
Episode 39
Permintaan Maaf—
...💨💨💨...
...~ Hiro Sato ~...
“Ka–kakak ... huft ... ftt ....” Si sombong bernama Miro itu sepertinya telah kehabisan seluruh energinya.
Itu salahnya sendiri karena sudah melawan seseorang yang tidak sebaya dengannya.
“Ada apa, Dik?” Yuna menanggapinya dengan ceria, bahkan hampir tidak jauh berbeda dari sejak ronde balapan virtual itu dimulai.
“Bagaimana aku bisa ....”
Yuna melepas kedua tangannya dari setir, kemudian melakukan peregangan tangan ringan. “Huh?”
“Kenapa aku bisa kalah”—Miro mengernyit—“Padahal sebelumnya aku tidak pernah kalah. Masih ada orang yang jauh lebih tua dari Kakak dulu pernah menantangku.”
“Itu salahmu sendiri, sih.”
“Eh?” Komentar Miro cukup singkat, menunjukkan wajah keheranan.
Aku dan anak di sampingku pun dibuat celingak-celinguk. Kami memandang satu sama lain, seolah-olah batin kami bersama-sama mengatakan, sumpah, dah, gadis ini ngomong apaan, sih?
“Ya, itu salahmu karena sudah meremehkan Kakak sejak awal,” kata Yuna. “Kalau kamu di awal tidak melakukannya, mungkin kamu akan berkesempatan menang.” Gadis itu kembali menatap layar monitornya.
Dari yang aku lihat, sekarang di masing-masing layar gim balapan mereka terpajang rentetan peringkat mobil balap bot ( mobil keduanya kompak berada di garda terdepan ), Rank—Miro dan Yuna juga sama-sama mendapatkan A—dengan cetakan huruf besar yang tebal, dan skor angka dengan jumlah nol yang amat banyak.
Perbedaan signifikannya adalah durasi finish dari mobil yang dimainkan mereka. Miro menyelesaikan gimnya dengan waktu 07.02.58 ( mirip seperti kultum singkat ceramah ), sedangkan Yuna berhasil dengan kurun waktu 05.01.01. Rentang waktu dua menit tersebut jelas menjelaskan jika anak berkacamata itu layak untuk turun tahta dan melepas jiwa sombongnya.
Hal terbaik yang patut diacungi jempol kali ini adalah Yunalah yang keluar sebagai pemenangnya.
“Berarti aku kalah, ya.” Anak berkacamata itu menundukkan wajahnya, seolah-olah sedang memberikan penghormatan terakhir.
“Bagaimana? Kakak yang satu ini jago, kan?” Sedangkan anak yang berada di sebelahku kembali mendekati temannya, terbahak-bahak tak keruan.
Si kacamata itu kembali mengangkat wajahnya sambil berkata, “Sudah puas memanggil bala bantuanmu?”
__ADS_1
“Ah, aku tidak ....”
Tiba-tiba Yuna menengahi perselisihan yang baru saja kembali terjadi di antara mereka. “Tidak baik bila kalian bertengkar karena gim lagi, jadi sudahi ini.”
Aku tidak tahu kenapa, tetapi sepertinya si kacamata itu sangat bebal. “Siapa yang bertengkar, Kak? Kami baik-baik saja sampai kalian datang.” Pandangannya sontak melesat kepadaku, membuatku terkejut ( walaupun hanya sedikit ).
“Tidak baik-baik saja, Miro!” bentak anak yang bernama Raku. “Akhir-akhir ini kau mulai terlihat sombong. Kau jauh berbeda dibandingkan sebelum kita bermain di sini.”
“Hei, itu urusan pribadi!”
“Itu memang urusan kita, tapi aku sulit jika harus sendiri!”
“Oh, ya? Lagi pula kenapa kau kalah terus? Aku tidak menyombongkan diri.” Padahal dari nada bicaranya saja sudah cukup menjelaskan jika anak itu baru melakukannya. “Jika memang jantan, bermainlah dan berduel-lah denganku lagi, bagaimana?”
Raku mencabik-cabik kepalanya, seperti mulai gusar. “Argh, kau itu sulit sekali mengerti, Miro!”
“Kaulah yang sulit mengerti, jadi jangan salahkan—“
“Cukup!” seruku. Aku menepuk bahu mereka berdua dengan sepasang tanganku. Yuna hanya terdiam tanpa memberikan pembelaan. “Kalian tidak dengar apa yang Yuna katakan tadi? Inilah maksudnya; kalian itu jelas sedang bermusuhan.” Kali ini kutinggikan suaraku, berusaha mendorong lisan mereka agar tetap rapat dan mendengarkan hal-hal yang ingin aku katakan untuk mengakhiri konflik konyol ini.
“Ya, Kak ....” Kedua anak itu bersama-sama mengatakannya, dan sorot mata mereka kompak tertuju padaku.
Mulut si kacamata itu kembali bergumam kecil, seolah-olah ingin kembali melakukan pembelaan. Namun, meski dadaku terasa panas, leherku seperti sedang dicekik, dan mataku turut dibaluri dengan tatapan kemurkaan, tetapi aku tetap berusaha untuk berbicara baik pada mereka.
“Hei, kau namanya, Miro, bukan?” tanyaku padanya untuk memastikan.
“Ya.”
“Apa kau tahu udara?” Tiba-tiba aku ingin menyiratkan hal seperti ini karena teringat dengan kemampuan yang dimiliki Yuna.
“Ya, tahu.”
“Apa itu?”
“Jangan mengujiku.” Anak berkacamata itu menatapku dengan pandangan berkilat-kilat. “Langsung ke topik utamanya saja.”
“Seperti yang kau tahu, udara itu memiliki beberapa lapisan yang menopang puncak dunia ini, seperti—“
“Intinya, begini ....” Tiba-tiba Yuna menyelak diriku yang sedang membuat analogi. “Tahu peribahasa di atas langit masih ada langit?” Gadis itu menuturkannya dengan lembut.
__ADS_1
“Ya, aku tahu itu,” jawab anak berkacamata itu dengan cepat.
Yuna berjongkok sambil menyunggingkan senyum. Setiap detik yang dia habiskan dengan ekspresi seperti itu membuatku turut ikut tersenyum sendiri. Rasanya jiwaku seperti hanyut dalam taman bunga semerbak yang bermekaran di musim semi.
“Nah, maksud teman Kakak itu adalah: ketika kita sudah merasa hebat dalam suatu hal, maka jangan lupa bahwa masih ada orang lain yang lebih hebat atau pun lebih pandai dari kita,” katanya sambil mengelus kepala si kacamata itu. “Peribahasa itu juga mengajarkan kepada kita untuk selalu berendah hati dan jangan sombong.”
“Benarkah?” Anak itu seketika tidak bertingkah lagi. Mungkin karena kata-kata lembut yang keluar dari lisan Yunalah yang membuatnya jinak. Aku merasa jika anologi yang sebelumnya ingin kusampaikan tadi akan berdampak lebih buruk ( brutal ) padanya.
“Benar, maka dari itu, minta maaflah dengan temanmu sekarang,” pinta Yuna.
“Baiklah, aku ....” Anak berkacamata itu kembali berpaling pada Raku. “Maafkan aku, Raku. Sepertinya aku sudah menyakitimu.”
Tidak ada tanggapan, tetapi mulut anak yang sedang diajak berbaikan itu sedikit terbuka, seperti terkejut.
“...”
“Raku, apa kamu mau memaafkannya?” Yuna secara perlahan menarik tangan Raku yang sedang termenung, kemudian dia menautkannya pada tangan Miro. Sepertinya memang ini tujuan gadis itu.
“Baiklah ....” Akhirnya Raku berkomentar. Namun, itu singkat, padat, dan tidak jelas.
“Baiklah apanya?” gumam pelan Miro.
Tidak lama Raku kembali melirik Yuna, seperti sedang memastikan apa yang gadis itu hendak lakukan sekarang adalah solusi permasalahan terbaik bagi hubungan pertemanan mereka saat ini.
“Aku memaafkanmu, Miro.” Setelah lima detik, akhirnya kalimat positif itu keluar dari lisannya.
“Benarkah?” tanya lagi si kacamata itu. “Aku baru sadar sekarang; aku terlalu jahat. Tidak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu, terlebih ....” Ia menunjuk setir mobil yang bergetar di depannya ( karena latar intro dengan tulisan Insert Your Coin besar-besar kembali hadir di layar gim tersebut ) dengan jari letoi. “Kita hampir saja bermusuhan karena ini.”
“Tidak apa, aku tetap akan memaafkanmu.”
“Yakin?” Suara anak berkacamata itu berubah sengau, tepat setelah hidungnya membersit.
“Karena kau temanku, jadi aku percaya, kok.” Raku menjawabnya dengan tenang. Sekarang dia lebih terlihat bijaksana dari sebelum-sebelumnya.
Dari sini, kami ( aku dan Yuna ) kembali menatap satu sama lain, dengan wajah penuh kebanggaan. Walau bukan aku yang mengakhiri konflik mereka kali ini, tetapi melihat keduanya saja kembali akur itu jelas membuatku senang.
...💨💨💨...
...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :) ...
__ADS_1