Our Voice

Our Voice
51. Tidak Terduga


__ADS_3

...Bab 51...


...—Tidak Terduga—...


...( Hiro Sato )...


...———...


Untuk saat ini, kami hampir sampai di Restoran Pak Fujima.


Hanya butuh beberapa langkah lagi, tidak cukup banyak.


“Ngomong-ngomong ....”


“Apa?” tanyaku gugup.


Tentu saja perasaan yang berdebar itu masih hinggap di dadaku. Entah kapan dag-dig-dug ini akan berakhir, tetapi sepertinya hal demikian tidak akan terjadi hingga malam kembali meninggalkan tempatnya.


“Aku jadi lebih tua darimu, lho, sekarang.” Yuna terkikik, sedang tangan kanannya sibuk meraba-raba kain luar saku jaketnya.


Omong-omong, di sanalah dia menyimpan kotak musik pemberianku, hadiah pertama yang patut kuberikan pada seorang gadis.


“Aku tahu,” kataku.


“Masa, sih?”


“Kita hanya beda dua bulan, kan.”


“Ya, juga, tapi tetap saja aku yang lebih tua.”


Aku menghentikan langkahku, begitu juga dengan Yuna. Tak disangka jarak kami sedikit berbeda, dan Yuna-lah yang tertinggal di belakangku.


“Jadi, mulai sekarang aku akan mulai memanggilmu, Kakak?” Aku menggaruk pelan kepalaku sambil tersenyum.


“Tidak mau,” katanya.


“Kalau begitu berhentilah mengatakan itu.”


“Baiklah,” katanya lagi, tetapi kali ini dengan ekspresi yang tidak meyakinkan.


Tidak lama sesuatu terjadi di atas langit.


Belum berjalan lebih dari tiga langkah, kami refleks berhenti lagi dan mendongak.


Gemuruh petir dan kilat menyambar dengan kejam. Langit gelap menjadi lebih pekat, dan bahkan aku nyaris tidak melihat gumpalan awan yang biasanya bergerak dengan tenang di atas sana.


Deru angin mulai kembali terdengar.


“Huh?” Aku melirik kanan-kiri, tidak menemukan gemuruh angin tersebut.

__ADS_1


Pada akhirnya, gemuruh angin tersebut datang dari belakang tanpa kami sadari, menerjang dengan kuat dan memisahkan diriku dan Yuna.


Kali ini warna angin itu adalah hitam; hitam yang pekat, sama seperti warna langit yang menghiasi malam ini.


Gelombang angin itu pun membentuk sebuah dinding besar, seperti tembok pembatas yang terbuat dari bahan bangunan yang tidak akan pernah ditemukan di dunia ini. Yuna sekarang begitu khawatir, raut cemas timbul bertahap dari wajahnya yang muram.


“Kau baik-baik saja, Yuna?” teriakku sambil menyipitkan mata.


“Aku ....” Tiba-tiba suara Yuna terputus. Dia memegangi kepalanya, dan dirinya pun terlihat seperti menahan sakit. “... baik-baik saja!”


Aku bertanya sekali lagi. “Apa kau yakin? Sepertinya tidak—“


Salah satu dari sisi bagian dinding angin itu membentuk tangan berukuran setengah badanku, lalu ia memukulku dengan tinjunya yang dikepal.


“Argh!” Diriku terpental ke tengah aspal jalan. Beruntung tidak ada satu pun dari kendaraan publik yang sedang melintas.


“Hiro! Hiro! Hiro ....”


Entah berapa kali Yuna berteriak kepadaku, tetapi kesadaranku nampaknya sulit untuk dikendalikan. Namun, aku masih harus mencoba untuk berdiri. Mungkin saja fenomena badai dan topan di sisi selatan kota yang terjadi saat ini ada kaitannya dengan Yuna.


Dia Gadis Pengendali Angin, sesuai yang pernah dia katakan, kan?


Sebelum aku berteriak, gadis itu pun berteriak, “Pulanglah sekarang!”


“Apa maksudmu?”


“Pulanglah, di luar sekarang sedang tidak aman,” balasnya.


“Sudah kubilang, aku tidak akan pergi tanpamu.”


“Cepatlah pulang!” Kali ini Yuna benar-benar membentakku.


Aku bisa melihat air mata yang meluap-luap di mata gadis tersebut, meski pada faktanya angin yang pekat sedang membangun dinding besar nan kokoh di antara kami.


“Sekali lagi, kumohon pulanglah dan tinggalkan aku!” Dia menyeka air matanya beberapa kali, tetapi isak tangisnya tak kunjung berhenti.


Situasi ini membuatku pusing, cemas, khawatir, dan takut. Hebat sekali. Hanya dengan terpaan topan yang jaraknya bahkan lumayan jauh dari tempat kami berdiri, semua kejadian ini nyaris menghancurkan acara pesta ulang tahun yang sudah aku rencanakan bersama Kak Aina dan Kak Ryuji.


Himbauan di bus itu ternyata benar-benar memberi peringatan, tetapi kami malah mengacuhkannya hanya demi keinginan pribadi semata. Aku tidak menyangka jika dampak yang dihasilkan dari badai itu bisa sampai menyebar hingga ke seluruh penjuru kota. Tidak kusangka pula hal ini membuat Yuna menangis, padahal ini hari yang sangat spesial baginya.


Aku ingin merayakan momen langka setahun sekali itu bersama dengannya; di awal tahun pertama kali kami berteman. Bagaimana jika sudah seperti ini? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak akan pulang jika gadis itu tidak memberitahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.


“Apa yang akan terjadi padamu, Yuna?” tanyaku, dan setelah sekian lama akhirnya aku bisa berdiri.


“Aku juga akan pulang, sama sepertimu!”


Kali ini, wujud tangan itu kembali keluar dari dinding angin yang membatasi kami. Buruknya lagi, mereka jadi jauh lebih banyak, dengan ukuran yang lebih besar pula.


Ini lebih dari sekadar gawat.

__ADS_1


“Sekali lagi, pulanglah! Tolong dengarkan aku!” Yuna kembali berteriak. Suaranya berubah serak, dan sepertinya itu akan menjadi kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku hari ini.


Untuk sejenak aku kembali memerhatikannya.


Dari wajahnya saja bisa terlihat jika Yuna ingin sekali melihat kejutan yang telah kupersiapkan. Namun apa daya, kejadian di luar perencanaan seperti ini ternyata bisa memberikan kerusakan yang signifikan untuk acara besarnya yang telah menunggu dengan setia.


Sangat menyebalkan.


“Baiklah, hati-hati, ya, Yuna!” sahutku.


Yuna terdiam sejenak. Tampak dari bibirnya mengatup dan pucat seolah menjelaskan semua ketakutan yang dirasakan gadis tersebut.


Meski gadis itu yang terpilih sebagai apa yang pernah dia katakan, tetapi tampaknya salah satu dari sifat manusia yang paling menyebalkan itu tetap saja melekat pada dirinya.


Tidak lama Yuna mengangguk sebanyak dua kali, kemudian berlari dan menjauh dari tembok angin yang sempat memisahkan kami.


⠀ ⠀



Aku menarik kata-kata nyaris tadi dan menggantinya dengan kegagalan. Pestanya benar-benar usai, bahkan sebelum dirayakan.


Padahal ini adalah hari yang menyenangkan, salah satu momen yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


Akan tetapi, mirisnya itu berakhir dengan sangat buruk, atau bahkan jauh lebih tragis dari kemungkinan terburuk yang sudah kupikirkan beberapa waktu yang lalu.


Meski itu sangat mendadak ( karena aku baru mengetahui ulang tahunnya hari ini ), tetapi aku sudah memikirkan semuanya dengan sangat matang.


Jadi, aku sekarang mengerti. Inilah yang dimaksud dengan peribahasa Manusia yang merencanakan, dan Tuhanlah yang menentukannya.


Itu tidak adil.




Sekarang, aku berdiri di depan restoran sambil meratapi pintu masuk cokelatnya yang masih tertutup rapat. Masih dengan gelombang angin yang berkecamuk hebat di mana-mana, dan bodohnya lagi aku sama sekali tidak berniat untuk menyentuh gagang pintu tersebut untuk masuk ke dalam sesegera mungkin.


Kenapa, ya?


Saat ini aku hanya memikirkan Yuna. Pemikiran seperti Dia sudah kembali belum, ya? terngiang-ngiang dalam benakku tanpa henti.


Rumah Yuna ada di distrik yang berlainan di kota ini, dan tentu saja itu cukup jauh. Stasiun kereta pastinya sedang tidak berfungsi dengan normal, atau malah operasinya bisa saja diberhentikan untuk sementara waktu.


Aku ingin menyusul Yuna dan memastikan semuanya dengan mataku sendiri. Pemikiran ini seperti mengekang dan menyiksa diriku, tetapi memang sudah seharusnya seperti itu.


Tidak lama gagang pintu terdorong ke bawah, seseorang ke luar dari dalamnya.


“Hei, Hiro, kami sudah menunggumu.” Kak Ryuji tersenyum lebar, dengan gitar akustik yang dipegang di tangan kanannya.

__ADS_1


...^^^———^^^...


...Bersambung...


__ADS_2