Our Voice

Our Voice
45. Aku Yakin Itu Terjadi


__ADS_3

Episode 45


Aku Yakin Itu Terjadi—


...💨💨💨...


...~ Yuna Aoki ~...


“Aku juga mau, dong, dibantuin,” pinta dengan memelas Raku setelah melihat kemenangan kami yang manis.


“Ayo ke sini.” Miro memintanya untuk mendekat.


Sepertinya pertemanan mereka kali ini semakin berangsur baik. Aku sangat senang melihatnya.


“Begini, lihat aku, ya.” Anak berkacamata itu memutar-mutar sebelah tangannya, seperti hendak menyusun kata-kata agar ia bisa menjelaskan cara menggerakkan capit itu dengan baik pada temannya.


Aku suka kepercayaan dirinya.


Saat melihat kekompakan mereka yang begitu erat, satu-satunya pemuda yang menjadi temanku selama ini kembali terpikirkan olehku.


Hiro-lah, namanya.


Pertama kali aku melihatnya ketika pemuda itu berlarian tanpa arah karena dikejar seorang wanita—namanya, Kak Aina, dan sekarang aku telah mengenalnya walau tidak dekat—yang berpakaian mirip seorang polisi wanita ( aku ragu jika dia benar-benar berprofesi sebagai polisi ).


Aku sama sekali tidak mengerti.


Apa yang sebenarnya terjadi? Atau mungkin kutukan itu rusak seperti sebuah bug sistem dalam pemrograman yang rumit? ( hanya ini yang aku tahu jika membahas dunia teknologi ) Mengapa Hiro bisa melihat angin biru itu? Pertanyaan yang belum pernah terjawab oleh siapa pun; bahkan jika aku berani menanyakannya pada seluruh orang yang hidup di muka bumi ini.


Mungkin jika memang kenyataannya begitu, aku bisa menerimanya dengan leluasa.


Sejauh ini, pemuda itu juga menyimpan rahasiaku erat-erat. Sama sekali tidak ada yang dia katakan mengenai hal-hal yang aku pinta padanya untuk dirahasiakan ketika kami sedang berkumpul bersama.


Itulah yang membuatku menerima Hiro, masih aneh rasanya.


Padahal selama ini aku tidak berniat untuk berteman dengan siapa pun. Kak Aina, Kak Ryuji, dan Kak Suzuki yang terlihat kurus kering dan berbehel juga bagiku hanyalah samar-samar. Mereka masih terlihat kurang meyakinkan.


Bukannya aku tidak ingin melakukan apa yang orang-orang biasanya lakukan seperti berteman di awal tahun sekolah, tertawa sembari makan bersama di sebuah kafe, atau bermain mahjong yang katanya cukup menyenangkan.


Aku hanya tidak mau kejadian itu kembali terulang, sesuatu yang tidak ingin pernah kubahas lagi. Bahkan jika bisa, aku ingin mengubur semua kenangan kelam itu dalam-dalam di inti bumi selamanya.


Sadar tak sadar, Raku menarik-narik lengan jaketku.


“Kak, kak!”


Aku mengalihkan pandanganku padanya dan berkata, “Ya?”


“Kami berdua berhasil mendapatkannya!”


Sekarang Raku dan Miro sama-sama memiliki boneka yang mereka sukai, dan keduanya sudah berusaha dengan keras mencapitnya dari mesin Minnie tersebut.


Semangat yang bagus untuk usia yang belum menyentuh senja.


“Boleh kami main lagi?” pinta Miro padaku. Lagi pula siapa yang melarang mereka untuk bermain? Anak berkacamata yang pernah sombong ini terkadang memang sangat lucu.


“Silakan,” tuturku lirih.


“Asyik, ayo lagi, Raku!”


“Gas!” sahut Raku sambil meninju udara.

__ADS_1


Aku tidak bisa berhenti tersenyum.


Sesuatu terbayang di benakku. Apa aku bisa berteman dengan Hiro sampai sejauh ini?


Mungkin, jika bisa, aku ingin lebih dari itu.


Walaupun ada banyak rentetan masalah yang sedang kuhadapi, tetapi aku sama sekali tidak memberitahukannya pada Hiro. Malahan, pemuda itu yang seringkali menuturkan kompleksitas dari hidup yang sedang dia jalani saat ini. Memang cukup berat, mendengarnya saja sudah cukup untuk membuat dadaku terasa sesak.


Namun, belakangan ini ada sesuatu yang berubah pada diriku. Mungkin, ini juga karena dirinya.


Aku tidak terlalu yakin, tetapi buktinya memang sangat kuat.


Terkadang duduk bersama dengan Hiro membuat diriku merasa lebih lega, berdekatan dengannya pun sama sekali tidak menimbulkan risih seperti gadis-gadis pada umumnya. Sungguh, aku sama sekali tidak memikirkan cinta, tetapi itulah yang sedang kurasakan saat ini.


Tidak ada perasaan yang begitu melekat untuk bersanding dengannya, atau mengulur waktu lebih lama lagi. Hiro hanyalah teman terbaik bagiku di sisa-sisa hidup yang masih perlu kujalani, hingga waktunya tiba.


“Kok jadi sulit, sih, mainnya,” protes Raku pada Miro sambil menggedor-gedor pelan kaca mesin Minnie menggunakan tinjunya.


“Sabarlah, Raku, kita hanya perlu bersabar; sama seperti tadi.”


Waktu Hiro menolongku dari seorang pencuri tas, tubuhnya benar-benar sudah ripuh setelah dihajar di bagian wajahnya, dan aku tahu jika dia sudah kesulitan untuk berdiri kala itu.


Namun, Hiro mencoba bangkit dan menunjukkan tekadnya untuk menyelamatkan kami. Kerja kerasnya pun lantas membuahkan hasil. Pemuda itu lagi-lagi berhasil melakukan perlawanan, sampai-sampai pencuri tersebut putus asa dan mengeluarkan senjatanya—pisau lipat—yang sangat berbahaya bila dilawan dengan tangan kosong.


Aku sangat jarang menangis, bahkan saat kematian nenek pun tiba aku masih bisa menahannya dengan leluasa. Apa itu pertanda jika hatiku beku, kosong, dan hampa? Tidak yakin, tetapi jika orang-orang memang menyetujuinya, maka aku pasti akan mengangguk.


Akan tetapi, saat pencuri itu hampir menikam Hiro, entah kenapa air mataku mengalir dengan deras. Karena sudah tidak tahan lagi dengan apa yang kulihat, maka aku menggosok mataku, lalu memejamkan mata, dan tiba-tiba saja diriku bisa menggunakan kemampuan gadis pengendali angin yang katanya bisa menidurkan orang dari buku cerita yang pernah kubaca di perpustakaan kota.


Ternyata itu bukan mitos belaka, hal demikian benar-benar nyata.


Meski setelah itu aku pingsan, tetapi aku bersyukur karena Hiro turut selamat dari kejadian tersebut.


“Gilaa!” pekik Raku, dan itu seketika kembali menyadarkanku.


“Akhirnya dia berhasil mencapit boneka itu sendiri, Kak.” Miro membenarkan fakta itu dengan mengangkat jempolnya.


Keduanya pun terlihat melakukan high five dengan penuh semangat.


Kulebarkan senyumku, lalu mengelus-elus kepala mereka seraya berkata, “Selamat, ya. Kalian berhasil lagi.”


Mereka hanya mengangguk, kemudian sesuatu yang tidak kusangka-sangka terjadi.


Raku dan Miro memelukku tanpa kusadari. Ini gawat, pikirku.


“Kak, apa Kakak sakit?” Si kacamata mulai mengemukakan pendapatnya.


“Eh, kok bertanya seperti itu?”


“Soalnya Kakak dingin sekali, sih.” Miro mendongak padaku dengan wajah cemas.


“Ya, kenapa Kakak main ke sini kalau lagi tidak sehat?” timpa Raku dengan ekspresi yang tidak jauh berbeda.


Yang aku tahu, berbohong pada anak-anak seusia mereka pastinya akan sangat mudah, seperti menendang bola ke dalam gawang yang tak terjaga. Jadi, daripada masalahnya semakin memburuk, aku terpaksa harus melakukannya lagi.


“Kakak memang sangat ingin main ke sini akhir-akhir ini. Tapi kalian lihat, kan? Kakak baik-baik saja,” tuturku sambil tergelak senyum.


Raku mulai berkomentar, “Benar juga, sih, tapi kan ....”


Perlahan, aku mendorong tubuh mereka untuk menjauhkanku, kemudian diriku berjongkok sambil berkata, “Percayalah pada Kakak, oke?” Aku sadar mengatakan itu.

__ADS_1


“Oke ....” Kedua anak itu menjawabku dengan kompak, raut wajah cemas yang terusik pun turut minggat dari mereka.


Aku memang baik-baik saja, tetapi batinku yang ternyata bermasalah sampai saat ini.


Akhir-akhir ini aku jadi selalu kepikiran, terutama dengan apa yang Kak Suzuki katakan jauh hari saat kami—aku dan Hiro—berada di dalam markas organisasi mereka ( sampai saat ini aku belum tahu namanya apa. Aneh, kan? Sama sekali tidak ada papan nama, pamflet, atau identitas apa pun yang menjelaskan hal demikian di sana)


Waktu itu, pria berbehel itu berkata jika, ”Aku tidak tahu bagaimana akhirnya, tapi kalian berdua akan menghadapi sesuatu yang besar, dan mungkin hanya kalian yang sanggup melakukannya.”


Apa yang keluar dari lisannya terdengar serius, sampai-sampai aku menanyakan perihal ini lagi kepada Hiro ketika dia mengantarku kembali ke stasiun. Pemuda itu mengatakan jika dirinya tidak memercayai pernyataan itu, begitu pula denganku.


Akan tetapi, semua keyakinan itu seolah luntur saat aku kembali tiba di kediamanku.


Aku berdiri di depan kontrakan berderet yang memanjang seperti motel, dan kebetulan juga aku sudah berdiri di depan kamarku sendiri ( karena manik-manik dan kriya seni yang menempel dan bergelayut di sepenjuru pintu, ini membuat latar bagian depan kamarku menjadi yang paling heboh jika dibandingkan dengan kamar-kamar penghuni lainnya ).


Kudorong gagang pintu itu hingga terbuka, kemudian aku berjalan memasuki kamar, tak lupa mengucap salam.


Tidak ada siapa pun yang menjawab. Aku tidak akan takut jika seandainya Nenek mau bersahut padaku.


Aku tidak tahu apa ini sebuah ketidakadilan atau bagaimana, tetapi hanya kamarku sajalah yang tidak memiliki air panas. Aku tidak mandi, melainkan hanya membasuh wajahku di depan cermin sambil meratapi bagaimana nasib hidupku ke depannya.


Terkadang angin segar mengisi dan berembus tenang di sepenjuru kamar mandi, tetapi tidak ada lubang yang memungkinkan untuk tekanan udara sebesar itu masuk ke dalamnya. Ya, tentu saja itu adalah angin berwarna biru yang keluar dari tubuhku sendiri.


Kutukan ini kadang tidak mau menuruti perintahku untuk tetap tenang.


Momen-momen seperti itulah yang membuat keyakinanku goyah. Aku merasa jika yang Kak Suzuki itu katakan akan benar-benar terjadi.


Semua pikiran pesimisku bermunculan satu persatu seperti: Bagaimana jika itu menjadi kenyataan? atau Kami seharusnya tidak berteman atau Tidak akan sanggup melakukannya bersama. Intinya, semua yang tebersit itu sepakat mengatakan jika aku dan Hiro akan gagal menghadapi itu, berkebalikan dengan bagian akhir dari kalimat—dan mungkin hanya kalian yang sanggup melakukannya—yang pernah Kak Suzuki katakan.


“Kalau begitu, kami pamit dulu, Kakak.” Raku mengedipkan sebelah matanya, dan tiba-tiba saja kucingnya yang bernama Richa itu nongol dari puncak tas yang anak itu kenakan di punggungnya, dengan ritsleting terbuka.


“Meoong ....” Kucing menggemaskan itu seolah menuturkan rasa terima kasihnya karena sudah mau menemani majikannya tersebut di tempat ini.


“Terima kasih, Kak.”


“Kami pergi dulu ....”


Kedua anak itu pergi meninggalkanku dengan berlari, dan gelak tawa dari mereka pun masih terdengar meski samar-samar. Pasti ini akan menjadi salah satu hari yang membahagiakan untuk masa kecil mereka, pikirku.


Sejak memikirkan kata-kata Kak Suzuki, hari-hari yang berlalu setelahnya bagiku mulai terasa berbeda.


Seringkali aku cemas, kesulitan untuk tidur, tetapi kantung mataku tidak seberat Hiro, entah kenapa. Setiap malam yang kuhabiskan sebelum tidur—selain berdoa—adalah deretan kalimat sederhana yang terngiang-ngiang di kepalaku.


Sebenarnya, masih banyak lagi hal-hal yang harus aku lakukan, dan aku tidak mau berakhir secepat ini.


Kapan kira-kira mereka akan mengetahuinya? Kapan rahasiaku akan terbongkar? Berapa lama lagi aku harus mengenakan jaket agar tidak ada satu pun orang di sana yang mungkin saja datang ke kota ini dan menyadariku? Benar-benar sangat melelahkan.


Saat aku bilang kepada Hiro kalau aku kedinginan jika tidak memakai jaket itu juga adalah sebuah kebohongan; sama sekali tidak seperti demikian.


Aku juga ingin tahu bagaimana tenang nan damainya berada di dunia yang luas ini, sama seperti Hiro yang sedang mencari arti dari hidupnya.


Tidak peduli dengan apa yang akan datang di masa depan, seberapa kejinya aku akan diperlakukan nantinya dengan ujian itu, atau siapa pun orang yang akan memulainya; aku tetap membulatkan tekad untuk melindungi pemuda itu.


Namun, siapa yang nantinya akan melindungikuku?


Rasanya tak pernah terpikirkan olehku, dan sepertinya itu seolah-olah mengkhianati diriku sendiri karena lebih mencemaskan orang lain.


Nantinya, apabila hari keputusasaanku benar-benar datang, kali ini saja, aku berharap ada seseorang yang mau menyelamatkanku.


Karena jika tidak, aku sendiri tidak akan sanggup melawannya.

__ADS_1


...💨💨💨...


...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...


__ADS_2