Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 25


__ADS_3

keseruan malam itu pun berlangsung.


Sahila dan Dhani memimpin jalan yang ia telusuri. terdengar dari teriakan Cindy bahwa ia sangat menyukai itu dan pengalaman bersepeda pada malam hari itu sangat lah seru dan menantang.


Sahila pun menoleh kebelakang dan melihat kearah Cindy yang berteriak dan tertawa terbahak-bahak karena Haykal bukanlah bersepeda yang tangguh, sepeda yang dikendarai Haykal selalu berbelok-belok tidak lurus terlihat di ban depannya oleh Sahila yang akhirnya nyusul Cindy menertawakannya.


" wahahah.. lihat itu Kal kau tidak begitu jago dalam hal bersepeda sepertinya kau harus belajar dari Dhani," teriak Sahila dengan menoleh tepat dibelakangnya


mendengar itu jelas membuat Haykal sangat malu dan harga dirinya seperti terjatuh saat dia harus belajar ke dhani.


" ya, mungkin aku tidak jago dalam hal bersepeda tapi gw jago dalam hal pembalap mobil," ujar Haykal kesal dengan menyunggingkan senyumnya ke atas.


" ya haykal kapan-kapan kita harus balap mobil, aku ingin lihat kamu dalam hal itu, untuk sekarang luruskan saja setiran sepeda mu itu. apa kau tidak malu dengan cewek dibelakang mu. apa kata orang nanti jika melihat mu seperti itu, hahaha..," imbuh Dhani


layaknya seorang anak kecil yang baru bisa naik sepeda.


Sahila pun tersenyum bahagia dan teriakan Cindy dibalas oleh Sahila.


" apa kau sangat menikmati malam ini" teriak Sahila yang sedang menoleh kebelakang mengarah ke Cindy.


" iya Sahila, thanks you karena undangan mu aku bisa merasakan keseruan ini.. ini sangat luar biasa dan aku sangat.. sangat bahagia," teriak Cindy mendongakkan kepala sembari merentangkan tangan.


mendengar teriakan Cindy yang girang itu membuat semua orang juga merasakan kebahagiaan tersendiri dan malam liburan itu jadi sangat seru dan rame karena keramahan cindy.


malam pun semakin larut dan bersepeda mereka pun berakhir, mereka semua kembali ke hotel village itu. dalam perjalanan dari pintu masuk hotel ke kamar terdengar rengekan Cindy yang minta gendong Haykal.


" apa kau tidak lihat tangan ku juga bengkak, gara-gara sepeda sialan itu," bentak Haykal yang sedang mencoba meluruskan tangannya itu.


" hmmm.. gitu mau ngajak balap mobil, pegang setir sepeda yang lebih ringan aja udah bengkak," sindir Dhani dengan merenggangkan jemarinya.


" tutup mulut mu itu Dhani," teriak Haykal kesal.

__ADS_1


" Dhani, udah dong jangan berantem" sahut Sahila dengan melotot kan matanya kearah Dhani.


Melihat kearah Sahila, Dhani pun akhirnya menutup mulutnya dan kembali berjalan dengan baik dan Dhani pun mempercepat langkahnya untuk mendahului Haykal yang saat ini sudah berada didepannya.


Brak!


Setelah pintu itu tertutup, Devi meluapkan semua amarahnya pada Sahila dan mengutarakan kecemburuannya terhadap Cindy.


Devi tidak pernah menduga jika Dhenis yang selama ini setia dan gak pernah melirik cewek siapapun kecuali Devi.


"Saat ini dengan berani Dhenis melirik Cindy" ucap Devi dengan nada tinggi langsung memalingkan wajah kearah kaca jendela.


Mendengar isi hati Devi. Sahila pun langsung memeluk tubuh sahabatnya itu dari belakang dan meyakinkan Cindy bahwa sebenernya tidak ada wanita lain selain dirinya.


" Dhani hanya khilaf," ejek Sahila dengan tertawa kecil.


" bisa-bisa nya lu ya bercanda, " bentak Devi dengan melempar bantal kearah wajah sahila


" udah ah, gw mandi dulu. gerah," rengek sahila dengan langkah menuju ke kamar mandi.


Devi pun akhirnya mulai tenang dengan nasehat sahila dan dia langsung memalingkan wajah nya menatap layar ponsel. dilayar depan terdapat wallpaper dirinya dengan dhenis yang sedang berpelukan mencium lembut pipi devi.


Melihat itu Devi pun tersenyum malu dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur sahila yang berada di dekat kaca jendela dengan menatap langit penuh dengan awan hitam. membayangkan betapa bahagianya devi memiliki seorang pacar yang sangat menyayanginya dan mencintai dirinya. dengan penuh kesabaran Dhenis selalu memanjakan Devi.


Mengingat hal itu semua Devi pun melupakan kesalahannya dan kembali untuk mempercayainya.


tak lama kemudian Sahila pun keluar dari kamar mandi.


Melihat Devi yang berbaring ditempat tidur nya, Sahila pun tak terima dan menyuruhnya untuk berdiri dan mendorong tubuh mungilnya itu kedalam kamar mandi.


" gak sopan banget si lu, sa!" teriak Devi di dalam kamar mandi.

__ADS_1


" BODO AMAT," ucapku nada tinggi langsung menjatuhkan tubuhnya dengan kasar diatas kasur dengan tengkurap.


Tak lama kemudian, Devi yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat Sahila yang sudah memejamkan matanya dan mengeluarkan suara tidak jelas di mulutnya itu.


Malam pun berlalu, dan matahari itu menerangi jendela Sahila, tidak terasa jam dinding menunjukan pukul 08.00 dan suara ketukan dari arah pintu masuk, suara dhenis memanggil-manggil nama devi dan aku pun terbangun.


" vi..! Dhenis manggil lu tuh bangun" lirih Sahila dengan melempar wajah Devi yang tertutup selimut putih itu.


tapi devi tetap tidak mendengar dan merasakan lemparan bantal dari Sahila.


Karena kesal Sahila pun beranjak dari tempat tidur dan membuka selimut devi dengan kasar dan membuangnya kelantai.


" emmm.. apaan si lu Sa, ganggu tidur aja.. masih pagi banget nih.. gw gak ikut olahraga mending lu aja sana pergi gih," rengek devi dengan membalikan tubuhnya dan menutup kembali wajahnya dengan bantal kali ini.


Sahila yang setengah sadar itu pun langsung kembali tidur, ketempat tidur dan tidak menghiraukan ketukan Dhenis.


Dhenis yang tidak dihiraukan itu pun akhirnya kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel di atas meja.


" kok balik? Devi belum bangun," tanya Dhani dengan memalingkan wajahnya ke layar ponsel


" sepertinya mereka lagi pingsan. gw ketuk berulang kali tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar mereka," ucapnya kesal dengan menekan tombol memanggil. tapi itu pun juga sia-sia karena ponsel Devi terjatuh ke lantai dan tertimpa oleh selimut yang Sahila jatuhkan di atas lantai, sedangkan ponsel Sahila mati.


" udahlah percuma kamu telfon mereka gak akan dengar, tau sendiri jika mereka sudah tidur pulas mereka tidak akan mendengar apapun. seperti orang meninggal," timpal dhani langsung memalingkan wajahnya dari layar ponsel


" kalau kamu udah lapar, kamu sarapan dulu sana sama si seksi bak gitar spanyol," usul Dhani dengan beranjak dari tempat tidur dan melangkah kearah kamar mandi


" siapa yang kau maksud?" tanya Dhenis penasaran


" temannya ******** itu, si Cindy. Hahahah" teriak Dhani dengan tertawa terbahak-bahak dengan memutar shower dan membasahi tubuhnya.


" sial lu. jangan lagi lu sebutin nama itu apalagi di depan Devi" ujar Dhenis kesal

__ADS_1


mendengar Dhenis kesal Dhani pun tertawa terbahak-bahak tidak menyangka Dhenis marah saat dia menyebutkan nama Cindy dan Dhenis masih sangat mencintai Devi dan menghargai perasaan Devi dengan sangat baik.


__ADS_2