Our Voice

Our Voice
17. Runtuhnya Sang Fajar


__ADS_3

...Bab 17...


...—Runtuhnya Sang Fajar—...


...( Hiro Sato )...


...———...


“Woaahh ....” Suzuki menganga lebar, pandangannya tertuju pada bola kaca salju yang terang benderang. “... aku tidak pernah menyangka ada takdir yang seperti ini,” gumamnya.


“Apa yang kau lihat, Suzuki! Ih, kasih tahu aku dong!” Kak Aina mendorong wajah Suzuki. Sepertinya rasa penasaran wanita itu bangkit, tetapi berbeda denganku yang ingin segera pulang.


Mungkin gadis itu pun berpikiran begitu.


“Yuna, kau masih betah berada di sini?” tanyaku.


Tiba-tiba Yuna mendekatkan dirinya padaku, kemudian berbisik, “Tidak juga, bukan karena itu.”


“Huh?”


“Di sini panas sekali, Hiro.” Yuna mengibas-ngibas wajahnya dengan tangan.


Sebelumnya Yuna pernah berkata jika dia mengenakan jaket karena rasa dingin yang berada di dalam tubuhnya. Akan tetapi, melihat dirinya yang sedang berkeringat saat ini membuatku tersadar. Tempat ini nyatanya tidak jauh berbeda dengan dapur Pak Fujima—bahkan memiliki suhu yang lebih panas dari yang kuperkirakan.


Kualihkan pandanganku pada bola kaca itu lagi. “Eh, cahayanya?” Perlahan-lahan sinar bola itu padam, dan suasana di sekitarnya kembali meredup.


“Baiklah semuanya. Ritualnya sudah selesai.” Suzuki mengeluarkan sebuah kipas tangan, lalu mengibaskan itu dekat pada wajahnya. “Mau melihat hasil akhir dari tingkat kecocokan kalian?”


“Huh ...!”


Aku dan Yuna berteriak lagi secara bersamaan, entah untuk yang keberapa kalinya. Apa yang dilontarkan si behel itu jelas membuat wajah kami berdua memerah.


“A–apa yang kau katakan sebenarnya, Kak Suzuki?” tanyaku. Kalimat itu hampir saja membuat otakku mendidih.


Si behel itu lantas mengupil, tepat di hadapan kami. “Kau tidak dengar?” tanyanya sambil menghunuskan setitik tahi hidung dari lubang hidung mungilnya.


Sungguh, ini adalah hal paling menjijikan yang pernah kulihat hari ini.


“Aku tahu, maksudku, kenapa pembahasannya bisa sampai ke sana?”


“Mau bagaimana lagi? Itu karena Kak Aina yang menyuruhku.” Suzuki menggaruk rambutnya menggunakan tangan yang sama saat sebelum dia mengupil.


Aku tidak melihat apa pun; sumpah, aku tidak melihatnya ..., geram batinku, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuannya.


“Ya, tapi aku pikir kalian berdua cocok. Jadi mungkin melihat apa yang diramalkan si behel ini pasti akan menarik.” Kak Aina terbahak-bahak. Tawa yang bergema itu terdengar lebih jahat dari saat dia membuka ikat mataku tempo lalu.

__ADS_1


Yuna kembali bergumam, “Aku tidak tahan lagi ....” Sepatah kalimat itu sangat dalam, seolah-olah aku bisa mendengar jeritan hatinya yang ingin bebas secepat mungkin.


“Kalau begitu, cepat katakan saja agar kami bisa pulang,” teriakku. Namun, bukan kalimat selengkap itu yang seharusnya keluar, melainkan kami harus pulang sekarang.


Gawat, ini artinya aku juga tertarik dengan pembahasan mereka. Tatapan Yuna pun juga seketika berubah kosong.


“Woohoo, pada akhirnya dia mau mendengarkan kita, Kak Aina; Kakak lihat itu, huh?” Suzuki lantas berseri-seri, aura positif tampak pada behelnya yang terentang dengan lebar dan berkilauan.


“Tidak, itu bukan tujuanku,” bantahku dengan raut suram.


Kuharap matahari lebih cepat terbenam hari ini.


“Ok tunjukkan padanya, Suzuki!” seru Kak Aina sambil meninju udara. “Perlihatkan gemerlap takdir kehidupan mereka berdua saat hanya berdua di malam hari!”


"Gah!"


Lagi dan lagi, kami berdua tersentak untuk waktu yang berdekatan, dan uap mendidih seolah-olah membumbung tinggi ke langit-langit dari atas kepala kami.


“Kenapa topiknya berubah jadi dewasa, ya?” Aku tersenyum tipis seraya menjatuhkan mataku. Rasanya menatap liang kubur lebih baik ketimbang ubin di tempat ini.


“Hiro ....” Yuna menepuk bahuku, sangat lembut dan penuh pengertian. “Seharusnya, aku tidak naik kereta hari ini,” sesalnya.


Seharusnya kami sepakat menolak ajakan Kak Aina waktu makan siang di restoran sebelumnya.




Selain itu, aku harus mengantar Yuna menuju stasiun terlebih dahulu.


“Tempat itu sangat mengerikan,” gerutu Yuna. Aku kira dia tidak akan pernah jujur tentang itu. “Dari mana kau menemukan orang-orang seperti itu, Hiro?”


“Itu, sulit untuk dijelaskan.” Aku tersenyum palsu, mencoba mengingat beberapa kejadian awal yang membuatku seketika berakhir di sana.


Saat itu hari sedang siang. Semuanya dimulai dari tabrakan yang terjadi antara diriku dengan si pria besar yang menjadi teman Kak Aina. Beberapa jam kemudian ( kata mereka ), aku terbangun di suatu ruangan yang terlihat seperti bar yang tidak terawat, tetapi bukan aula utama atau ruangan redup yang terlihat sebelumnya. Pada akhirnya, satu hal yang aku ketahui adalah mereka berdualah yang menolongku. Jika tidak, mungkin saja aku akan berakhir kedinginan di luar sana, apa lagi tekanan udara yang berputar di langit malam itu tidak sebanding dengan pagi atau sore yang hangat, kira-kira begitu


Yuna mendekatkan dirinya padaku. “Tapi apa kau ingat apa yang dia katakan tentang takdir kita bersama?”


Setiap kami berdekatan, rasanya udara dunia sedang berkontradiksi dengan udara lainnya ( milik Yuna ), padahal memiliki sifat dan unsur yang sama. Panas dan dingin; api dan air; gersang dan sejuk. Pada faktanya, kedua suhu udara itu memang seperti bermusuhan.


Aku kembali pada pertanyaannya. “Si behel itu?” tanyaku.


“Ya.”


Tidak butuh waktu lama untukku tertawa lepas. Apa yang Yuna tanyakan itu terkesan konyol dan tidak berbobot. “Mungkinkah—kau tidak terpengaruh dengannya, kan, Yuna?” Setetes air mataku keluar dari tempatnya, dan itu terjadi karena perkataan gadis tersebut.

__ADS_1


“Ingat atau tidak, Hiro? Itulah pertanyaanku.” Melihat dari tatapannya yang berubah dingin, aku tidak menyangka jika gadis itu bertanya dengan serius.


Oleh karena itu aku menjawab, “Hmm, seingatku ....” Perkataan Suzuki perlahan kembali muncul di pikiranku. Kalimat terakhir yang terucap itu seolah-olah memberi sebuah tanda—peringatan kepada kami.


“Aku tidak tahu bagaimana akhirnya, tapi kalian berdua akan menghadapi sesuatu yang besar, dan mungkin hanya kalian yang sanggup melakukannya.”


“Itu tidak masuk akal, Yuna.” Meski begitu, perkataan si behel itu sama sekali tidak berdasar, jadi lebih baik untuk melupakan semua ini.


“Aku setuju denganmu.” Langkah Yuna tiba-tiba terhenti.


“Duh!” rintih seseorang, ia sepertinya menabrakku dari belakang. “Kenapa kau berhenti, sih?” tambahnya, dengan tatapan kesal.


“Ah, maafkan aku, aku ....” Tidak bisa mengelak. Ini salahku karena sudah berhenti mendadak di tengah trotoar yang padat.


Rupanya, gadis itu mengenakan seragam sekolah menengah pertama. Sepertinya ia baru saja pulang dari sekolah.


Tidak terlalu heran jika rasa lelah itulah yang membuatnya sedikit sensitif.


“Menyusahkan saja, mentang-mentang kau lebih tua dariku, bukan berarti kau bisa menguasai jalan ini seenaknya, tahu?” Setelah puas memarahiku, ia pergi meninggalkan kami dengan langkah tergesa-gesa.


“Apa semua orang di kota ini sedang berada dalam masalah yang berat?” tanyaku sambil mengerutkan kening.


“Maafkan aku, Hiro.” Yuna menunduk tanpa alasan, nada suaranya pun melemah.


“Eh? Apa yang kau lakukan, Yuna?”


“Kalau aku tidak berhenti, pastinya orang itu tidak akan menabrakmu,” tuturnya. Suaranya turun lagi satu gelombang.


“Itu semua sudah berlalu, jadi lupakan saja.” Aku kembali tertawa untuk mengembalikan senyumnya yang berubah kusut.


“Ba–baiklah.” Meski sebagian wajah Yuna tertutup oleh tudung jaketnya, tetapi aku bisa melihat pipinya yang merah merona.


“Kalau begitu aku akan mengantarmu ke stasiun."


“Eh, serius?” Yuna kembali mengangkat wajahnya. Ekspresinya turut sangat menggemaskan kala dia mengatakan itu.


Wajar saja, aku sama sekali tidak memberitahukan maksudku menemaninya berjalan hingga saat ini.


Yang terjadi kemudian, aku berjalan mendahuluinya seraya berkata, “Nanti kau ketinggalan kereta, lho, ayo cepat.”


“Hei, tunggu aku kalau begitu!” serunya. Gemuruh dari langkah kaki Yuna semakin terdengar mendekatiku.


Sebagai catatan, sekarang aku mengetahui satu hal lagi tentang Yuna. Dia adalah gadis yang ringan untuk berkata maaf saat dirinya merasa berbuat salah.


Akan tetapi, satu hal yang terpenting adalah gadis itu tidak boleh tahu lebih banyak mengenai organisasi Kak Aina, atau sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi.

__ADS_1


...———...


...Bersambung...


__ADS_2