Our Voice

Our Voice
59. Perkataan Seorang Junior II


__ADS_3

...Bab 59...


...—Perkataan Seorang Junior II—...


...( Hiro Sato )...


...———...


Aku mendengar banyak hal dari Kak Aina, sesuatu yang tidak banyak kuketahui dari ketua Morikawa yang terlihat tegar hampir setiap waktu.


Karena merasa letih, kuputuskan sejenak untuk duduk di salah satu kursi meja yang tampak kosong, sambil menyandarkan tongkat pel di tepian meja dan mendorong ember berisikan air tersebut ke menjorok ke dalamnya.


Sebenarnya masih ada lagi yang wanita itu katakan.


Perlu ditekankan kembali, Ketua Morikawa itu sangat menghormati gurunya tersebut, bahkan dia sudah menganggapnya sebagai ibunya sendiri.


Namun, saat kematian itu terjadi dan datang begitu cepat, Ketua Morikawa yang masih berada di dalam gudang bawah tanah itu pun hanya mendengar suara raungan angin yang berkecamuk dari bagian lantai dasar rumah guru tersebut. Gemanya semakin kencang seiring waktu dan memekakkan telinga, sampai-sampai Ketua Morikawa pernah memberitahu jika momen itu adalah ketakutan terbesarnya selama dia hidup.


Saat gemuruh angin yang melanda itu telah berakhir, Ketua Morikawa perlahan menaiki satu demi satu anak tangga yang terlihat seperti tanjakan lurus yang curam.


Begitu dia bisa melihat langit-langit angkasa dari sepasang jendela yang kacanya telah hancur berkeping-keping di atas lantai rumah, dia terkejut setelah melihat semua orang yang ada di sekitarnya pingsan.


Perlahan-lahan Ketua Morikawa bergerak mendatangi gurunya yang terbaring di tempat tidur, posisinya nampak terlihat seperti tidak ada satu musibah pun yang baru saja menerkam seisi kota tersebut.


Ketua Morikawa yang telah lama meminta banyak nasihat dan saran dari sang guru harus rela menerima kebenarannya. Semua orang yang dia lihat di rumah itu memang hanya pingsan, tetapi berbeda dengan gurunya tersebut.


Wanita yang katanya gadis pengendali angin itu telah mengembuskan napas terakhirnya, dengan penyakit yang tidak pernah diketahui asal-usulnya. Benarlah jika itu adalah sebuah penyakit. Akan tetapi, belum ada dokter atau ahli medis atau pakar kesehatan yang dapat mengidentifikasi bagaimana kematian itu bisa terjadi.

__ADS_1


Sakit jantung-kah? Pecah pembuluh darah-kah? Infeksi pernapasan-kah? Kekurangan darah-kah? Semua diagnosa itu sama sekali tidak ada pada tubuh guru Ketua Morikawa. Hingga tidak sedikit dari orang-orang yang mengetahui peristiwa tersebut menyebut bahwa legenda atau mitos tentang gadis pengendali angin itu benar-benar ada di dunia ini.


“Bagiku, aku masih tidak memercayai itu. Aku tidak suka hal-hal yang berbau ilusi, dan yang seperti itu hanya akan menghambatku menatap masa depan. Berpikir primitif dan bertingkah seolah-olah dunia ini masih ada di zaman purba itu sangatlah bodoh, asal kau tahu.” Demikianlah kata-kata penuh pertentangan yang dilayangkan Kak Aina, sebelum dia kembali bergabung dalam segenap pesta untuk mengisi kekosongan acara yang ditinggalkan Yuna.


Itu adalah cerita singkat yang dilabeli Kak Aina sebagai bentuk cinta dan pengabdian antara seorang guru dan muridnya, dan cerita dengan bumbu supernatural seperti itu sah-sah saja, asal tidak berlebihan.




Aku sudah mengepel semua bagian lantai itu hingga kembali mengilap, mengelap kaca pun sudah dilakukan, dan satu hal lagi yang belum dilakukan adalah membersihkan semua cucian piring yang menumpuk di dapur.


Namun, aku tampak senang saat melihat bubur zosui yang diriku dan Yuna buat tempo hari lalu ternyata benar-benar sudah dimakan.


Jadinya tidak sia-sia, bukan?


Setelah membersihkan seluruh kekacauan ini juga membuat tenagaku terkuras habis. Rasanya berdiri pun sekarang pasti akan langsung jatuh tertelungkup. Makanya, aku memutuskan untuk tetap duduk di meja sambil iseng melihat laman informasi yang berada di beranda internetku.


Selanjutnya, aku menggeser sedikit layar ponselku ke bawah dan menemukan beberapa komentar lainnya yang berkaitan dengan postingan berita bertajuk “Fenomena Angin Topan Di Waktu Malam”.


[ Sial! Aku jadi tidak bisa kencan dengan istriku lagi, padahal aku sudah sangat bersemangat dan menyiapkan banyak hal yang bisa membuatnya bahagia. ]


[ Gara-gara ini sekarang mobil mahalku banyak sisi bagiannya yang tergores. Entah karena ranting pohon atau bebatuan atau kerikil atau semacamnya—pokoknya aku sangat sebal dengan fenomena ini. ]


Komentar pria yang tampaknya seorang pesohor ini pun ditanggapi oleh komentar seorang bocah yang mendekap seekor kucing persia pada kedua tangannya. Tunggu dulu, itu, kan—


[ Makanya jangan beli mobil mewah kalau tidak siap dengan risikonya. Orang-orang seperti anda memang harus belajar lebih banyak lagi mengenai pahitnya hidup di dunia ini, atau anda bisa belajar langsung dari Richa jika mau. ]

__ADS_1


Aku tahu Richa adalah nama dari kucing persia tersebut. Ya, tidak salah lagi. Nama anak kecil itu sendiri adalah Raku—kami sudah pernah bertemu dua kali sebelumnya.


“Wah, orang-orang di sosial media memang kebanyakan sifatnya berbeda, ya, dari realitanya,” kataku sambil menahan tawa.


“Eh, apa yang kau tertawakan?” Tiba-tiba seseorang meletakkan tangannya di bahuku, sangat hangat.


Aku meliriknya dan secara simultan terkejut. “Kak Aina sudah bangun, toh?” tanyaku dengan wajah cemberut.


“Iya, Ryuji juga sudah bangun, tuh, lihat?” Dengan tatapan yang masih terpaku padaku, Kak Aina menunjuk Kak Ryuji yang tengah berdiri sambil mengenakan celana birunya kembali menggunakan jempolnya.


“Oh, Aina, selamat pagi.”


“Selamat pagi, sayang.” Kak Aina menoleh dan tersenyum lembut setelah mendengar sapaan pria besar tersebut.


“Selamat pagi, Hiro.”


“Selamat pagi,” sahutku.


“Ya, maaf karena sudah membuatmu mengerjakan ini semua, tadinya kami ingin bangun dan sama-sama merapikannya, tapi, ya ... kau tahu? Hahaha ... begitulah, pokoknya.” Kak Ryuji menatap sekelilingnya sambil tertawa kecil, seolah-olah kalimat yang baru saja dia katakan mengandung ucapan langsung yang tersirat seperti: “Terima kasih karena sudah membuat kami tidak bekerja keras, hahaha!”


Saat itu pula, semua anggota organisasi tersebut satu per satu bangun dan berdiri dari kursinya, lalu mereka asyik berbincang dengan kelompoknya masing-masing sambil keluar perlahan dari pintu restoran yang sengaja kubuka lebar-lebar.


Sebenarnya itu untuk mengusir bau badan yang mungkin saja menjangkiti salah satu atau beberapa orang di sana yang memiliki fobia dengan air—jarang mandi.


Setelah gema keramaian yang cukup padat dan singkat itu berakhir, pintu restoran kembali menutup, menyisakan kami bertiga di dalam ruangan seluas 50 x 25 Meter ini, atau bisa dibilang itu setara dengan luasnya kolam renang berdasarkan standar internasional.


“Ngomong-ngomong, anu ....” Aku hendak menanyakan ini pada mereka berdua. Soalnya, tiba-tiba saja ada sesosok penting yang sempat tergabung dalam acara ini begitu saja menghilang dari pandanganku, bahkan sejak pertama kali diriku bangun pagi tadi.

__ADS_1


...———...


...Bersambung...


__ADS_2