Our Voice

Our Voice
8. Pertama Kali Menjadi Pahlawan


__ADS_3

...Bab 8...


...—Pertama Kali Menjadi Pahlawan—...


...( Hiro Sato )...


...———...


Aku meresponnya dengan anggukan, kemudian mendongak untuk mendapatkan perhatian langit.


Awan-awan melintas dengan arus tenang, seperti berusaha mendekati sesuatu. Di puncak langit dengan biru yang membentang luas, terdapat pantulan sinar mentari yang berkelap-kelip, menandakan pagi hari telah dimulai.


Aku harap pemandangan yang tenang seperti ini tidak akan lenyap.


“Asal kau tahu, aku sudah berpengalaman menjalaninya," kata Pak Fujima sambil kembali tersenyum. "Apa lagi ini sudah genap sepuluh tahun sejak kami membangun restoran itu." Kemudian tangannya hendak merenggut sesuatu dari balik kemeja merah itu, tetapi pria itu mengurungkannya.


Tiba-tiba aku teringat masalah ramen itu.


"Se–sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepada anda," ujarku.


"Silakan saja." Dia mengizinkannya.


"Ah, itu ...." Hanya saja sesuatu memaksa lisanku untuk berhenti. "Tidak apa-apa, aku hanya kagum dengan anda."


Pak Fujima terdiam sejenak, lalu dia kembali berkata, "Sebelumnya aku ingin bertanya." sambil memutar sebelah tangannya, seperti melakukan peregangan. “Apa kau pendatang baru? Tas yang kau bawa itu kelihatannya sangat berat.”


“Itu benar. Aku baru saja datang ke kota ini kemarin,” sahutku.


“Sudah kuduga.”


“Eh, kenapa?”


Pak Fujima menempelkan telunjuknya di bawah dagu, seolah-olah sedang berpikir. “Tidak. Aku hanya mengira ... hmm, kira-kira ... kau seperti anak berumur enam belas tahun.”


“Ba–bagaimana anda bisa—“ Perkataannya membuatku terkejut, setelah melihat analisa singkatnya yang begitu akurat.


Pria itu meletakkan tangannya di sebelah bahuku. “Aku siap sedia di restoran itu jika kau punya sesuatu yang sulit untuk diatasi.” Entah bagaimana, tetapi aku seperti bisa merasakan kerja kerasnya, seperti tersalurkan. "Datanglah kapan pun ke sana, oke?"


Tawarannya sangat menarik. Namun, apa itu akan menjadi baik? Apa dia menawarkan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan? Tidak terlalu tahu akan itu, tetapi dilihat dari gerak-geriknya pun tampak begitu.




Perjanjianku dengan gadis itu adalah jam dua belas siang. Tepatnya setelah jam makan siang, di sebuah bangunan di distrik lain kota ini.


Selain itu, dua puluh menit yang terjadi di antara aku dan Pak Fujima sebelumnya sangatlah ringan.

__ADS_1


Nama taman itu adalah SatsuPark. Tulisan di plangnya dicetak dengan huruf besar berlapis tinta emas, tepat di sebelah titik masuk tanpa pintu gerbang. Bagian di sekitar taman juga dikelilingi oleh dinding tinggi, yang membuat tempat tersebut tampak seperti alam mandiri.


Sejauh ini tidak ada antrian. Aku keluar dari taman bersama dengan Pak Fujima, lalu kami berpisah dengan arah yang berlawanan, dansaling melambaikan tangan.


"Pagi ini cukup segar untuk dinikmati." Aku berhenti untuk menunggu lampu penyeberangan yang berubah hijau.


Saat warna lampu itu berganti, aku bergumam, "Akhirnya." sambil melewati jalan yang sepi akan kendaraan.


Di seberang jalan sana, tanpa sengaja pandanganku teralihkan pada seorang anak yang histeris sambil mendongak.


“Siapa pun, tolong,” pekiknya. Tangis anak itu hampir tidak jauh berbeda dari air terjun.


Aku berjongkok di hadapan anak itu. “Sedang kesulitan? Ada yang bisa kubantu?”  Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah aku menawarkan bantuan pada sesama manusia.


Jeritan anak itu semakin kencang. Aku lantas menutup telingaku dengan kedua tangan. “... di sana, Kakak ....” Anak kecil itu menunjuk ke arah atas dengan telunjuknya yang gemetar.


Saat aku ikut mendongak, di atas pohon besar dengan ranting pohon yang merambat pada dua ruko yang saling berhimpitan, terdapat seekor kucing berbulu lebat. Wajahnya bulat sempurna dengan moncong yang pendek, lebih seperti ras persia.


“Dia naik ke atas tanpa seizinku!” Anak itu mengucek matanya beberapa kali.


"Serahkan padaku," kataku.


Baiklah. Ini akan menjadi aksi pahlawan yang akan memainkan perannya dengan baik, atau minimal aku bisa menyamai mereka. Sekarang kutarik menarik napas pelan-pelan, mempersiapkan langkah awal, dan perlahan memanjat batang pohon tersebut.


“Ya, aku ....” Berada di ketinggian ini perlahan membuatku pusing. Untuk sesaat, suaraku berubah serak karena cemas melihat ke bawah. “... ham–pir ....” Meski ranting pohon itu kerap menghalangi, tetapi setelah berjuang cukup keras, akhirnya aku bisa mendapatkan ekor persia itu. Ia kemudian mengeong dengan lembut, seolah bersyukur karena ditolong dan hendak mengucapkan, "Terima kasih."


Selanjutnya, kami turun bersama.


“Sepertinya kucing ini sangat berarti untukmu, ya?” tanyaku sambil mengelus persia tersebut.


"Benar, Kakak!" seru anak itu dengan gembira.


Tidak lama persia itu melompat dari genggamanku, kembali menuju pemiliknya. Di samping itu, ia meninggalkan bekas cakaran kecil di telapak tanganku, tetapi itu tidak akan jadi masalah.


"Terima kasih, Kakak." Anak itu bergantian mengelus persianya, hingga suara dengkuran kucing itu pun mulai terdengar. "Terima kasih karena sudah menyelamatkan Richa, sekali lagi, terima kasih."


Kebahagiaan yang terlukis di wajah anak itu turut membuat rasa lelahku lenyap. Mungkin itu salah satu hal yang terjadi ketika seseorang telah berbuat kebaikan. Tidak akan ada kekecewaan yang akan datang dari padanya.




Satu-satunya hal yang menemaniku sejak berjalan tadi adalah terik matahari.


Sekarang aku sedang melewati kafe dua lantai dengan ruang terbuka di bagian berandanya, dan meja payung dengan kursi lipat yang kosong seolah-olah memberitahu jika masyarakat saat ini sedang bekerja keras.


Di lain tempat, aku melewati sebuah toko elektronik dengan kanopi kain merah yang menutupi bagian depannya. Sementara itu, di balik kaca yang berembun tampak sebuah siaran pada salah satu televisi dengan tajuk utama yang bertuliskan: Tekanan Udara Aneh di Kota Satsumi Di sisi bawah reporter wanita tersebut.

__ADS_1


Tekanan udara? gumamku dalam hati.


Karena rasa penasaran itu kembali kambuh, aku memutuskan untuk masuk ke dalamnya dan bersikap seperti seorang pelanggan.




“Kepala Koordinator Badan Meteorologi Kota Satsumi, Tsubasa Minamoto baru saja menjelaskan lewat pesan singkatnya. Berdasarkan pantauan citra radar dan objek satelit yang intens, peristiwa mengenai arus udara aneh saat ini baru saja terdeteksi di Kota Satsumi. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan jangan panik jika merasakan suhu dan tekanan udara yang berubah secara signifikan di sekitarnya, terima kasih.”


Aku menjatuhkan mataku ke bawah, sepertinya pemikiran lain mulai terhubung lewat sambungan otakku. "Tunggu, apa ini ada kaitannya gadis itu?" gumamku.


Berita ini seperti baru saja membenarkan peristiwa gadis itu. "Tidak-tidak, itu pasti kebetulan saja."


“Permisi, apa anda ingin membelinya? Kami punya banyak tipe menarik untuk yang satu ini.“ Seorang laki-laki baru saja berbicara denganku.


Dilihat dari kemeja biru dengan logo perusahaan yang menempel di sakunya, dan jika diperhatikan lebih lanjut, ia pasti salah satu karyawan toko ini.


Wajahku pun luntur dengan keringat karena panik.


“Tidak, aku mau pergi sekarang; terima kasih!” sahutku, kemudian aku berlari keluar dari toko tersebut.




Rasanya hampir terkesan siang.


Di tengah perempatan jalan, aku bisa melihat arus kepadatan telah berubah secara drastis, berbeda dengan situasi pagi sebelumnya.


Beberapa titik kepadatan yang mencolok menampakkan sekelompok pekerja bangunan yang berlari mendekati gedung konstruksi bertingkat, deretan taksi yang terparkir di tepi jalan, hingga gerobak es krim yang duduk serta menampakkan uap dingin saat keranjangnya dibuka.


Entah kenapa, tetapi kali ini pilihanku adalah mendekati wanita dengan topi model corong es krim tersebut.


“Hmm, berapa harganya?” Walau sedikit gugup, aku menunjuk keranjang es krim tersebut.


“Anda mau?” Penjual es krim itu sangat energik. Ia mengaduk adonan es krim dalam keranjang tersebut dengan sendok berukuran besar, lalu mengangkat serta meletakkannya di atas corong cokelat muda.


“Es krim ini gratis untuk anda,” ucapnya lirih sambil menyunggingkan senyum.


“Huh?”


Saat aku sudah bersiap mengorbankan sesuatu yang harus dikeluarkan untuk membayarnya, ia mengulurkan es krim tersebut secara cuma-cuma.


Apa ini yang disebut dengan keberuntungan?


...———...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2