Our Voice

Our Voice
48. Tidak Ada Tanda


__ADS_3

Episode 48


Tidak Ada Tanda—


...💨💨💨...


...~ Hiro Sato ~...


Yuna sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berbaikan padaku. Pandangan gadis itu hanya ke depan, dan kadang menunduk saat hendak berdiam di atas eskalator mall yang membawanya turun. Bahkan aku yang berada di belakangnya pun tak kunjung diliriknya.


Apa sebegitu buruknya, kah, kesalahanku?


Aku bergumam, “Kenapa jadinya begini, sih?” Seluruh benih-benih di pikiranku bekerjasama, menyatu, berusaha mencari solusi dari salah satu permasalahan remaja yang mengekang kami, atau mungkin itu ditujukan pada diriku sendiri.


“Hei, Yuna.” Tidak bisa kutinggikan nada suaraku, khawatir itu akan membuatnya semakin marah.


Sekarang Yuna melewati pintu putar otomatis, dan kami telah berada di luar lobi utama mall. Pandanganku pun teralihkan pada meja valet dengan petugas berseragam hijau sedang bertugas di baliknya Awan di waktu petang yang seharusnya menguning dan meredup pun ternyata berganti kelabu.


Aku bisa merasakan riuh angin yang ganas berembus di sekitarnya.


“Yuna, hei, Yuna.” Berkali-kali kupanggil namanya dari balik punggungnya, hingga gadis itu perlahan berputar kembali kepadaku. Mata kami saling bertatap-tatapan, tetapi hanya sorot mata Yuna-lah yang terlalu tajam bagiku.


“Apa?” sahutnya pelan, seperti kehabisan tenaga.


“Kau marah, ya?” Aku dengan percaya dirinya mengatakan alasan dari tindakan yang dia lakukan padaku saat ini. “Karena aku meninggalkanmu terlalu lama.”


“Tidak begitu.”


“Lalu apa?”


“Kenapa ingin sebegitu tahunya?” Tangan Yuna semakin erat memegang tas belanja yang isinya telah berganti boneka beruang berukuran kecil tersebut.


Aku yakin tiket-tiket yang sudah kami kumpulkan sebelumnya telah berhasil ditukarkan, dan inilah imbalan kecil yang bisa gadis itu nikmati.


”Kau sendiri yang berkata jika tidak boleh ada rahasia di antara kita; kita ini teman, kan?” Aku membalik apa yang pernah gadis itu katakan sebelumnya.


“Kamu pun belum memberitahu alasanmu meninggalkanku tadi. Lantas”—Yuna membenarkan tudungnya yang hampir merosot—“lantas, kenapa aku harus memberitahumu alasanku?”

__ADS_1


“Aku akan katakan nanti,” tuturku dengan wajah tertunduk.


“Kalau begitu aku juga,” katanya. “Kita impas, kan?”


Iya Kujawab pernyataannya dalam hati, sambil memikirkan semua hal yang aku ketahui tentang Yuna.


Pertama, paras gadis itu tentu saja sangat cantik, manis, kulit wajahnya nyaris seputih susu, dan tidak ada kalimat lain yang cocok untuk dirinya selain sangat dekat dengan kesempurnaan.


Rambut putih Yuna agak berbeda dari rambut gadis-gadis yang pernah aku temui dalam hidupku ( meski diriku ini adalah tipikal laki-laki yang jarang sekali keluar rumah, dan sekalinya terjadi, berarti itu hanya untuk bermain dengan Keira atau membaca komik gratisan di toko buku yang terletak kurang lebih 200 Meter dari rumahku ), selalu menggunakan jaket bertudung biru, terkadang hijau, kadang merah lagi—seperti perpaduan transisi RGB di keyboard seharga langit—setiap hari berganti. Sepatu ketsnya yang menyala-nyala itu pun seolah mendukung seluruh penampilannya.


Namun, khususnya hari ini, sepertinya aku baru saja membuat dia kecewa.


Dimulai dari diriku yang tidak langsung merapikan gulungan tiket setelah kami bermain suatu permainan, kemudian tidak peka membawakan tas berisi tiket yang sudah dia rapikan dengan telaten, dan diakhiri dengan pergi meninggalkannya untuk alasan yang tidak boleh gadis itu ketahui sementara waktu. Selain mendapat pelajaran berharga dari apa yang telah kulihat di atas sana, ternyata aku juga mendapat tambahannya lagi secara langsung dari tingkah sembronoku sendiri.


Ternyata, sosok nyaris sempurna yang aku lihat darinya pun itu tidak seperti demikian. Setelah lebih sering bersama dengan Yuna, dia itu adalah gadis yang sensitif. Mungkin ini juga adalah salah satu maksud dari kalimat yang pernah dia katakan waktu kami berada di lift gedung pencakar langit tersebut.


Aku Yuna, dan kamu adalah teman pertamaku sampai saat ini dan Ini kenyataannya. Karena aku memang tidak boleh berteman dengan sembarang orang.


Apa ini artinya dia memercayaiku; menganggapku bisa tahan dengan sifatnya yang kurang bersahabat tersebut, atau jika dengan berteman dengan orang yang bahkan belum memiliki pengalaman hidup berat sepertiku ini akan cocok baginya.


Tidak logis, tetapi aku masih memiliki anggapan bahwa kemungkinan besar ini benar. Toh, dia juga yang memilih untuk berteman denganku; teman pertamanya seperti yang pernah dia katakan.


Mungkin dia berpikir aku tidak tahu. Padahal, meski diriku terlihat acuh tidak acuh saat bertanya sesuatu yang nyata-nyatanya terlihat intens baginya, tetapi tetap saja kubaluri setiap percakapan yang telah terjadi itu dengan gelak tawa.


Aku sangat ingin tahu itu, jika dia menyadarinya.


...💨💨💨...



Di dalam bus yang akan membawa kami kembali ke restoran, kami duduk bersebelahan. Namun, jarak pandang kami terkesan sangat berlawanan, seperti menandai permusuhan di balik selimut yang tebal. Hening tak bersuara, hanya suara ocehan orang-orang yang tengah sibuk bergosip bergema dari belakang bangkuku yang terasa kasar.


Mungkin, aku sudah terbiasa dengan dudukan nyaman bus yang pertama kali membawaku ke Kota Satsumi ini, tak terelakkan.


“Sebenarnya ....” Ini adalah sepatah kata yang ingin kudengar; suara Yuna kembali lembut.


“Kenapa?” Kualihkan pandanganku dari balik kaca bus, kemudian menatapnya dengan harapan gadis itu mau menjelaskan masalahnya.

__ADS_1


“... aku sama sekali tidak marah kepadamu.” Yuna melirik ke bawah, menatap boneka beruangnya yang berbulu lebat.


“Apa ada masalah?”


“Ada.”


“Berhubungan denganku?”


“Tidak.”


“Lalu?” Aku membenarkan caraku duduk tanpa berdiri, lalu kembali memandang Yuna.



Yuna menarik napasnya perlahan-lahan, kemudian sebelum dia menuturkan kalimatnya, pengeras suara yang hinggap di atap bus—tepat di belakang kursi sopir—pun berbunyi.


”Selamat sore, terima kasih karena sebelumnya sudah bersedia naik menggunakan moda transportasi kami. Untuk itu, dimohon untuk tidak panik mengenai fenomena angin kencang yang berada di luar. Saat ini, Kepala Koordinator Badan Meteorologi Kota Satsumi, Tsubasa Minamoto baru saja memastikan jika ada badai tornado yang sedang berlangsung di sisi selatan kota. Oleh karenanya, diharapkan untuk seluruh penumpang yang berada di luar area jangkauan agar tetap tenang dan sesegera mungkin ke rumah masing-masing. Kami ulangi, diharapkan untuk seluruh penumpang yang berada di luar area jangkauan agar tetap tenang dan sesegera mungkin kembali ke rumah masing-masing. Terima kasih atas perhatiannya.”


Itu bukanlah rekaman.


Suara itu diucapkan secara langsung oleh seorang petugas wanita, dan tampaknya ia juga terlihat panik dengan peristiwa ini, tetapi masih bersikap profesional.


“Dia mendahuluiku.” Yuna tersenyum tipis, seperti sudah mengetahui kejadian yang akan berlangsung sebelumnya.


Wajar saja, sih. Dia, kan, yang mengendalikan angin.


“Kau sudah mengetahuinya, ya?”


Yuna menepis debu yang hinggap di sebelah bahunya yang juga menempel di bahuku. Entah kenapa aku juga merasa seperti ditepis olehnya.


“Ini salah mereka,” gumamnya sambil melihat sekeliling.


“Salah mereka?”


Aku larut dalam pembicaraan kami.


...💨💨💨...

__ADS_1


...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...


__ADS_2