Our Voice

Our Voice
7. Pengakuan Tidak Masuk Akal


__ADS_3

...Bab 7...


...—Pengakuan Tidak Masuk Akal—...


...( Hiro Sato )...


...———...


“Tidak ... aku, baik-baik saja.” Rasa sakitku seketika hilang setelah kembali menatap gadis itu.


“Baik-baik dari mana, sih, luka di pipimu itu sangat ....“ Jemarinya hendak menyentuh pipiku, tetapi aku menepisnya dengan pelan karena gugup.


"Aku tidak ... aku tidak merasa sakit," sanggahku.


Sebelumnya, aku kira gadis bertudung itu tidak akan pernah terlihat lagi. Namun, sekarang dia bahkan hadir di hadapanku, dan wajahnya seperti cemas karena melihat diriku yang berantakan.


“Waktu itu juga, kau orang yang kemarin duduk di sana, kan?” Karena masih penasaran dengannya, aku langsung mengarahkan pembicaraan kami pada topik itu—sekiranya, kami bahkan belum berkenalan.


“Tentu saja. Aku melihatmu kok," katanya. “Tadinya aku ingin mendekatimu, tapi ... ya ....” Sinar matahari bersinar dengan halus di wajah gadis itu ketika ia membuka tudungnya.


“Um, ah ... itu ....” Aku gugup, dan rasanya sekarang ingin terpejam. "Apa kau ...." Malaikat?


Gadis itu sangat manis. Ia memiliki rambut putih yang bergelombang, kunci perunggu yang disimpulkan dengan sebuah tali kalung dan menggantung di lehernya, serta sepatu putih polos LED yang menyala-nyala saat sisa dari kegelapan malam akan pergi.


“Apa ada sesuatu?” tanyanya.


Aku ingin mengatakannya. Namun, ketika ia duduk di sampingku, ritme detak jantung ini semakin berdetak tak beraturan.


“Anu, se–sepertinya, ada yang aneh saat aku berlari melewatimu kemarin,” terangku.


“ada yang aneh?”


“Aku ... juga tidak tahu.”


Gadis itu mencondongkan badannya. “Bisa tolong jangan membuatku penasaran?” Kedekatan ini rasanya tidak nyaman.


Akan tetapi, entah kenapa aku ingin ini bertahan lebih lama—gawat, pikiranku mulai kacau.


"Udara waktu aku berpas-pasan denganmu terasa sangat berbeda." tuturku, mencoba meyakinkannya. "Hmm, bagaimana ya, tapi aku tidak yakin ...." Itu sangat sulit untuk dijelaskan, tidak ada logika yang bisa membenarkannya.


Gadis itu kemudian mengangkat alisnya. “Seperti apa?” Ia mulai tertarik dengan pembicaraanku, ini tidak terduga.


“Aku, juga tidak tahu itu ....”


“Huft, kau itu banyak tidak tahunya, ya?” Gadis itu menghela napasnya. Embusan udara yang keluar seolah menyampaikan keluhannya padaku yang minim akan pengetahuan ini. “Lalu, selain itu, apa yang sedang kau baca?” Walau begitu, ia kembali tersenyum.


Tanpa sengaja aku menguap, kemudian aku menempatkan kedua tanganku di mulut untuk menutupinya. “Tentang ... Legenda Gadis Pengendali Angin,“ kataku.


“Kau percaya itu?” Gadis itu melirik koranku.


"Huh?" Setelah itu, tidak lama angin dengan halus berembus melewati kami. Kesejukan yang dihasilkan dari tekanan udara tersebut seolah mengetuk pintu hatiku dan memohon untuk menjawab pertanyaannya.

__ADS_1




Aku menatap halte bus dengan kaca transparan telah berdiri belakang kami; jalan raya mulai dipenuhi kendaraan-kendaraan dari berbagai lintas arah; orang-orang berdasi dengan koper berjalan melewati tempat kami duduk—rutinitas serta kepadatan yang tinggi menimbulkan relativitas hidup. Kali ini, aku ikut menyematkan pandanganku kembali pada koran itu.


Tidak lama, aku tersenyum tipis dan berkata, “Tidak mungkin terjadi. Lagi pula ini hanya cerita fiktif, kan.” Aku menggulung kembali koran itu dan memasukkannya ke dalam tas.


“Aku juga berpikir begitu,” kata gadis itu, sambil mengamati kedua telapak tangannya, seperti meresapi sesuatu. “Tapi tidak ada salahnya, kan? Jika beberapa di antara mereka memercayainya.”


“Huh?” Aku sama sekali tidak mengerti.


“Tidak apa-apa.” Ekspresi gadis itu berubah riang.


“Sekarang kau yang membuatku penasaran.” Aku menyipitkan mata, seolah-olah dia baru saja membalas tindakanku.


Tiba-tiba, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Itu adalah kue dorayaki lembut yang dikemas dalam suguhan plastik transparan yang rapi. Mulutku mulai berair setelah melihatnya.


“Aku tahu. Kau baru saja kehilangan sesuatu, jadi ini untukmu.” Gadis itu mengulurkan kuenya kepadaku secara langsung.


Apa ini balasan dari Tuhan atas kesabaranku? pikirku. “Kenapa, kau, bisa ...?”


“Jangan terlalu dipikirkan,” katanya, sambil tergelak. “Terima saja, tidak perlu malu.” Kemudian gadis itu meletakkan dorayakinya di atas tanganku.


“Beneran, nih? Maksudku ....”


“Atau mau aku ambil lagi?” Senyumnya berubah nakal, dan tangannya seolah berusaha merampas kue itu kembali.


“Terima kasih banyak; aku memang sangat lapar saat ini!” Setelah mengatakannya dengan lantang, aku sekarang lebih terlihat seperti monster yang kelaparan.


"Melihatnya?" Secara impulsif, aku berhenti melahap kue itu, lalu kembali menoleh padanya.


“Sebenarnya ... akulah gadis pengendali angin itu. Kau mau melihatnya?” tanyanya lagi.


Apa dia baru saja meniru perkataan tidak masuk akalku sebelumnya?


“Kita hidup di dunia nyata. Tolong sadarlah," jawabku sambil terbahak-bahak.


“Baiklah, bagaimana jika aku merubah pandanganmu yang satu itu?” Ia tersenyum, tetapi ekspresi itu seolah-olah digunakan untuk menantangku.


“Tidak mungkin ada.” Aku kembali fokus menyantap dorayaki ini. Tiap-tiap sisi dari kelembutannya seolah membawaku melayang ke udara, bersama dengan angin segar yang terbang mengitari kota di waktu damai.


“Kau pasti akan memercayainya, kok.” Gadis itu lantas berdiri, sorot matanya pun berubah tajam.


Melihat tatapannya yang begitu serius membuatku terdiam, bahkan aku belum selesai dengan satu gigitan ini.


“Maaf. Hanya saja aku ingin menunjukkannya padamu, karena hanya kau yang menyadarinya. Jadi, tolong dengarkan aku.”


Perlahan, ketegangan di antara kami melebur, setelah dia menyunggingkan senyum manisnya.


__ADS_1



"Baiklah, aku harus menunggu lagi sampai waktunya tiba," ucapku dengan nada malas.


Sebelum tiba di taman ini, aku menyempatkan diri pergi menuju sebuah apotek untuk membeli plester. Bagaimanapun juga, luka lebam di pipiku harus segera diatasi.


Karena kemauan gadis itu, aku memutuskan untuk tetap tinggal sementara waktu di kota ini.


Selain itu, dari caranya berbicara, bagaimana ia merayuku, dan juga kecantikannya, beberapa faktor itulah yang membuatku mengalah dan mengikuti permintaannya untuk menunggu.


"Kota Satsumi."


Setelah beberapa waktu berlalu, aku baru saja mengetahui namanya.


Kali ini aku berdiri seraya memandangi sekelompok burung yang hinggap di area rerumputan taman. Kepala mereka saling menoleh satu sama lain secara bergantian, seperti sedang berbincang dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti.


Di atas langit, sedikit lebih tinggi, terdapat lapisan awan yang bergerak dengan arus yang lebih cepat, seperti sedang mengejar tenggat waktu. Pantulan sinar matahari berkilauan; cahayanya menyebar dan menerangi bangunan-bangunan pencakar langit yang memenuhi kota.


Sedangkan di sini, aku hanya meneguk sebotol cola yang kubeli dari mesin penjual minuman otomatis di jantung taman ini.


“Gadis itu benar-benar menahanku,” gumamku sambil melihat uap air yang mengembun dan membentuk tetes-tetes air di bagian luar cola. Itu meluncur jatuh dengan bebas.


Namun, tidak lama seseorang menepuk pundakku, dan suaranya sangat percaya diri.


“Sedang menikmati waktu pagi?” tanyanya.


“Ya, sepertinya begitu, tapi anda—” Aku sedikit terkejut.


Itu adalah pemilik restoran yang secara kebetulan berada di sini, dengan celemeknya yang berhiaskan noda tomat di beberapa bagian tubuhnya.


“Tidak kusangka jika kita akan bertemu lagi,” katanya, sambil tersenyum hangat. “Kalau begitu, perkenalkan. Namaku, Aoba Fujima, dan seperti yang kau tahu ... aku seorang pemilik restoran yang sepi.” Pak Fujima mengulurkan tangannya ke depan.


“Aku Hiro Sato, senang bisa bertemu dengan anda kembali.” Aku menjabat tangan Pak Fujima. “Kalau boleh tahu, apa yang sedang anda lakukan di sini?”


“Sebenarnya aku hanya ingin berkeliling. Soalnya tidak cukup banyak pelanggan yang datang di waktu sekarang ini, haha,” ujarnya sambil terbahak-bahak.


Seharusnya tidak seperti itu. Apa Pak Fujima sedang mencoba menghibur dirinya sendiri? Aku tidak tahu pasti, tetapi dia adalah pria yang tegar.


“Apa anda suka pergi ke tempat ini? Maksudku, ya, setiap pagi, kurasa?”


“Tergantung, tapi setiap hari minggu aku pasti selalu ke sini, sih.”


“Jadi begitu.”


“Hanya saja restoran kami saat ini sedang dalam masa-masa sulit. Jadi, daripada terlalu memikirkannya dan stres, lebih baik kita meluangkan waktu untuk menenangkan diri,” kata Pak Fujima sambil mengelap keningnya dengan sapu tangan. “Apa aku benar?”


Aku setuju, pikirku.


Perkataan dia tidak salah, sebab itulah yang dinamakan bisnis. Tidak sedikit orang yang terlalu memikirkan kegagalannya di tengah-tengah proses yang sedang berjalan, dan berakhir dengan depresi berat.


Maka untuk Pak Fujima sendiri, dia sedikit demi sedikit memotivasiku untuk tetap bertahan hidup, dan aku bersyukur karenanya.

__ADS_1


...———...


...Bersambung...


__ADS_2