
Setelah sampek di mall mereka memasuki salah satu cafe yang tidak terlalu banyak pengunjung. disana mereka mencari tempat yang benar-benar nyaman dan bisa rileks.
di dalam cafe itu terdapat tempat ruangan khusus berdinding kaca berlantai kayu dan di dihiasi dengan rumput dinding taka berwarna ungu menyala dan terdapat lampu gantung besi siku sangkar segitiga. yang semakin memperindah ruangan cafe itu.
waktu devi lagi asyik ngobrol dengan dhenis menceritakan kejadian kecelakaan itu.
lagi-lagi dhani memperhatikan sahila entah kenapa hari itu devi melihat dhani dengan pandangan lain dan saat itu pula devi menaruh curiga " apa dhani ada perasaan lain ke sahila" batin devi sejenak melirik ke sahila dan kembali melirik dhani dengan seksama " ah masak. biar ku pastikan dulu. mungkin hanya perasaan ku saja." lanjut batin sahila sembari memegang kepalanya yang sedikit pusing mungkin karena kejadiaan saat kecelakaan tadi. " apa kamu gak papa atau ada yang terluka" ujar dhenis ke devi dengan rasa khawatir.
" enggak kok. tadi cuma kaget aja, jadi gw refleks marah aja terus mobil nya sahila tuh yang kenapa-kenapa kan jadi gw yang merasa bersalah kalau gini cara nya" jawab ketus devi dengan alis hampir menyatu sembari menyandarkan tubuh nya di dada kursi.
terlihat jelas setelah seorang pelayan cafe membawa nampang dengan empat cangkir kopi dan beberapa snack, berdiri di pinggir dhani sedang menaruhnya di meja. tiba-tiba..!
" ah sini mbak, ini yang caramel kan? " tanya dhani dengan memberikan secangkir kopi itu kearah sahila yang sedang duduk bersandar disofa dengan memejamkan mata. sontak membuat devi melotot
" ih apa.an " kata devi batin dengan tubuh tegak yang tadi nya bertubuh lemas di dada sofa.
" sahila. ini kopi kamu di minum dulu gih " ucap dhani suara merdu dengan menyodorkan secangkir kopi.
"oh iya makasih dhan " sahut sahila kaget dengan dahi berkerut aneh.
melihat aksi devi dan sahila terkejut membuat dhenis terkikik pelan sembari menutup mulut.
semakin meyakinkan devi kalau dugaan nya emang benar. dhani ada perasaan lain ke sahila. karena itu bukan sifat dhani yang suka caper atau bicara halus dan bersikap sopan.
sontak devi langsung menyikut tangan dhenis
" kenapa adik lu yang. habis kesambet apa.an tuh? " bisik devi dengan melirik tajam kearah dhani.. " hustt... diam gak usah berisik. kita perhatikan saja " sahut dhenis dengan menggelengkan kepala sembari tersenyum.
" ehmm.. cie-cie dhani perhatian banget sama sahila. gw aja yang calon kakak ipar nya gak gitu-gitu banget" sindir devi dengan bibir kebawah.
" ya kan lu sudah ada dhenis, ngapain minta perhatian gw. kurang.?" suara ketus dhani.
__ADS_1
" ye itu kan bukan lu dhan, jangan- jangan lu" belum selesai devi bicara. mulut devi sudah dilempar stik kentang. " ih apa an si lu dhan." teriak devi
"yang...!!" lanjut rajuk nya manja ke dhenis.
" hahahah.. mangkanya dong vi jangan jaim-jaim dong jadi orang. ya kan wajar dhani khawatir sama gw secara kita hampir mati. bukan kah begitu dhan " ujar sahila dengan dahi keatas .
" tau nih orang resek banget." sahut dhani dengan melempar stik kentang.
kekehan tertawa seksama pun terdengar dari ruangan itu yang tadi nya sunyi.
" eh yuk vi kita muter-muter, cuci mata " ujar sahila meringis
" ayok disini ada si resek tengil, nyebelin " sahut devi sengak dengan berdiri sembari melempar stik kentang ke arah dhani.
" cewek lu tuh " ujar dhani.
" calon kakak ipar lu. haha.!" ledek dhenis
tidak lama mereka menjelajahi mall itu. sahila tiba-tiba ingin buang air kecil dan meninggalkan devi di salah satu butik baju. seketika sahila masuk lorong toilet tiba-tiba tidak sengaja dia menabrak seorang pria tinggi dan gagah. " ah maaf " ujar sahila dengan membungkukan badan.
" sahila " ucap pria itu.
" eh. om edo " kaget sahila sembari diiringi cekikan mereka berdua di lorong toilet itu.
tak banyak bicara sebelum om edo pergi dia menyampaikan sesuatu ke sahila tapi om edo butuh waktu luang untuk membicarakannya karena dengan padat kerjanya sebagai pengacara dia terlalu sibuk.
setelah bertemu dengan om edo sahila tak banyak bicara dan pandangan nya kosong. setiap diajak ngomong devi selalu gak nyambung di mintai pendapat warna malah bengong. dalam perjalanan ke cafe sahila mengucapkan sesuatu " ma "
" apa?" sahut devi dengan melihat ke arah sahila tapi sahila tidak bersuara. " sa " teriak devi.
" ya apa vi " lirih sahila.
__ADS_1
" ha? apa.? lu kenapa sa sejak dari toilet lu gak fokus banyak bengong nya. kesambet setan toilet ha?" ujar devi dengan menaiki dahi nya kearah sahila.
" enggak. ga papa vi. tadi gw ketemu om edo di lorong toilet." lirih sahila tidak jelas.
" ya trus? apa hubungan nya sama kebengongan mu ini." balas devi bingung dengan mendongakkan kepala.
tanpa banyak bicara tiba-tiba sahila minta maaf untuk segera pulang tanpa mengantarkan devi ke kampus atau pun juga ke cafe untuk berpamitan ke dhenis dan dhani.
dari di tinggal sahila pergi sampek nyampek ke tempat cafe. sepanjang perjalanan itu devi ngomel sendiri.
kedua saudara kembar itu dibuat kaget oleh tas-tas belanja bawaannya devi.
Brakk..
" buhsyet kenapa lu yang dateng-dateng marah-marah.?" ujar dhenis sambil mendongakkan kepala dengan devi yang masih berdiri, mulut manyun.
" sahila mana " sahut dhani dengan celingak-celinguk
" gak ada. udah pergi pulang gw di tinggal sendirian. gak jelas banget." kesal devi.
*Kediaman pak sahil*.
tap. tap. tap
huhuhu... huhuhu....
suara tangisan sahila di dalam kamar.
" ada om yang bicarakan sama sahila tentang mama mu. tapi tidak sekarang ataupun nanti. tapi saat waktunya tiba om akan datang kepada mu."
" ma " hiks.!
__ADS_1