
...Diperankan Oleh...
...Hiro Sato...
... *...
⠀
“Hiro, kamu tidak perlu—“
“Mundur, Yuna,” gumamku, sambil menoleh kepadanya.
Ketika gadis itu mundur beberapa langkah, aku kembali menghadapkan diriku pada orang jahat itu.
“Serahkan tas itu kembali kepada kami dan pergilah!” Aku berteriak untuk melenyapkan rasa takut itu, sambil mengepalkan tangan.
“Hei, hei, hei, bocah ampas, kau ketakutan, ya? Hahaha!” Dia kembali menyeringai, sementara itu langkahnya semakin dekat padaku. “Aku tidak ada urusan denganmu, jadi cepat pulang sana!”
‘Tidak, aku ... aku harus ....’ Tanganku yang mengepal mulai terasa panas, pikiranku kacau balau, dan sepertinya, udara di sekitarku semakin menipis, ini sangat sesak.
“Aku akan melawanmu,” bisikku pelan, maka itulah keputusan yang kuambil. Tidak ada lagi kejadian yang sama seperti pria bertato itu; aku tidak akan membiarkan orang seperti ini terus hidup dengan bebas.
“Huh? Ngomong apa kau, bicara yang ....” Orang itu tersenyum sinis, sedang tangan kanannya hendak mendarat di wajahku. Namun, saat itu juga, aku kembali mengingat perkataan Keira.
"Dengar, Hiro. Jika nanti ada pria jahat yang mengusikmu, yang perlu kau lakukan hanyalah menyerang ‘anunya,’ ok?" Ucapannya memang terdengar konyol, tetapi untuk sekarang, aku akan mengikutinya.
“Rasakan ini!” Aku mengangkat kakiku, berharap satu tendangan ini bisa menjatuhkannya.
Pada akhirnya dia juga berhasil memukulku; tulang pipiku sekarang bergetar hebat.
“Hiro!” Yuna menjerit, suaranya terdengar seperti ingin menangis.
Meski saat ini diriku tersungkur, tetapi aku masih bisa mengalihkan pandanganku kembali pada gadis itu, mencoba meyakinkannya jika semua akan baik-baik saja.
Bersama dengan itu, ternyata aku juga berhasil menumbangkan pria itu—dan dia mengerang kesakitan.
“Bang*sat! Kau ... kau akan menyesali ini!” Walau dengan perlahan, pria itu kembali bangkit, sambil memegang ‘alat kebanggaannya’. Sejauh yang aku lihat, sekarang ia justru terlihat semakin murka.
“Kau bermain-main dengan orang yang salah, jadi—“
__ADS_1
Secara refleks, tanganku yang sebelumnya masih terkepal berhasil memukul wajah pria itu, dan kali ini dia terpental beberapa meter ke belakang. Wajahnya mengapung di atas genangan air yang pekat, dan sekarang ia mengiggit bibirnya karena kesal.
"Huh, dia ini ...," gumamku.
Orang itu kembali berdiri. Aku tidak tahu seberapa tangguh dirinya untuk seorang pencuri yang tidak tahu diri. “Berani juga kau, ya, baiklah!” Ia menyeka mulutnya dengan tangan, dan tanpa sadar aku berhasil melukai pria tersebut.
“Sudah cukup. Tolong serahkan tas itu, aku janji tidak akan melaporkanmu ke polisi,” desakku, jantungku melompat-lompat tidak keruan.
Pria itu kemudian melempar tas yang kami inginkan, dan itu mendarat tepat di tengah dari posisi kami berdiri. Apa dia baru saja memancingku?
“Ambil jika itu yang kau inginkan,” ujarnya, sambil menyeringai.
Tidak peduli dengan risiko atau bahaya apa yang akan menimpa saat aku mendekati umpannya, aku tetap bergerak mendekati tas itu.
Pria itu terbahak-bahak, membuat perhatianku kembali tertuju padanya.
“Tunggu dulu, dia—“ Ucapanku sontak terputus.
Sudah kuduga, ia tidak akan terdiam setelah melepaskan barang yang kami inginkan.
Orang itu membuka pisau lipatnya, serta tawanya semakin memekakkan telingaku. “Kau pantas untuk mati, hahaha!” Ia lalu berlari ke arahku, dengan senjatanya yang diulurkan ke depan.
“Tamatlah riwayat—“ Saat kalimat pria itu terhenti, sesuatu yang terasa samar—dingin—menjalar di sekitar kulitku, hanya sedikit. Mataku kembali terbuka.
“Apa yang terjadi?” Aku menganga, menyaksikan lambaian angin yang telah menyelimuti wajah orang itu. Tekanan udara itu berwarna biru, persis dengan warna mata Yuna.
“Huh? Aku ....” Pria itu mulai kehilangan fokus, sering berkedip, dan menguap.
"...!" Tanpa berpanjang lebar, hal itu membuatku kembali menatap Yuna.
Ketika aku melihatnya, gadis itu sedang terpejam. Aliran angin yang tenang sedang menari-nari di sekitar dirinya.
Aku kembali pada pria itu, setelah ia kembali mengoceh. “Woi, bocah; apa yang kau lakukan padaku? Aku ngantuk sekali ....” Orang itu mengayunkan pisau lipatnya—memotong udara—secara sembarang, dan aku mengambil tindakan untuk mundur agar tidak terkena sayatannya.
Beberapa waktu yang lalu, Yuna berkata jika hanya aku yang bisa melihat bentuk sebenarnya dari udara tersebut. Selain itu, arus udara yang mengerubungi pria itu tampak semakin padat, dan wajahnya sekarang seolah-olah menghilang. Namun, tidak lama ia tumbang, serta terdengar suara dentingan pisau yang terjatuh ke aspal.
"Dia pingsan?" gumamku, pandanganku tidak lepas darinya, bahkan itu berlangsung selama sepuluh detik.
Melihat dari semua hal terjadi kali ini, pada akhirnya, aku bisa menghela lega napasku.
__ADS_1
"Tapi syukurlah jika dia sudah kalah." Sekarang, aku bisa menggenggam tas nenek itu dengan rasa bangga, tidak sabar melihat ekspresinya nanti.
“Yuna, semuanya sudah berakhir,” kataku, sambil mendatanginya. “Terima kasih atas kerja kerasmu.” Mata gadis itu masih terpejam, tetapi aliran angin yang mengelilinginya tadi telah kembali menghilang.
Tidak lama setelah aku melebarkan senyumku, gadis itu tiba-tiba kehilangan keseimbangannya—dia akan tersungkur ke tanah.
Rasa panik menghantuiku; aku menjatuhkan tas Nenek itu dan berlari untuk menangkapnya.
Sebelum dia jatuh, aku berhasil mendekapnya. "Yuna, bangun, Yuna! Jangan bercanda!" seruku, sambil menggoyangkan bahu gadis itu, berharap kesadarannya kembali.
Tunggu sebentar, ini tidak seperti biasanya, pikirku, pasalnya, tubuh Yuna tidak dingin, melainkan sangat panas. Kekhawatiranku sekarang meledak, dan aku sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini.
"Hiro?" Seseorang berteriak kepadaku dari belakang, sepertinya ia berada di depan pintu gang.
Aku menoleh, dan orang itu seperti memberiku ruang untuk tetap tenang.
"Kak Ryuji!" Saat suaraku mulai terdengar serak, dia sontak berlari untuk mendekati kami, keceriaannya pun turut lenyap untuk beberapa saat.
... *...
⠀
"Nek, maaf karena sudah membuatmu lama menunggu." Aku mengulurkan tasku kepada wanita tua itu, dengan menyunggingkan senyumku yang tersisa hari ini.
"Terima kasih, Nak, Nenek sangat senang karena kalian sudah menolongku," tuturnya dengan ramah, tetapi tidak lama ia menyipitkan matanya, seakan-akan mencari seseorang. "Kau bersama gadis itu sebelumnya, bukan?"
Yang bisa aku lakukan adalah mengganti pembicaraan kami, agar Nenek tidak merasa bersalah dengan kejadian yang baru saja dialami Yuna.
"Dia baik-baik saja, Nek, selain itu ...." Aku merendahkan suaraku. "... maaf, karena sekarang itu jadi kotor." Aku menuding tasnya yang berlumuran dengan lumpur, dan bagian bawahnya juga sedikit basah karena genangan air.
Sebenarnya, yang terakhir itu terjadi karena salahku; aku menjatuhkannya untuk menangkap Yuna.
Semoga saja ia tidak marah karena itu.
⠀
...... Bersambung ......
...Our Voice © 1 St Original Works...
__ADS_1
...⠀...