wajahnya mulai memerah, dan dia menarik napasnya kuat-kuat.
“Itu pengetahuan yang hebat, Hiro; aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan!” teriaknya, dengan tangis tersedu-sedu.
Huh? Kok aku gak ngerti, ya? tanyaku dalam hati, sambil merenungkan penjelasanku sebelumnya.
“Tentang keyword; juga dengan kotak pencarian; atau masalah koridor spesifik, kenapa kamu tidak bisa menjelaskannya dengan lebih sederhana lagi? Kamu itu—” Dia menggoyangkan tubuhku, sangat kuat—dan rasanya sebentar lagi aku akan tumbang.
“Jadi hanya karena itu?” Bahkan aku hampir tidak bisa mendengar suaraku sendiri, seolah-olah itu tenggelam karena teriakannya.
Hal unik yang juga terjadi di sini adalah tidak ada satu pun dari petugas perpustakaan yang datang, melainkan hanya terlihat beberapa pemuda yang bergerak melewati kami.
“Sepertinya ada pasangan yang sedang ribut, sangat disayangkan, ya.”
“Aku yakin hal-hal seperti itu tidak akan terjadi padamu, Kimimaru, aku yakin kau dan pacarmu pasti akan selalu harmonis hingga akhir hayat kalian.”
“Semoga kau cepat putus dengannya, Kimimaru!” Salah satu temannya berkata demikian, tetapi sorot matanya pun turut dipenuhi kedengkian.
Ocehan itu jelas dilontarkan kepada kami. Hanya aku yang menyadari itu, dan Yuna tetap sibuk dengan tangisnya, meski dia melepaskanku ( sedikit demi sedikit ). Akan tetapi, saat mereka menghilang di antara koridor yang penuh dengan rak yang berdiri kokoh, aku sadar jika orang-orang itulah yang berada di balik rak sebelumnya, tidak salah lagi.
Tidak lama Yuna berhenti menangis. Dia menyeka air matanya, dan kembali menatap layar di podium dengan pandangan terheran-heran. Aku rasa dia masih penasaran dengan mesin itu, hanya saja aku sudah memutuskan untuk tidak memberinya lebih banyak lagi.
⠀
...... Bersambung ......
__ADS_1