
Episode 44
Mesin Capit Boneka II—
...💨💨💨...
...~ Yuna Aoki ~...
Pemuda itu sangat gigih. Sejak tadi, dia tidak pernah berhenti berjuang untuk mencapit satu dari sekian banyak boneka yang ada di dalam mesin tersebut. Aku tidak yakin keberuntungan pria itu cukup baik, masalahnya semua itu sudah terlihat di depan mata.
Ini adalah percobaannya yang ke-28. Jika total koin yang tersisa ditambah dengan koin yang baru saja kubeli di loket sebelumnya berjumlah empat buluh buah, maka total dari nyawa kami adalah 44. Berarti, tersisa 16 Kali lagi sebelum kami pulang dari tempat ini. Namun, tentu saja, 1900 Tiket itu pastinya sudah terkumpul, dan aku sudah pasti bisa mendapatkan boneka itu dari hasil pertukaran hadiah yang legal.
“Boleh gantian denganku?” Maaf saja, tetapi aku juga ingin main, tahu.
Hiro menatapku lesu, dia tampak sudah berada di ujung tanduk. “Baiklah, sini-sini ....” Dia dengan sigap menggeser tubuhnya, kemudian aku bisa melihat sesuatu yang berbeda darinya.
Itu sangat mengejutkan, sungguh.
Kantung mata pemuda itu cukup tebal. Aku khawatir jika dia kurang tidur belakangan ini.
Entah kenapa, tetapi aku kerap kali memerhatikannya terus-menerus. Wajar saja, karena dia adalah temanku; satu-satunya orang yang mau mencoba mengerti keluh kesah yang aku rasakan saat ini.
Saat aku hendak menyentuh tombol kendali yang menggerakkan mesin capit tersebut, Hiro berkata, “Eh, Yuna!” Tiba-tiba dirinya menjadi sehat bugar.
“Kenapa?”
“Boleh aku meninggalkanmu sebentar?”
Aku cemas waktu dia berkata seperti itu. Kenapa, ya? “Kamu, mau ... ke mana ....” Aku gugup kala mengatakannya.
“Sepertinya” —Hiro menggaruk halus kepalanya—“aku mau beli sesuatu.”
“Sesuatu? Seperti apa?” Aku berharap dia tidak kecewa padaku yang terlalu cerewet ini.
“Ya, mungkin hanya melihat-lihat saja. Sesuatu yang pengin aku beli pokoknya.”
“Tapi nanti ke sini lagi, kan?”
“Pertanyaan macam apa itu?” Hiro seperti tersentak. Apa bertanya seperti itu kepada lawan jenis tidaklah etis? “Tentu saja aku akan kemari lagi, cuma sebentar saja, kok.” Tatapannya yang sangat tenang seakan-akan berusaha meyakinkanku.
“Baiklah, aku akan menunggumu sambil bermain ini.” Aku menunjuk mesin Minnie itu menggunakan telunjukku, dan tatapanku tetap terfokus padanya.
__ADS_1
“Sampai jumpa lagi,” katanya sambil berjalan meninggalkanku.
“Juga ....”
Derap langkah kaki pemuda itu perlahan meninggalkanku.
Kenapa? Kenapa? Kenapa aku merasa tidak tenang, ya?
Apa ini karena aku sudah terbiasa bersama dengannya? Ke manapun kami melangkah, melewati pasar swalayan dan masuk ke dalamnya, bercengkerama bersama di taman sambil menikmati pemandangan langit dengan iringan kicauan burung nuri, duduk dan makan siang bersama di restoran Pak Fujima, dan juga masih banyak hal lainnya yang bahkan terlalu banyak jika harus diungkapkan.
Padahal kami baru bertemu satu bulan lebih. Kami baru berteman seumur jagung—bahkan belum ada seperempatnya. Akan tetapi, kenapa aku merasa nyaman saat berbincang dengannya?
“Kakak?” Sebuah suara memanggilku. Saat aku menoleh ke kanan dan sebaliknya, tidak kutemukan seorang pun yang hendak memulai pembicaraannya denganku.
Apa ada hantu di tempat ini? Mereka juga bisa bermain mesin gim dengan berbagai jenis genre yang ada di dalamnya? Pasti akan seru bila aku menantang salah satu dari mereka.
“Kakak, gadis yang tadi, kan?” Suara itu ternyata nyata. Bukan hantu, atau sosok gaib yang sedang kupikirkan, melainkan seseorang yang bernyawa, pastinya, ya.
Setelah kembali melirikkan pandanganku ke kanan dan sedikit merendahkannya, di sana ada sepasang anak yang tidak asing bagiku.
Mereka adalah Raku dan Miro—kedua anak yang tadi kami ajak berdamai karena pertikaian ringan mereka.
Aku berdeham, kemudian tersenyum pada mereka sambil berkata, “Bagaimana mainnya? Apa itu menyenangkan?” Pertanyaanku merujuk pada aksi perang-perangan yang mereka lakukan di wahana arena mandi bola sebelumnya. Semoga mereka sadar.
“Dasar bodoh!” celetuk Miro yang bersisian di sebelahnya.
“Aku kan nanya, lho.”
“Kakak ini tadi melihat kita main di arena mandi bola tadi bersama dengan temannya. Uh, anu, siapa, ya, nama temannya tadi itu ....”
“Hiro.” Sebelum aku mengatakannya, anak bernama Raku ini mendahului niatku. Sepertinya ia sangat gesit jika diharuskan ikut dalam kuis cerdas cermat.
“Nah, mereka berdua tadi melihat kita, Raku,” jelas Miro.
“Oh, begitu.” Tanggapan Raku begitu singkat.
“Ngomong-ngomong, kalian belum pulang?” Aku berjongkok sambil memegang kedua pundak mereka, tidak lupa dengan senyuman yang biasa kulampirkan pada siapa pun yang kutemui.
“Aku—“
“Kami akan pulang sebentar lagi, Kak!” Tiba-tiba Miro menyelak perkataan temannya. Suara itu sangat cepat dan tegas, tetapi aku bisa melihat lisannya yang sedikit bergetar dan tangannya yang tidak bisa diam. Mungkin ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku?
__ADS_1
Namun, siapa peduli dengannya? Menurutku, mungkin anak-anak ini masih ingin bermain lagi di sini, tetapi takut aku membentak keduanya agar segera pulang dan kembali bertemu dengan masing-masing orang tua mereka.
Itu tidak mungkin kulakukan. Aku adalah gadis yang bisa mengerti dengan tipikal anak-anak yang masih ingin bermain sesuai dengan jenjang usianya. Maka dari itu aku berkata, “Masih ingin bermain lagi, ya?” tanyaku sambil terkikik.
“Se–sebenarnya ... iya.”
“Ya, Kak, kami ... masih punya banyak koin.”
Akhirnya mereka berdua berterus terang. Kalau begini pasti akan terasa damai. Bahkan seluruh orang dewasa dan kawula muda pun pasti setuju dengan kenyataan ini.
“Kalau begitu, mau main bareng Kakak?”
“Main apa?” tanya Raku sambil melebarkan matanya.
“Nih.” Aku menempelkan telapak tanganku pada bagian kaca Minnie—mesin capit boneka—yang membuat Hiro hampir saja kehilangan harapan hidupnya ( aku berani mengatakan ini karena memang wajahnya tadi sempat menunjukkan aura semacam itu ).
“Wah, boleh, boleh!” Karena Miro melangkahkan kakinya ke depan, aku perlahan menggeser tubuhku ke sebelah untuk memberinya ruang.
“Mau coba?”
“Tentu saja!” sahutnya riang.
“Semoga kau kalah, Miro,” gerutu Raku. Dari tatapannya seolah-olah menyiratkan jika dirinya juga ingin bermain mesin capit boneka tersebut.
Miro tidak menunjukkan reaksi apa pun kecuali menyunggingkan senyumnya. Kemudian, anak laki-laki berkacamata itu memasukkan koin yang ia miliki ke dalam lubang mesin, lalu setelah lampu indikator yang berada di panel kontrol mesin berubah hijau, anak itu dengan semangatnya menggerak-gerakan laju capit tersebut dengan arah yang tidak beraturan.
Ia sama sekali tidak terlatih.
“Sini, biar Kakak ajarin.” Aku kembali mendorong badanku ke depan, berdekatan dengan Miro dan mengambil alih setengah dari kendalinya.
“Maaf, Kak,” jawabnya lugu.
“Tidak apa.”
Aku meletakkan telapak tanganku di atas telapak tangan Miro yang sedang memegang tombol kendali untuk menggerakkan capit tersebut. Rasanya cukup lembap dan berkeringat, tetapi aku tidak terlalu memedulikan itu.
Setelah Miro memberitahu boneka mana yang ingin ia ambil, aku segera membantunya untuk mengarahkan capit itu ke tepi kaca ( kebetulan yang anak itu mau sedang duduk dengan nyaman di sana ).
Aku dan si anak berkacamata itu bersama-sama berteriak, “Yes!” karena sudah berhasil mencapit serta menjatuhkan boneka winnie the pooh itu ke satu-satunya lubang yang berada di dalam mesin Minnie tersebut.
...💨💨💨...
__ADS_1
...Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya :)...