
...Bab 57...
...—Kematian Istriku—...
...( Aoba Fujima )...
...———...
"Aoba, kemarilah sebentar." Suara yang menenangkan itu tidak pernah membuatku menolak untuk mengikutinya.
"Ada apa, Mirai? Kau sangat bersemangat sekali."
"Lihat aku, bagaimana penampilanku di matamu kali ini."
"Wahh ...." Rasa kagum akan pesona kecantikan istriku membuatku berdebar-debar.
Mirai mengenakan bando simpul tali berwarna biru, dengan riasan yang sangat memesona tersebut juga semakin membuat wajahnya terlihat semakin cerah. Selain itu, kali ini istriku memakai sweter berpola hati, diikuti rok tiga per empatnya yang cocok dengan bagian atasnya.
"Kau sangat cantik, Mirai."
"Ah, aku jadi semakin bahagia," katanya sambil memelukku.
Istriku memang senang sekali dipuji. Namun, dia hanya mau pujian itu datangnya dariku atau kedua orang tuanya saja. Tidak lebih lagi.
"Hei, setelah kau pulang dari kantor, ayo kita jalan-jalan!" pintanya riang.
"Tapi, ya ...." Aku menatap istriku sekali lagi lekat-lekat. "... kau sepertinya sudah sangat siap, Mirai."
"Aku hanya ingin tahu pendapatmu, boleh, kan?"
Aku menyunggingkan senyum, kemudian menarik gagang pintu kayu rumah sederhana itu untuk pergi bekerja.
"Nanti kita lanjut lagi, ya," kataku, sambil melepaskan pelukannya dengan sebelah tangan.
"Semoga berhasil!" sahutnya dengan ekspresi memberi semangat seperti hari-hari yang biasa dia tunjukkan.
⠀
⠀
"Aoba, kau ...." Hikaru yang sedang memasak di sebelahku telah memulai percakapannya. Kami berada di dalam dapur restoran yang penuh dengan keringat yang bergejolak.
"Ya?"
"Daritadi, kau ...."
"Kenapa?"
"Kenapa senyum-senyum terus begitu?" tanyanya sambil memasang raut keheranan.
Setelah dia mengatakannya, barulah aku sadar kalau sejak tadi diriku memang selalu tersenyum.
__ADS_1
"Anu, apa tidak boleh?" tanyaku balik sambil menumis buncis itu dengan spatula.
"Tidak biasa saja." Hikaru pun kembali pada nampannya, kemudian membubuhkan merica sambil mencicipi makanan yang sedang dia masak menggunakan sendok kecilnya. "Baguslah jika kau selalu seperti itu. Kau pasti akan menjadi seorang bos restoran yang baik."
⠀
⠀
"Aoba, aku pulang duluan, ya. Ini sudah sore." Hikaru melambaikan tangannya padaku, kemudian bergegas menutup pintu kantor restoran.
Tidak lama, aku sadar jika kondisi restoran sudah kembali sepi setelah hiruk pikuk yang terjadi seharian ini.
"Huft, akhirnya bebas juga ...." Aku merosotkan badanku pada kursi kantor hitam dengan sandaran tinggi. "Oh, iya."
Tiba-tiba ajakan Mirai waktu pagi tadi kembali berdengung di telingaku.
Maka inilah selanjutnya yang akan kulakukan.
"Halo?"
"Aoba, itu kau? Itu kau kan!" Suara ini jelas berasal dari Nagase Fujima—Ibuku sendiri.
"Ah, Ibu ...." Aku masih terkejut, atau sedikit bingung. Sejak kapan dia pergi ke rumah kami? Tidak ada pemberitahuan lebih lanjut soal itu sebelumnya, dan panggilan ini berasal dari ponsel Mirai. "... apa yang Ibu lakukan di sana?"
"Cepatlah pulang, sekarang juga!" Suara Ibu yang serak-serak dan seolah menahan nangis itu lantas membuatku sulit untuk berpikir jernih.
"Ba–baiklah, aku segera datang," kataku sambil menutup panggilan.
Apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak?
⠀
⠀
Sebelum malam benar-benar turun meredupkan langit terang, aku berlari memelesat menuju rumahku, dengan berlari.
Kemacetan timbul di mana-mana, gemuruh angin yang kudengar di telepon sebelumnya ternyata sekarang menyebar ke mana-mana—membuat gaduh sepenjuru isi Kota Satsumi. Tidak jarang terdengar suara orang-orang yang ketakutan karena badai topan ini.
"Kenapa ini?"
"Badai angin, kita harus segera pulang."
"Gawat, nih, bisa celaka kita kalau di luar terus."
Kepanikan itu semakin tidak kondusif, masyarakat disekitarku berlarian tak teratur, bahkan mobil-mobil dan motor sempat saling bertabrakan, membuat situasi kota ini semakin kacau seiring waktu.
Sekarang aku sampai di depan pintu rumahku, lalu mendobraknya tanpa ragu. Aku hanya memikirkan dirinya dan semua tentangnya karena situasi yang terjadi saat ini.
"Mirai!" seruku dengan jantung yang meloncat-loncat.
Tiba-tiba suara Ibu bergema dari kamar tidur kami.
__ADS_1
"Cepatlah ke sini," katanya, dengan suara yang nyaris menghilang karena ditimpal oleh deru angin.
"Ada apa? Apa yang—" Aku terbelalak tidak keruan, kalimatku terputus walau aku sangat ingin mengungkapkan semua kekhawatiranku sejak berlari dari restoran sebelumnya.
Ibu hanya terdiam meratapi Mirai yang terlihat pingsan, sambil menggenggam sebelah tangannya yang sedang mengenakan gelang emas berukiran hati tersebut.
Tidak lama, gelombang angin semakin besar, memorak-porandakan semua bagian di sekitar sisi rumah kami tanpa terkecuali.
"Ibu, di mana Arumi dan Arata?" tanyaku cemas.
"Ibu sudah memindahkan mereka ke ruang bawah tanah, tenang saja, mereka baik-baik saja bersama murid istrimu."
Aku bersyukur dan setengah dari hatiku saat ini merasa lega. Namun, sebagiannya lagi sekarang semakin menimbulkan kekhawatiran yang datang bertubi-tubi, terutama setelah melihat kondisi Mirai.
Akan tetapi, tidak lama kemudian dia kembali membuka mata.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanyanya dengan suara paling pelan yang pernah kudengar.
Tidak peduli dengan apa yang dia katakan, aku pun menggenggam tangannya.
"Mirai, apa yang terjadi padamu?" Kueratkan genggaman itu untuk melepas rindu setelah seharian bekerja.
"Hei, siapa yang menyuruhmu menangis, Aoba? Jangan tunjukkan raut seperti itu di hadapanku, ya?"
Walau sudah seperti itu pun Mirai masih bisa menyunggingkan senyummya. Selain itu, aku sepertinya merasa menyesal setelah melihat pakaian yang istriku kenakan ternyata masih sama dengan setelan yang dia tunjukkan padaku pagi tadi.
Aku seharusnya mengabaikan pekerjaan ini dan berjalan bersama dengannya, tetapi ....
"Hei, sayang ...," tuturnya sambil melepas genggaman tanganku, lalu dia letakkan telapak tangannya di salah satu pipiku.
Sungguh, suhu tubuhnya sangatlah dingin, sedingin es yang membeku di benua antartika. Perhatian Mirai yang sok kuat seperti ini yang semakin membuatku menderita, padahal dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tolong bertahanlah Mirai." Aku meletakkan telapak tanganku di atas tangannya yang sedang membelai pipiku, sangat halus dan penuh dengan perasaan yang seperti biasanya dia lakukan.
"Ya, maafkan aku, Aoba. Kita jadinya batal, deh, jalan-jalan. Padahal aku sudah mempersiapkan setelan terbaik untuk kita pergi," katanya sambil menunjuk sesuatu yang berada di balik lemari di sebelah kami. "Aku sudah mempersiapkan untukmu juga, lho, omong-omong."
Kutahan isak tangisku yang hampir tidak bisa dibendung, kemudian memeluknya.
"Bertahanlah untuk lebih lama lagi, Mirai." Sekali lagi, aku mengatakannya.
Namun, dia menanggapiku dengan hal lain yang bahkan sama sekali tidak terpikirkan oleh fokus pikiranku.
"Jaga kedua anak kita, ya, dan sampaikan kalau Mamanya pasti akan menyayangi mereka selamanya."
Kata-kata itulah yang tersirat dibenakku dan tak akan pernah kulupakan.
Kata-kata itu juga yang masih membuatku bertahan hidup hingga tiga tahun yang panjang ini telah berlalu.
Aku masih memikirkan Arumi dan Arata—kedua anakku, karena Mirai telah memercayakan masa depan mereka padaku.
Satu-satunya pilihan bagiku adalah tidak mengecewakannya.
__ADS_1
...———...
...Bersambung...