Our Voice

Our Voice
25. Kami Akan Membayarnya


__ADS_3

...Diperankan Oleh...


...Hiro Sato...


...* * *...


...⠀...


“Ya ampun, sepertinya ini tidak akan ada habisnya.” Yuna menopang kepalanya dengan tangan, melirikku dengan wajah kusam.


“Aku hanya ingin tahu,” desakku.


“Terserah kamu”—Yuna memasukkan tangannya ke dalam saku —“aku ingin bermain itu, ayo pergi!”


“Huh, kau ini ....” Saat aku kembali berjalan, pandanganku dikejutkan oleh sesuatu yang mencekam.


Di depan perempatan jalan, tepat di seberangnya, terdapat seorang pencuri yang merampas tas belanja seorang Nenek. Wanita tua itu histeris dan berjerit, berusaha meminta bantuan kepada siapa saja yang lewat. Akan tetapi, seharusnya ia tahu jika dunia ini sangat kejam, bahkan tidak ada satu pun dari penduduk kota yang bersimpati kepadanya. Mungkin mereka menganggap Nenek itu seperti kerikil yang hinggap di tepi jalan, dan karena itu pula, maka aku yang akan bergerak.


“Yuna, cepat!” seruku.


“Eh, apa?” Sejak tadi Yuna menduduk, dan itulah alasan kenapa dia tidak melihat kejadiannya.


“Ayo tolong Nenek itu!”


Gadis itu tidak menjawab, tetapi dia refleks berlari mengikutiku. Kami menyeberangi jalan, napasku terengah-engah, berusaha mengaturnya kembali agar tetap stabil. Tidak butuh waktu lama, kami lantas tiba di sana. Wanita tua yang malang itu menatap kami dengan pandangan berkaca-kaca.


“Nak, tolong aku; kumohon kejar pencuri itu,” pintanya.


“Baiklah, Nek, serahkan padaku!” Aku mengatakan itu dengan lantang, lalu menatap Yuna. “Tolong jaga dia di sini, ya, Yuna?”


Aku kembali melakukan sprint, bergerak menuju arah pencuri tersebut sebelumnya.


“Tidak, aku akan ikut denganmu, Hiro.” Meski suaranya samar-samar, tetapi aku tahu jika dia juga mengikutiku. Agh, dasar keras kepala; bagaimana jika penjahat itu menyakitimu? gerutuku dalam hati, mencoba menimbun emosi itu dalam-dalam.


Tiba-tiba, di balik rentetan taksi yang sedang terparkir, pencuri itu terlihat berdiri di sana. Tidak butuh waktu lama, ia langsung masuk ke dalam antrian terdepan taksi tersebut, dan kemudian taksi itu bergerak maju, melintasi jalan yang padat dan berbelok. Aku kesal dengan lampu lalu lintas yang tidak berubah merah saat kejadian itu terjadi.


Sekarang aku tiba di tempat pencuri itu berdiri, diikuti Yuna dari belakang. Dia membungkuk seraya mengatur napasnya, dan aku bisa melihat beberapa helai rambutnya yang mengintip dari balik tudungnya.


“Apa yang harus kita lakukan, Hiro?” Suara gadis itu terengah-engah, masih dalam posisi yang sama.

__ADS_1


“Aku ....” Otakku berpikir keras, berharap solusi itu muncul di kepalaku. “Huh!”


Tidak ada jalan lain selain mengejar pencuri itu dengan apa yang ia naiki—setidaknya itulah yang terpikirkan olehku.


“Yuna, kau ada uang?”


“A–ada, sih”—Dia mengeluarkan dompetnya—“Tapi buat apa?”


“Baguslah!” sahutku, ternyata masih ada kesempatan untuk mengejarnya.



“Tolong cepat, nanti nenek itu akan kehilangan barang berharganya!” Yuna menggoyangkan bahu sopir taksi tersebut, dan itu mirip seperti bangunan yang hendak dirobohkan.


“Baik, Nyonya, ini sudah kecepatan terbaik saya; saya akan berusaha lebih.” Pria dengan seragam kuning itu tampaknya pasrah. Akan tetapi, sejauh ini dia sudah meningkatkan kecepatan mobilnya.


Saat melihat nomor plat taksi yang dinaiki pencuri tersebut, jiwaku seperti meledak. “Akhirnya terlihat!” Aku dan Yuna, kami berteriak bersama setelah kembali melihatnya.


Kami berada di sebuah pertigaan, dan di depannya terdapat sebuah mall besar. Taksi tersebut melintas dari bagian kanan jalan, bergerak dengan lurus melewati mobil kami. Ini yang kedua kalinya aku membenci lampu lalu lintas, sungguh.


“Ini tidak bisa,” gumamku. Rasanya tidak mungkin bisa untuk mengejar pencuri itu lagi, terlebih jika lampu-lampu yang menyebalkan ini akan—


“Apa?” kataku, seraya terkejut. “Tidak mungkin kamu bisa mengejarnya dengan berlari. Jangan bodoh, Yuna. Kalau begitu aku saja yang turun dan mengejarnya.”


Saat aku melarangnya keluar, sopir taksi itu mengintip dari sudut matanya. Aku berharap dia tidak menganggap kami, seperti, Kalian sudah naik taksi, jadi kalian pasti bayar, kan? Tidak salah lagi, kemungkinan besar itulah yang ia pikirkan.


Tidak lama, Yuna dengan cepat menjulurkan beberapa lembar yen itu kepada sang sopir, kemudian dia berkata, “Ini imbalanmu, terima kasih atas kerja kerasnya, Pak!” Saat gadis itu membuka pintunya, dia kembali melirikku, sambil mengerutkan dahinya.


“Kamu keras kepala juga, ya, Hiro.” Bersamaan dengan itu, Yuna kembali tersenyum.


...* * *...



Pencarian kali ini dipimpin oleh Yuna, dan kami berjalan memasuki salah satu gang.


“Bagaimana kamu tahu jika pencuri itu berjalan ke tempat ini, Yuna?” tanyaku ragu.


“Jangan remehkan firasat perempuan, Hiro, mereka selalu benar.” Saat aku berada di belakangnya, Yuna sama sekali tidak menoleh. Aku kira dia sedang berguyon, tetapi entah kenapa, dia mengatakan itu dengan serius.

__ADS_1


Selain itu, di sekitar kami, terdapat banyak bak sampah yang menempel di sisi-sisi tembok gedung. Itu menimbulkan bau menyengat yang serius, tetapi mengejar pencuri itu adalah prioritas kami saat ini, demi sang nenek.


“Nah, itu dia.” Yuna menghentikan langkah kakinya.


“Huh? Apa maksudmu?


Di depan kami terdapat pagar kawat yang menjulang tinggi, serta beberapa pejalan kaki dan sebuah limusin yang lewat secara berlawanan. Sekarang sudah tidak ada lagi bak sampah, hanya saja sebagai penggantinya, ada banyak kantong sampah besar yang berserakan memenuhi jalan buntu ini. Bau busuk turut semakin kuat, dan itu perlahan menyiksaku.


Yuna kemudian berbalik. Saat aku mengamatinya lebih jelas, tidak ada senyuman; tidak ada keceriaan, atau hal-hal positif. Emosi gadis itu seolah-olah akan meledak.


“Keluarlah, atau kamu akan menyesal!”


Dia sembunyi di mana? Mataku menatap segala hal yang ada di gang tersebut. Bagian atas, kiri, kanan, tetapi tidak ada satu sisi pun yang mencurigakan. Satu hal yang aku ketahui adalah Yuna sedang melakukan ultimatum terhadap pencuri tersebut, sangat jelas.


“Yea, Nona Cantik, aku akan segera keluar.” Suara itu datang dari salah satu bak sampah yang tadi kami lewati, dan juga, nadanya seolah menggoda Yuna.


“Eh, dia— jangan bilang?” Mataku melebar, setelah melihat pencuri itu benar-benar keluar dari tempat yang sama sekali tidak aku duga.


“Bagaimana kalian bisa mengikutiku? Padahal aku sudah berusaha menghindar sejak awal, bahkan harus mengorbankan uangku demi naik taksi mahal itu.” Dari gelagatnya, pencuri itu jelas meremehkan kami.


“Kamu tidak perlu mengetahuinya. Yang jelas, tolong berikan tas nenek itu lagi; dia sangat membutuhkannya.” Yuna menajamkan pandangannya.


“Sayang sekali, ya, padahal aku sudah mencoba untuk lebih ramah,” jawab pencuri itu.


Ia mengenakan kaos kasual yang sudah berlumuran noda sampah, topi cap kuning terbalik, dan sepuntung rokok dengan asap yang membumbung tinggi ke atas langit. Namun, tiba-tiba saja aku semakin benci dengannya. Orang itu menjulurkan lidahnya dengan erotis, lalu menatap sesuatu yang berada di bagian bawah Yuna. Ini sangat gawat.


Tidak lama Yuna menudingnya. “Apa yang kamu lihat?” tanyanya dengan tegas.


“Hei jangan begitu dong.” Orang itu mulai berjalan maju, senyumnya menyeringai, dan itu sangat lebar. “Kau itu cewek yang berpotensi, lho, Nona.”


Saat itu juga, kesabaranku telah melewati batasnya. Ini tidak bisa dibiarkan.


Aku maju dan berdiri di depan Yuna. “Jangan dekati dia!” seruku, sambil merentangkan kedua tangan. Padahal orang itu hanya melakukan kontak verbal dengan Yuna, tetapi kali ini aku sangat marah, jauh daripada tujuan utama kami mencarinya.


Mulai sekarang aku akan bertindak, sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.



...... Bersambung ......

__ADS_1


...Our Voice © 1 St Original Works...


__ADS_2