
Bab 34
Jantungku Berdebar Cepat—
...*****...
...~ Hiro Sato ~...
Suasana dapur berubah dingin, seolah-olah bongkahan es telah dijatuhkan dari puncak langit. Yuna perlahan membuka tudungnya. Rambut putihnya pun mulai menjulur ke bawah, menyentuh setengah dadanya. Sekarang aku bisa mencium aroma sampo yang wangi di sekitar kami—um, tidak begitu. Aku tahu gadis itu kali ini sedang terkejut, ucapanku yang blak-blakan ini memang keluar sendiri tanpa pikir panjang.
“Huh?” Respon singkat Yuna membuatku kehilangan lebih banyak lagi kata-kata.
“Bu–bukan, maksudku, ah, gini ... saat itu, sepertinya aku harus ikut membantumu.” Seluruh tubuhku bergetar. Rasanya sulit untuk bernapas, seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam tenggorokan, tetapi sulit untuk mengeluarkan kata-kata yang membenam jauh di lubuk hati. Sekarang ini, aku masih berusaha untuk membuat alasan yang masuk akal baginya. “Aku hanya merasa kau sedang berada dalam ancaman, Yuna, jadi itulah tindakan yang bisa kuambil sebagai ....”
“Sebagai apa?”
Aku sangat malu untuk mengatakannya, tetapi—“Seorang pria.” Wajahku sontak memerah.
Tatapan Yuna sangat datar, seolah-olah menunjukkan dirinya sedang terkejut dalam diam. “... ya, itu benar, sih. Semuanya pasti akan begitu,” tuturnya. “Tapi ....” Yuna terpejam, kemudian menutup mulutnya dengan tangan. “Aku masih tidak menyangka waktu itu kamu benar-benar menolongku.” Gadis itu tertawa lebar di atas penderitaanku karena terdiam.
“Itu terdengar lucu, ya.” gumamku.
“Ya, soalnya aku mengingat apa yang dulu kamu ceritakan; tentang si pria bertato itu, lho.”
“Dan?”
Tawanya semakin bergema, dan itu mengisi keheningan yang berada di tengah-tengah dapur. “Kamu tidak bisa melakukan apa-apa, bukan? Dan ramenmu pada akhirnya dilempar olehnya.”
Walau aku tahu jika Yuna sedang bercanda, tetapi kata-katanya itu terdengar menusuk. Jadi, daripada terus memikirkan itu dan membuat perasaanku terhadapnya semakin memburuk, lebih baik aku kembali menaruh perhatianku pada hal lain.
Maksudnya, sekarang aku hendak menambahkan potongan ayam dan wortel yang sudah dibentuk dadu ke dalam sup panci tersebut. Mungkin ini akan membutuhkan waktu yang lama untuk menunggunya, pikirku.
...*****...
⠀
Suasana ruang makan restoran lahir dengan damai. Suhu udara yang lebih sejuk telah memasuki ventilasi-ventilasi yang tersedia, membuat rongga-rongga pernapasanku terasa ringan. Tubuhku yang bergetar juga sekarang bebas.
Apa bertindak seperti itu salah? pikirku dalam-dalam. Nada suaranya yang nakal saat mengatakan itu seringkali terbayang, bahkan saat kami sudah tidak berada di dapur lagi.
__ADS_1
Yuna mendekati meja, kemudian menarik kursi yang berseberangan denganku, dan duduk dengan anggun. Sekarang gadis itu tampak normal kembali.
“Kamu marah, Hiro?”
“Ti–tidak juga.”
“Yaakiin ...?” Nada bicara Yuna berubah nakal.
“Hanya sedikit.”
Setelah aku mengatakannya, Yuna meletakkan tangannya di atas bahuku. Itu terasa dingin, sejuk, dan sensasi ini bahkan tidak akan pernah bisa ditemukan di belahan dunia mana pun, kecuali bersama dengan gadis bertudung ini.
“Aku hanya bercanda, Hiro. Maafkan aku, sepertinya ... bercandaku terlalu berlebihan.” Senyum Yuna terlihat manis, seperti bunga yang mengembang, mekar, dan melukiskan kenyamanan bagi orang-orang yang melihatnya.
“Tidak perlu meminta maaf begitu,” jawabku, sambil menghela napas. “Aku sudah tahu kalau kau hanya bercanda.”
Sebenarnya, aku hanya merasa jika diriku baru saja dibodohi oleh tingkah Yuna yang berlebihan. Mungkin gadis itu memang suka berguyon, tetapi tidak tahu batasannya. Mulai sekarang aku akan terus mengingat kebiasaannya yang satu ini—tidak akan pernah kulupakan.
“Tapi, saat kamu mengatakan itu ....” Yuna merogoh sesuatu dari tas belanjaannya. Itu terletak di bawah meja, atau tepatnya, persis di sebelah kanan kursinya. “... aku sangat senang.” Gadis itu mengulurkan bungkusan kado kecil yang diikat dengan pita hitam kecil yang elegan di tengahnya.
Tunggu? Huh? Apa? tanyaku dalam hati. “Itu untuk siapa, Yuna?” Kado itu sangat tipis, dan mungkin hanya bisa dimuat oleh sebatang cokelat. Tunggu? Apa jangan-jangan itu memang sesuatu yang aku duga?
“Kenapa?”
“Ini hadiah.”
“Ya, aku tahu, maksudnya karena apa?” tanyaku, seraya terus mengumbar komplain.
Yuna mulai mengernyit. “Kamu terlalu banyak berbicara.”
“Makanya kasih tahu aku, tuan putri.”
Gadis itu tanpa ragu meletakkan kadonya di atas tanganku. Saat tangan kami saling bersentuhan, entah mengapa jantungku berdebar semakin cepat.
“Ini hadiah karena kamu sudah menyelamatkanku,” jelasnya.
Aku melongo karenanya. “Benarkah?”
Jawabannya hanya dua. Pertama gadis itu mengangguk, kemudian dia terkikik tanpa alasan yang kuketahui. Namun, semua—kejahatan—yang Yuna lakukan tadi seolah pergi begitu saja, seperti kembali membersihkan hatiku.
__ADS_1
“Coba saja kalau aku bisa lihat buku yang itu, pasti ada lebih banyak lagi kemampuan yang bisa aku gunakan.” Tiba-tiba Yuna sedikit lesu.
“Maksudmu, dari buku cerita itu?”
“Ya.”
“Memang ada lagi? Maksudku selain kemampuan melacak orang dan meniduri orang?”
“Hiro, maksud kamu menidurkan, kan?” Yuna menyipitkan matanya padaku.
Aku baru saja sadar jika konteks dari kedua kata itu memiliki perbedaan yang mencolok, dan itu membuatku ketar-ketir karena perkataanku sendiri. “Iya— maksudku begitu.”
“Aku kira kamu mesum.” Yuna menyeret kursinya ke belakang, seolah-olah takut jika dia berdekatan denganku.
“Tidak, sumpah bukan itu.” Ketika itu yang terbenak dalam dirinya, aku berusaha melakukan pembelaan. Ya, ini adalah pertaruhan harga diriku sebagai seorang pria.
Tanpa jawaban, Yuna kemudian mendongak ke atas langit-langit restoran yang dibalut dengan tirai merah. Sebelah tangannya di angkat ke atas, sambil bergumam kecil. Aku rasa dia seperti sedang mengucapkan mantra-mantra yang aneh.
“Hiro,” sahutnya.
“Apa?”
Yuna melebarkan matanya. “Di sini tidak ada siapa-siapa, kan?” Pertanyaannya seperti memberi kesan yang mendalam.
“Hanya kita berdua, kurasa.”
“Baguslah.”
Tiba-tiba saja pusaran angin kecil berwarna biru berputar di tangannya. Pusaran tersebut bergerak secara halus, kemudian melebar, dan merayap menuju langit-langit restoran. Tirai merah yang menggantung di atas sekarang mulai bergoyang dan bergemuruh secara bersamaan.
“Apa itu?” tanyaku, sambil menyipitkan mata. Angin-angin itu menyulitkan penglihatanku.
Berbeda halnya dengan Yuna. Dia terlihat sangat tenang, meski tudung jaketnya terlepas karena kibasan angin yang berputar di sekitar kami. Akan tetapi, hal yang membuatku panik adalah saat mendengar suara kaca yang pecah, dan sepertinya itu berasal dari rak piring yang ada di dapur. Semoga kali ini aku hanya salah dengar.
...*****...
...... Bersambung ......
...Our Voice © 1 St Original Works...
__ADS_1