Our Voice

Our Voice
24. Ada Yang Salah Dengan Ini


__ADS_3

...—Hiro Sato—...


Pintu lift mulai terbuka. Kami berjalan dua langkah ke depannya, melirik bagian kiri dan kanan ruangan besar yang penuh dengan rak. Ini adalah lantai dua belas, dan untung saja Yuna mengurungkan niatnya untuk berjalan melewati tangga.


“Seperti ini lebih baik, Yuna,” kataku.


“Aku masih kesal denganmu, Hiro.” Yuna melipat tangannya di depan dada, serta terus menatapku dengan cemberut.


“Kita bisa lupakan itu, lagi pula kau masih harus mencari buku itu, kan?”


“Hmm ....” Dia mengerutkan dahi, pesonanya seolah pergi meninggalkannya.


“Ma–sih marah ya?” gumamku. “Kalau begitu maafkan aku. Lain kali, mungkin aku akan mengajarkannya.”


Tidak ada yang terucap lewat suara, Yuna langsung memalingkan pandangannya, berjalan meninggalkanku.


Aku tidak tahu kenapa, tetapi rasanya, apa yang para pemuda itu bicarakan tampak seperti sebuah realita. Apa kami memang terlihat seperti pasangan yang sedang ribut? tanyaku dalam hati, sambil memikirkannya dengan setengah serius.



“Wah, ini dia!” Yuna berseri-seri saat menemukan buku itu, tetapi tidak denganku.


“Apa kau yakin ini bukunya, Yuna?” Dari sudut mataku, aku menatap sampul buku tersebut, berdiri dengan rapi di antara beberapa buku tebal yang menghimpitnya.


Yuna perlahan menarik buku itu, sangat hati-hati, seperti takut suatu cairan akan tumpah dari dalamnya.


“Hiro, beri aku jalan!” Yuna mulai berjalan, dengan sepasang tangannya yang dilebarkan. Buku itu sekarang persis berada di tengah-tengahnya, diapit dengan kuat.


Aku melebarkan mataku. “Ah, Yuna?”


“Diam, Hiro, kamu tidak ingin membuatku menjatuhkan buku ini, kan?” Ketika Yuna bergerak, tubuhnya bergetar, sangat kuat, dan semakin bertambah seiring waktu.


Aku menjawabnya dengan anggukan. Untuk sesaat, aku sama sekali tidak bisa mengerti dengan jalan pikirnya. Kenapa Yuna membawanya dengan cara seperti itu? tanya batinku.



Meja baca itu cukup lebar. Terdapat empat belas kursi sandar yang menjorok masuk ke dalamnya, serta terbagi rata atas sisi kiri dan sisi kanan. Namun, hal terpenting saat ini adalah mengenai Yuna. Butuh waktu dua menit hanya untuk meletakkan bukunya, dan itu mirip seperti unit taktis yang diberi waktu singkat untuk menjinakkan bom.


“Yuna sangat hati-hati sekali, ya,” ujarku.


“Ini tidak akan memakan energi banyak, kok, Hiro. Jadi tenang saja.”


“Oh ....” Tentu saja dia yang mengelak kali ini. Namun, untuk pertama kalinya, aku melihat Yuna berkeringat. Sepertinya mesin penyejuk yang ada pada dirinya perlu dipertanyakan.


“Ya, jadi ini dia, buku yang aku cari.” Yuna membuka tudungnya, setelah memastikan jika tidak banyak orang yang berada di lantai perpustakaan ini.

__ADS_1


Aku memfokuskan pandanganku. Judul dari buku itu adalah Legenda Gadis Pengendali Angin dengan manik-manik yang menempel dan memenuhi sampul bukunya. Tidak lupa juga, tepat di bagian bawahnya, terdapat tulisan Ditulis Oleh Hanami dan Cerita Anak-Anak Paling Bergengsi.


Tunggu dulu, pasti ada yang salah dengan ini, pikirku.


“Kamu tidak perlu bingung begitu, Hiro.” Yuna menatapku, lalu terkikik.


Aku lantas kehilangan kata-kata. Itu seperti menguap ketika dia menyunggingkan senyum manisnya. “Ah ... soalnya, ya ... ini, kan ... cerita ....”


“Buku yang aku cari sebenarnya sedang dipinjam orang, jadi ya, mungkin ... aku akan memilih ini sebagai gantinya sementara.” Jari Yuna mulai membuka lembaran-lembaran itu, dan aroma dari buku baru yang khas mulai tercium dengan kuat.


“Dari mana kau mengetahuinya?”


“Aku bertanya pada salah satu pustakawan di lobi tadi. Mereka sudah memastikannya lewat sesuatu yang tidak bisa aku mengerti.” Yuna menggaruk kepalanya, tersenyum tipis, seperti menunjukkan ketidaktahuannya secara terang-terangan.


“Kau yakin mau baca yang ini?” tanyaku. “Apa kita tidak bisa menunggu orang itu mengembalikannya lagi, nanti?”


“Mau tahu fakta uniknya, Hiro?” Saat mengatakannya, pandangan Yuna tidak lepas dari buku itu. Akan tetapi, yang aku tahu saat ini, dia sangat berminat membacanya.


“Apa?”


“Buku itu sudah empat tahun tidak pernah dikembalikan.”


“Huh?”


Yuna membalik lagi lembarannya, kali ini dia lebih serius. “Aku mempertanyakan aturan tegas yang biasanya dilakukan oleh pihak perpustakaan untuk kejadian seperti ini.”


“Dia masih hidup, aku bisa merasakannya.” Kali ini Yuna melirikku, matanya berkilat-kilat, seperti menahan emosi.


Sepertinya dia sangat menginginkan buku itu, batinku refleks berkata-kata. “Apa kekuatanmu, bisa melakukan itu?”


“Tidak, hanya saja itu bukan buku biasa.” Yuna kembali menutup buku cerita itu. “Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan, tapi tulisan-tulisan yang ada di dalamnya, itu semua ditulis dengan udara.”


“Huh?” Sejauh ini, bagiku, kalimat-kalimat Yuna semakin tidak masuk akal.


“Jangan terlalu memikirkannya”—Yuna mendekap buku itu di dadanya—“ayo kita pulang.”


“Huh, sudah selesai bacanya?” tanyaku, pasalnya ini sangat singkat—bahkan tidak lebih dari lima menit.


Yuna menggantung tudung itu kembali di kepalanya, kemudian tersenyum. “Sudah, kok. Kali ini aku hanya ingin membaca yang bagian itu saja.”


Meski gadis itu gagal mendapatkan buku yang dia inginkan, tetapi tidak ada kekecewaan yang terlintas di wajahnya.


...* * *...


__ADS_1


Sekarang, kami keluar dari pintu kaca otomatis. Terik mentari pagi yang menyehatkan kembali menyorot dengan sempurna, bayang-bayang pun turut mengikut kami dari belakang.


“Aku kira kita akan lebih lama lagi di perpustakaan,” gumamku.


“Huh? Kamu ngomong sesuatu, Hiro?” Yuna mengalihkan pandangannya padaku. Sebelum itu, dia terfokus pada ponsel di tangannya.


“Tidak, lalu apa sekarang kita akan benar-benar pulang?”


Restoran Pak Fujima hari ini sedang libur. Jadi, aku mungkin tidak akan melakukan apa pun jika kembali sekarang, dan ini pasti akan jadi waktu-waktu yang membosankan. Mungkin, aku akan menelepon Keira lagi, andai jika kami memang harus pulang sekarang.


“Tapi, sayang sekali, bukan? Bagaimana kalau kita main arcade?” Yuna meninju udara, tetapi karena udara yang tiba-tiba berhembus dengan kuat, tangannya refleks menahan tudung itu agar tidak lepas. “Ya ampun, ini mendebarkan,” tambahnya.


“Aku tidak terlalu suka hal yang seperti itu, sih.”


“Eh!” Yuna seketika menempelkan tangannya di keningku, dan panas itu mulai menyebar dengan rata. “Kamu sakit?”


“Bukan begitu, Yuna.” Wajahku memerah. “Lagi pula ... kenapa tanganmu berada di sana?” Aku ingin menepisnya, hanya saja tanganku terasa lumpuh. Kali ini, aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku—itu terus melebar sepanjang waktu.


“Aku kira kamu— huft, syukurlah ....” Yuna menghela napasnya, begitu pula denganku.



“Apa ada yang salah dengan jawabanku tadi?” Kami melanjutkan perjalanan, menuju arcade yang diinginkan Yuna. Dia sangat bersemangat kali ini, bahkan lebih besar dari niat utamanya.


“Semua orang suka bermain dengan hal-hal seperti itu, “ kata Yuna, sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu jika ada manusia yang tidak menyukainya.”


“Kalau begitu, kamu bisa menganggapku makhluk lain.”


“Eh, apa boleh?” Yuna melirikku, dan sepertinya dia menanggapinya dengan serius.


“Tidak, itu tidak boleh,” bantahku, sambil berjalan mendahuluinya.


“Padahal aku hanya bercanda tadi, kamulah yang menanggapiku dengan serius, Hiro.” Yuna kembali pada posisinya, berada di sebelahku, sambil terkikik.


“Hei, ngomong-ngomong, berapa umurmu?” tanyanya.


“Enam belas tahun.”


“Wah ....” Yuna terkejut setelah mendengarnya. “... kita sama-sama enam belas tahun, lho.”


Aku menghentikan langkahku, sekarang aku yang tersentak karenanya. “Yang benar, Yuna?”


Padahal, sebelumnya aku mengira jika dia lebih tua dariku, mungkin sekitar satu atau dua tahun.


__ADS_1


...... Bersambung ......


__ADS_2