
Bab 38
Balap Mobil Panas—
...*****...
...~ Hiro Sato ~...
Dengan wujud keterpaksaan aku kembali merespons anak pecinta persia itu.
"Ya, ada apa lagi?" tanyaku malas.
"Bisa tolong bantu aku lagi, Kak?"
Nih anak benar-benar menggangguku, sih, ya, tapi ... tidak ada salahnya kalau dia mau minta bantuanku lagi, pikirku. "Ya, tentang apa?"
Dengan jari mungilnya, anak itu menunjuk seorang anak lainnya yang sedang bermain mesin gim balap mobil yang berada di antara permainan basket dan sekumpulan monitor yang berwarna-warni ( jujur, aku sama sekali tidak mengerti dengan mesin yang satu ini ).
"Di sana ada temanku, Kakak pasti lihat, bukan?"
"Iya, jelas." Aku melihat seorang anak—kira-kira sepantar dengannya—sedang duduk di jok mobil tiruan yang bagian belakangnya menyala warna merah, dan kemudian kuning, lalu hijau. Itu berganti setiap detik dengan halus seperti lampu lalu lintas.
"Eh, kenapa? Apa kalian ada masalah?" Yuna tiba-tiba menyelak pembicaraan kami. Gadis itu mendekat dan berjongkok pada anak tersebut, lalu menyugar rambutnya dengan tangan.
"Akhir-akhir ini dia berubah sombong," terangnya.
"Sombong kenapa?" Perhatian yang lembut kembali dilontarkan Yuna.
"Sejak satu bulan ini, kami sudah bermain di sini sebanyak empat kali."
"Lalu?" timpaku.
"Karena dari semua kunjungan kami ke sini, aku belum pernah bisa mengalahkannya"—Anak tersebut tiba-tiba merengek—"Sekarang akhirnya dia jadi sombong begitu, Kakak, huaa ...." Tangisnya semakin kencang. Entah harus berapa kali orang-orang di tempat ini kembali memerhatikan kami karena sesuatu yang tidak terlalu penting.
Yuna menepuk-nepuk kepala anak itu dengan tenang seraya berkata, "Cup, cup, cup, jangan menangis, itu hanyalah permainan, kan. Jadi jangan terlalu dipermasalahkan."
"Iya, tapi sekarang sifatnya jadi ikut berubah. Padahal sebelumnya dia tidak seperti itu." Anak itu tampak meluangkan protesnya kepada kami yang notabenenya tidak tahu apa-apa.
"Benarkah?" Yuna kembali bertanya.
"Benar."
"Kalau begitu aku akan melakukan sesuatu."
__ADS_1
"Huh?" Aku dan anak itu sama-sama terkejut setelah melihat Yuna yang seketika menegakkan badannya kembali.
"Eh, kau mau apa, Yuna?" tanyaku.
"Pergi dan menghabisinya." Yuna mengedipkan sebelah matanya padaku, kemudian berganti pada anak itu.
Menghabisinya? Apa maksudnya? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Yuna tersenyum sinis sambil mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. "Aku akan mengalahkan temanmu itu demi kamu."
"Huh?" Anak itu mendelik, walau satu atau dua tetes air mata itu masih berkeliaran di sekitar pipinya. "Maksudnya, Kakak mau mengalahkannya?" tanyanya, dengan suara tinggi.
Tiba-tiba Yuna mengalihkan pandangannya pada mesin gim yang berjudul Whack A Mole tepat di seberang kami. Aku merasa dia tidak tertarik dengan konsep permainannya, tetapi sepertinya, palu besar karet itulah yang sedang dia lirik saat ini.
"Ya, Kakak akan mengalahkannya!" Yuna kembali melirik anak itu dan menepuk sekali kepalanya. "Doakan Kakak ya," tambah gadis itu.
Sepertinya, berlama-lama di dalam gelanggang permainan ini akan jadi lebih seru.
⠀
"Hei, mau bermain denganku?" Suara Yuna nyaris melampaui orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, atau jauh lagi di atasnya.
"Apa?" Anak berkacamata yang sedang memegang setir mirip pembalap itu mengalihkan pandangannya terhadap Yuna. Di sini aku bisa melihat jika teman si anak itulah yang duluan terpicu.
"Ya, begitu. Apa Kakak ada masalah denganku?" Respons anak itu begitu arogan. "Hei, ayo sini main lagi denganku, Raku. Aku masih belum bersenang-senang denganmu." Tatapannya beralih pada sesosok anak yang baru saja mengadu pada kami.
"Ah, anu, aku ...." Anak pecinta persia itu beranjak gugup. Tidak lama ia melangkah mundur dan berdiri di belakangku. "Semangat, Kakak," gumamnya.
"Eh?" Aku terkejut. Dia sedang memberi semangat untuk siapa?
Yuna pun duduk di mesin gim balap yang berada di sebelah anak sombong tersebut. "Lawanmu kali ini adalah aku, jadi mohon bantuannya, ya." Jadi begitu. Ternyata sorak pelan anak tersebut ditujukan kepadanya.
"Apa kau yakin, Kak? Meski usia Kakak lebih tua dariku, tapi Raku dan orang-orang di sini selalu kalah saat berhadapan denganku."
"—Itu benar." Anak yang bersembunyi di belakangku kembali bergumam, sambil mencengkeram erat celanaku.
"Benar apanya, sih?" tanyaku penasaran.
"Walau dia baru bermain di tempat ini satu bulan ...." Anak itu mengayunkan telapak tangannya beberapa kali ke bawah, seolah-olah memintaku untuk membungkuk.
"Kenapa?"
"... sejauh ini, belum pernah ada seorang pun yang mengalahkannya."
__ADS_1
Setelah mendengar itu, aku tertawa kecil sambil berkata, "Apa kau yakin hasilnya akan sama lagi?"
"Sepertinya begitu," bisiknya di telingaku. Aku bisa merasakan hawa-hawa pesimisme darinya.
"Baiklah, ayo kita lihat bersama." Walau aku tidak turut bergabung dalam persaingan ini, tetapi aku percaya jika Yuna pasti bisa memenangkannya.
Kembali lagi pada gadis itu. Setelah dia memasukkan koinnya ke dalam lubang koin, tulisan aneh seperti Welcome To The Game pun tampak terlihat di layar kaca.
Sekarang Yuna memegang kendali setir tiruannya dengan erat, kemudian dengan senyum menyeringai, dia menatap anak berkacamata tersebut.
"Yakin seratus persen, kok, aku pasti bisa menyaingimu. Jadi, tanpa basa-basi lagi, ayo kita mulai!"
⠀
Anak sombong itu mulai berkata, "Ka–kau hebat juga ya, Kakak, belajar dari mana kau?" sambil menatap layar berisikan grafis puluhan mobil balap yang saling menyelak satu sama lain. Aku kira mobilnya pasti yang warna ungu itu, pikirku.
Meski itu adalah intimidasi, tetapi Yuna kembali tersenyum manis padanya. "Terima kasih atas pujiannya." Bahkan saat dia mengabaikan balapan virtual yang ada di hadapannya, gadis itu tetap bisa membuat manuver-manuver keren kala dirinya menyelip satu demi satu mobil balap yang kerap menghalangi.
Sekali lagi, ini bukan balapan dengan kondisi multiplayer seperti mesin gim dansa yang kami mainkan sebelumnya. Jadi anak sombong dan Yuna memainkan permainannya sendiri dengan kategori ronde, tempat, level, serta tingkat kesulitan yang sama.
"Woah ...." Anak di belakangku tiba-tiba bergeser ke sebelahku. "... teman Kakak keren sekali."
"Jangan senang dulu!" sahutku sambil menepuk bahu anak itu. "Permainannya belum selesai, kan, sobat."
"Aku yakin teman Kakak pasti lebih unggul dari Miro." Anak itu mengepalkan tangannya dengan keras.
"Aku juga begitu." Setelah mengulas senyum, pandanganku kembali berpihak pada Yuna.
Kali ini dia sedang asyik menarik dan mendorong persneling mobil itu dengan cekatan, dan sama sekali tidak ada rupa lelah yang terlukis di wajahnya. Kali ini gadis itu malah semakin bersemangat.
Dari sini aku bisa mengambil pelajaran dari keterangan yang disampaikan anak tersebut.
Dalam suatu pertemanan, bermain gim bersama untuk mendapatkan kesenangan adalah hal yang bagus, bahkan tidak ada seorang pun yang berani melarangnya, kecuali untuk beberapa orang tua over protective di luar sana yang terlalu khawatir dengan masa depan anaknya ( sebenarnya aku juga sedang menyinggung diriku sendiri ).
Namun, jika dalam persaingan itu sudah muncul sifat sombong dan semacamnya, jelas itu akan memperburuk situasi, serta membuat pertemanan yang telah terjalin lama menjadi tidak kondusif. Bisa dibayangkan jika hanya karena mesin permainan yang sudah diprogram dengan baik saja bisa membuat kepribadian seseorang berubah, dan itu berkemungkinan besar berpengaruh pada lingkungan di sekitarnya, seperti keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekatnya. Sebagai contoh yang nyata, anak ini adalah korban dari kesombongan tersebut.
Baiklah, dari pelajaran kecil ini, hal demikian tidak boleh terjadi kepadaku dan Yuna—kami akan terus bermain tanpa membawa perasaan sombong itu melekat di hati kami.
...*****...
...... Bersambung ......
...Our Voice © 1 St Original Works...
__ADS_1