
Episode 46
Bertemu Lagi—
...💨💨💨...
...~ Hiro Sato ~...
Game Station itu berada di lantai lima mall. Tentu saja akan sangat melelahkan bila gadis itu bertindak macam-macam lagi, seperti waktu kami berada di perpustakaan kota beberapa hari yang lalu.
Pikiran Yuna itu tidaklah dangkal, tetapi dia hanya merepotkan dirinya sendiri.
“Kira-kira, apa, ya, yang Yuna suka?” Sambil berjalan, aku memerhatikan satu demi satu blok toko yang berjajar rapi di belakangku.
Setiap aku melangkah, pandanganku tidak bisa diam walau untuk sesaat.
Toko minuman Janji Raga; toko furnitur Aci; apotek Guardien; toko olahraga Planet Non Sports; toko buku Gramed; toko mainan anak-anak Kids Hell, dan masih banyak lagi tempat-tempat dengan lampu mencolok serta papan yang menghiasi di depannya. Sepertinya, hal demikian memang ditujukan untuk menarik perhatian atau minat pengunjung mall.
“Hmm, dia suka apa, sih ....” Aku masih berpikir keras, tentang barang atau sesuatu yang paling gadis itu senangi.
Tentu saja aku belajar dari pengalaman. Kejadian box es krim yang pernah kuberikan padanya waktu di atap gedung itu tidak akan pernah terulang lagi, aku sudah berjanji.
Kalau Yuna tidak suka yang dingin-dingin ( fakta mengatakan jika gadis itu memiliki angin dingin yang bersemayam di tubuhnya ), mungkin dia akan suka yang panas-panas? Eh, tidak, maksudku bukan ini. Sesuatu yang tebersit di pikiranku adalah hal-hal yang tabu—lupakan saja.
Langkahku kemudian terhenti. Aku tidak tahu kenapa, tetapi sekarang pandanganku mematung pada toko musik yang sangat ramai.
Dalam hati aku bergumam, Toko musik? Hmm .... Berdasarkan analisa singkat harianku, mainan pertama yang sebelumnya Yuna incar untuk dia mainkan sebelumnya adalah Dance Dance Revolution.
Itu adalah mesin gim yang mengeluarkan suara-suara yang bisa membuat seseorang bahagia dan menari ria di atas panggungnya. Semakin tinggi skor yang dihasilkan juga mungkin akan membuat pemainnya semakin ceria. Aku bisa berkata seperti ini setelah melihat raut wajah Yuna sehabis memainkan gim ritme tersebut.
Tampak nyata dan meyakinkan.
“Ah, benar juga!” Aku melebarkan telapak tanganku di bawah dada, kemudian kugunakan tanganku yang lain untuk memukulnya, seperti sedang memalu. Satu buah ide tampak muncul di kepalaku dengan percaya dirinya.
Tanpa berlama-lama aku masuk ke dalam toko musik tersebut.
⠀
Keramaian semakin nyata di dalamnya.
Di sisi barat toko menampilkan puluhan jenis gitar dengan ragam merek—model akustik adalah kesukaanku—yang digantung dan memenuhi seisi dinding, sedangkan di bagian timur terdapat banyak drum musik yang berjajar rapi ke belakang ( di sekelilingnya pula berdiri tiang pembatas dengan pita berwarna biru ). Namun, masih banyak instrumen musik lainnya yang ditawarkan toko ini, tetapi yang mendominasi tetap saja adalah gitar.
__ADS_1
“Keren.” Aku memicingkan mata, terpukau untuk beberapa saat.
Meski banyak sekali alat musik yang dijual di tempat ini, tetapi penataannya terkesan sangat rapi, tidak seperti kamarku yang terkadang berantakan.
Padahal, itu bukanlah kamarku, melainkan sebuah penginapan sementara yang diberikan seorang malaikat tanpa sayap.
“Hiro?” Seseorang lantas memanggilku.
Apa benar ia benar-benar mengenalku? Suaranya yang bergema itu menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi.
Aku berputar dan menemukan Kak Aina yang sudah mengangkat tangan di samping dadanya, seperti hendak menyapa. “Kau di sini juga ternyata?” tanyanya.
“Ya, aku ada semacam keperluan.”
Saat ini, apa yang Kak Aina kenakan sama dengan waktu dia mengejarku di jalanan yang penuh hiruk-pikuk itu. Dia mengenakan topi dengan logo bintang perunggu di tengah-tengahnya, seragam biru tua yang atribut lencana anehnya sepertinya semakin bertambah banyak ( itu berkilauan seperti biasa ), dan tidak lupa tongkat hitam mengilap yang menggantung di pinggang wanita tersebut.
“Keperluan? Segenting itukah?” Kak Aina berjalan satu langkah, semakin mendekatiku.
“Tapi kenapa Kakak juga di sini?” Aku langsung mengubah arah pembicaraanku.
Seharusnya mereka semua sudah berada di sana, bukan? Selain itu, aku sama sekali belum memberitahu rencana ini pada Yuna, ini untuk mengejutkannya sewaktu pulang nanti.
“Masalah buatmu?” Kak Aina blak-blakan mengatakan itu.
“Tenang saja, tidak perlu khawatir begitu.”
“Eh?”
“Ketua Suguha juga akan hadir.”
“Huh!” Ketua Morikawa—di sana?
“Dia sudah tiba di sana, kok, jadi dia yang mengatur semuanya.” Setelah tertawa cukup banyak, Kak Aina mengusap lembut sebelah matanya yang sedikit berair.
“Huhh!”
“Anu, mungkin mendatangkan dia akan memakan biaya lebih, jadi bersiaplah.”
Apa katamu ...! Aku terkejut dalam hati, sampai-sampai tidak tahu harus berkata apa.
Bukan karena biaya atau konsekuensi atau kesepakatan yang akan aku terima di akhir, melainkan tentang Ketua Morikawa itu sendiri. Selama ini, Yuna belum pernah bertemu dengannya, dan perlu diketahui bahwa wanita itu cukup dingin. Aku harap tidak ada hal buruk yang akan terjadi setelah ini.
__ADS_1
Aku mengembuskan napasku. “Mohon kerjasamanya,” ujarku.
“Sama-sama.”
Balasannya sangat singkat, bahkan tidak bisa menutupi kepanikan yang mulai kembali menjamur di sepenjuru otakku.
***
“Kenapa Kakak jadinya ngikut aku?” Aku bertanya pada Kak Aina yang bersisian di sebelahku.
“Iseng aja.”
“Katanya mau nyari barang.”
“Iya, ini lagi nyari-nyari, kok.” Saat wanita itu menempelkan telunjuknya di bibir, aku bisa melihat bibirnya yang merah dan lembap, seperti baru dipoles dengan lipstik eksklusif yang hanya dipakai oleh aktris-aktris ternama.
Aku baru tersadar, walau nampaknya sudah sangat terlambat. Untuk umur seorang wanita yang menginjak 23 Tahun ( sempat penasaran, aku pernah menanyakan ini secara gamblang padanya ), Kak Aina ini jelas sangat memesona.
Namun, jika dibandingkan dengan sambilan tidak keruannya saat ini ( menjadi anggota dari Organisasi Anti Gadis Pengendali Angin ), itu seperti memecah fakta yang baru saja aku nyatakan. Andai saja tidak ada hal demikian di hidupnya, pasti Kak Aina sudah menikah dan hidup bahagia layaknya kisah Cinderella.
Tunggu, kenapa aku jadi memikirkan masa depan orang lain? Punyaku saja, toh, belum becus.
“Sebenarnya Kakak lagi nyari apa?” tanyaku karena penasaran.
“Kau sendiri lagi nyari apa?”
Dia cukup menyebalkan, ya. “Kenapa balik nanya lagi, Kak?” Aku menepuk keningku, dengan perasaan.
“Siapa tahu apa yang kita cari sama.” Kak Aina berhenti di tengah-tengah rak yang menjual berbagai aksesoris musik. Langkahku juga ikut mematung di sana. “Ayo kasih tahu duluan, jangan malu-malu, anak muda!”
“Aku gak tahu.”
“Serius, tuh?”
“Beneran, deh.”
“Hee ....” Kak Aina lantas menyeringai padaku. Tolong jelaskan raut wajahmu itu maksudnya apa, kak! desakku dalam hati.
“Lantas, kenapa kau ke sini?” Tatapannya seolah sedang menerawangku.
“Aku, ya ....” Tidak mungkin kuberitahu, dia pasti akan menganggapku aneh-aneh lagi.
__ADS_1
...💨💨💨...
...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...