
Episode 50
Riuh Angin Di Malam Hari—
...💨💨💨...
...~ Hiro Sato ~...
Riuh angin yang sempat diberitakan itu semakin bergemuruh dengan kencang. Namun, fenomena ini nampaknya masih berada pada batas normal, sesuai dengan perkiraanku. Yuna pun sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran yang begitu mendalam.
Pastinya. Dia, kan, gadis pengendali angin.
⠀
Di samping itu, karena sepertinya ini saat yang tepat—hening dan tidak ada seseorang—aku mengeluarkan kotak musik yang telah dibalut dengan bungkusan kado bermotifkan bunga sakura. Itu adalah satu-satunya saran tambahan terbaik yang diberikan Kak Aina padaku sebelum dia pergi, dan aku pun mengiakannya karena suka.
Waktu sebelum beranjak menuju Game Station, aku mampir sejenak ke toko kado yang jaraknya hanya empat toko dari outlet musik tersebut. Di sana aku mendapat pelayanan yang ramah dari petugasnya, dan sepertinya gadis yang sedang bertugas itu sepantar dengan Yuna. Namun, tentu saja ia tidak mengenakan jaket bertudung setiap saat.
“Untukmu.” Hanya untuk mengatakan sepatah kata itu pun sangat sulit. Lisanku seperti ditahan rasa takut.
“Waah ....” Yuna mendelik, mulutnya sedikit terbuka karena merasa terkejut. “... apa itu?” tanyanya.
“Hadiah ulang tahunmu,” kataku.
“Kemarilah.” Yuna menepuk beberapa kali permukaan bagian kursi kosong yang berada di sebelahnya.
“Aku?”
“Jadi siapa, maksudmu?”
“Oh, baiklah.” Bagus, tanpa sadar aku baru saja berguyon dengan diriku sendiri.
⠀
“Ini, se–serius?” Wajah Yuna menunjukkan ketidakpercayaan yang jelas, tidak neko-neko setelah merobek lapisan kado itu dengan ekstra hati-hati.
Apa bungkus kado itu pun terlihat penting baginya? tanya batinku. “Hmm ....”
“Kok, hmm, gitu?”
“Anu, aku ....” Gadis ini sulit sekali peka dengan kelemahanku ini—rasa gugup yang hinggap setiap kali berada di sisinya.
“Kenapa?”
“Suka dengan hadiahnya?” Kutanya itu padanya dengan mata terpejam.
Setelah lima detik dan keheningan yang berlalu, akhirnya gadis itu menjawab, “Aku suka, sih.”
Entah kenapa, tetapi nada suara Yuna terdengar sangat meragukan bagiku.
“Eh?”
“Eh?” Yuna menanggapiku dengan jawaban yang sama.
__ADS_1
Aku kembali membuka mataku dan berkata, “Yakin suka?” untuk memastikannya.
“I–iya, suka, kok. Aku sangat menyukai ini.” Yuna menggesek telapak tangannya. Duduknya mulai tidak tenang, seraya mengelus-elus rambut putihnya yang panjang.
Aku tidak tahu arti dari setiap gerakan yang baru dia lakukan, tetapi sepertinya, itu tidak mungkin.
Dia tidak mungkin gugup hanya untuk mengatakan kebenarannya, kan? Kebenaran ini bisa terbagi dua. Yang pertama adalah saat dia benar-benar menyukai pemberianku, dan yang kedua adalah sesuatu yang paling tidak ingin aku katakan.
Dia tidak menyukainya? Sama seperti ‘box’ es krim itu? Demikianlah kata-kata yang kejam itu bergema di hatiku, bahkan menggunakan suaraku sendiri sebagai pemeran utamanya.
“Aku sangat suka ini, beneran, deh.” Dia meyakinkanku, tetapi itu masih belum cukup.
“Oh, begitu,” ucapku sambil tersenyum tipis.
Ya, mau dia suka atau tidak suka, jujur atau tidak jujur, setidaknya aku bisa melihat sedikit rasa senang yang terpancar dari wajahnya yang manis. Terlalu banyak pikiran negatif juga tidak baik untuk kesehatan, dan ini serius, omong-omong.
“Kamu sudah membukanya?” Yuna membalik kotak musik itu. Beberapa detik kemudian, gadis itu memutarnya secara perlahan ke atas dan ke samping, secara bergantian.
“Hadiah darimu waktu itu?” Mana mungkin aku melupakan pemberian pertamanya yang sungguh berarti itu.
“Sudah dibuka?”
“Belum.”
“Ke–kenapa?” Yuna berhenti memutar kotak musik itu, lalu pandangannya dengan lirih menatapku. “Kamu tidak suka?”
“Kan, kita langsung pergi tadi. Aku tidak sempat membukanya sebelumnya.”
“Oh, iya.”
“Seharusnya tadi kita tidak langsung pergi.” Yuna terkikik sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Kita harus pergi cepat, sih.”
“Itu rencanamu yang mengajakku, Hiro, bukan rencanaku.”
“Demi ulang tahunmu.”
“Ada apa dengan ulang tahunku?” Suara Yuna berubah heran.
Gawat, aku keceplosan lagi. Untuk apa diriku sampai mengatakan hal-hal yang terlalu jujur dan mengarah pada perasaan seperti itu?
“Maksudku, hari ini ulang tahunmu, dan ulang tahun itu hanya bisa sekali dalam setahun, kan?” kataku. “Jadi, pastinya itu akan sangat spesial bagimu; aku hanya ingin merayakannya agar kau bisa terus mengingatnya.” Huh? Kan, itu malah semakin—
“Pernyataan seperti itu terdengar seperti yang ada di film-film.”
Wajahku seketika memerah. “Anu, itu—“ Aku tahu! Aku tahu apa yang akan dikatakannya setelah ini, tidak mungkin salah.
Yuna memasukkan kotak musik itu ke dalam saku jaketnya dan menuturkan jika, “Kau pemuda yang sangat romantis, ya, Hiro?” sambil tersenyum manis.
“Itu berlebihan,” kataku.
Uap panas seolah membumbung tinggi ke angkasa yang pekat dari puncak kepalaku. Sulit untuk berpikir, berat untuk berkata-kata, bagaimana cara untuk mengakhiri perbincangan yang berada di luar dugaanku seperti ini? Padahal sebelumnya aku hanya berniat memberikan kotak musik itu dan bertanya apakah dia suka atau tidak dengannya.
__ADS_1
Di samping itu, aku baru tahu fakta yang menarik.
Ternyata kotak musik itu benar-benar muat di sakunya. Sangat hebat.
⠀
“Masih ada kejutan lagi?” Kejutan yang belum diperlihatkan itu bahkan sudah membuat Yuna terkejut kembali.
“Iya, masih ada,” jawabku.
Sekarang kami berjalan menuju Restoran Pak Fujima.
Tiang lampu yang berdiri berjajar di sebelah kami seolah-olah menerangi semangatku yang telah menurun drastis karena lelah.
“Hei, hei ....” Yuna merendahkan kepalanya, kemudian mengintipku dari bawah dengan senyum yang membuat hatiku berseri-seri. “Bisa beritahu aku kejutannya?”
“Kalau aku beritahu sekarang, namanya bukan kejutan, Yuna.”
“Sedikit saja, ehh.”
“Tidak bisa.”
“Dasar pelit.”
Ya, pernyataan itu lebih baik bila dibandingkan dengan gumaman Dasar laki-laki tidak peka yang pernah kudengar di gelanggang permainan tersebut.
Tiba-tiba, di waktu yang tidak tepat ( seperti itulah menurutku ), angin biru Yuna yang khas tampak terlihat lagi.
“Ini?”
Seperti gelombang air yang bergerak dengan halus, mereka melingkar dan berputar di kaki kami. Aku merasakan sensasi sejuk yang tidak ada hentinya mengalir dari bawah sana, sampai-sampai ingin tersenyum karena geli.
“Aku tidak kuat lagi, haha ....” Tawaku tak tertahankan, itu pecah dengan sendirinya.
“Sudah biasa bagiku, kok,” kata Yuna.
“Sering mengalami hal ini?”
“Cukup sering.” Yuna mendongak ke langit. Semakin tinggi gadis itu melihat, senyumnya pun kian melebar. “Apalagi saat ada sesuatu yang membuatku senang.”
“Karena ulang tahunmu?”
“Tentu saja karena hadiahmu.” Dia kembali menatapku sambil terkekeh. “Aku jadi merasa bersalah.”
“Kau sama sekali tidak berbuat salah, Yuna.”
Yuna merogoh sesuatu di dalam saku jaketnya ( aku rasa itu bukan bagian saku tempat dia menyimpan kotak musik itu sebelumnya ). “Nanti lihat hadiahku, ya? Terus nanti langsung hubungi aku kalau kamu senang dengan apa yang kuberikan,” pintanya, sambil memperlihatkan ponsel dengan latar belakang hadiah boneka beruang yang sempat dia foto di bus.
Aku mengangguk ria.
Bersama dengan itu, gelombang angin biru yang menari-nari di bawah kaki kami perlahan naik ke atas. Mereka tanpa ragu menerpa wajahku dengan sangat lembut, kemudian bergantian dengan wajah Yuna.
Pada akhirnya, kami larut dalam tawa yang membawa kami hampir dekat menuju restoran.
__ADS_1
...💨💨💨...
...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :)...