Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 46


__ADS_3

Saat Sahila berjalan di lorong rumah sakit ia merasakan sakit hati yang amat sangat sakitnya, ia tidak sakit hati ataupun tersinggung dengan kata-kata Devi sahabatnya itu tapi dia sakit karena ia sudah sangat mengecewakan para sahabatnya itu sehingga Devi mengutarakan kata-kata kasar yang tidak pernah ia lontarkan kepada Sahila.


Sahila tau ia juga sangat melukai raga dan batin Dhani dan tidak seharusnya dia memberikan harapan apapun kepada Dhani tapi Sahila juga tidak bisa menjauhi Dhani karena Dhani lah satu-satunya orang yang sayang dan perduli sama dia, kurang lebih Dhani sangat mengerti Sahila apapun yang Sahila mau Dhani selalu menurutinya.


Sosok Papa Sahil Dermawan ada pada diri Dhani, Sahila selalu merasa nyaman dan aman saat dekat dengannya, dan kasih sayangnya amatlah besar. Itu yang membuat Sahila sangat berat untuk melepas sahabatnya itu.


Dhani tidak pernah mengatakan isi hatinya tapi Sahila juga tau di hati Dhani yang paling dalam ada cinta untuk nya, tapi apa daya perasaan itu terlambat untuk di sadari nya, kini semua sudah hancur. Tidak akan ada cinta lagi yang Sahila harapkan dari Dhani, Sahila hanya mengganggap teman masa kecilnya tidak lebih.


Sepanjang perjalanan lorong rumah sakit itu Sahila terus menangis dengan jalan seperti orang ling lung, semua orang yang melihat dan membicarakannya tidak ia hiraukan. Sahila terus berjalan dengan tatapan ke depan dan air mata yang terus mengalir.


Sesampai di trotoar depan luar Rumah sakit itu Sahila berjalan dan seketika ada yang membunyikan klakson dari sisi trotoar itu, tanpa menoleh dan di sadari nya Sahila terus berjalan, jalan raya yang ramai dengan suara kendaraan yang bersautan itu seakan-akan hening bagi pendengarannya.


Tin tin tin ...


Suara klakson yang terus berbunyi berulang-ulang kali tapi Sahila sama sekali tidak terganggu olehnya.


Seseorang yang menyembunyikan klakson mobil itu teriak memanggil nama Sahila, melirik ke arah rambu-rambu yang di larang parkir di sepanjang jalan sisi trotoar itu. Cowok itu langsung turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil dari sisi berlawanan itu Cowok itu langsung menghampiri Sahila tanpa memperdulikan peringatan rambu-rambu lalu lintas itu.


Seorang pria itu langsung menggendong Sahila dan memasukkan tubuhnya ke dalam mobil miliknya itu, dengan sangat terkejut Sahila melotot kepada pria itu yang tanpa ia sadari ia sudah berada dalam gendongannya.


"Hai lepaskan," teriak Sahila saat tersadar dalam gendongan pria itu.


Brak


Suara pintu mobil yang terbanting sangat keras.


"Haykal kamu sudah gila ya?" teriak Sahila saat pria itu sudah duduk di kursi mengendarai itu.


"Gila? ya aku dan kamu memang sudah gila, ngapain kamu jalan seperti orang ling lung seperti orang gila. Aku dari tadi ngelakson dan teriak-teriak memanggil nama kamu tapi kamu sepertinya menutup telinga mu dengan rapat," teriak balik Haykal dengan membetot kan bibirnya ke pinggir.

__ADS_1


"Kamu dari tadi memanggil aku dan klakson aku? tapi aku tidak dengar," ucap Sahila bingung.


"Jika kamu dengar kamu pasti sudah duduk di sini tanpa paksaan dari ku," ujar Haykal kesal.


"Iya maafkan aku," lirih Sahila.


"Maaf? sebelum mobil kita ini di derek, boleh kah kau izin kan untuk melajui mobil ini," ujar Haykal.


"Ya jalan, emang gue ngelarang lu untuk melaju."


"Sepertinya kamu ngebet banget ya," desis Haykal sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah Sahila seolah-olah ingin mencium bibir Sahila.


"Apa an si lu Kal!" sontak Sahila kaget dengan mendorong dada bidang Haykal dengan kasar.


"Au!" Rajuk nya manja. Dengan terheran-heran Sahila melirik Haykal jijik.


"Siap tuan putri." Haykal pun menyalakan mesin nya dengan kecepatan 100 km.


Saat mobil itu melaju dan hanya terdengar suara musik yang terdengar dari mobil itu, Sahila bertanya-tanya bagaimana bisa Haykal dapat menemukan Sahila sedangkan Sahila tidak mengatakan apapun.


Bahkan saat Haykal menelfon Sahila juga tidak mengatakannya apalagi memberitahukan dia bahwa dia ada di rumah sakit, "Apa ini kebetulan ya?" batin Sahila sembari melirik Haykal yang sedang mengemudi dengan santai sembari menggeleng-gelengkan kepala mengikuti irama music.


"Tapi kok kebetulan banget gini ya." Sahila semakin bingung dan ia tidak yakin jika ini pertemuan yang kebetulan, sembari membuka ponselnya Sahila melihat pesan mungkin saja dia tidak sengaja mengirim kan pesan kepada Haykal saat ia memberi kabar kepada Devi dan juga Dhenis.


"Tidak kok aku tidak kirim apa-apa kepada orang ini," gumam Sahila tidak jelas.


"Ya kenapa Sa?" tanya Haykal mengejutkan Sahila yang sedang bengong.


"Tidak, bukan apa-apa," sontak Sahila kaget.

__ADS_1


"Oh kirain kamu ngomong sesuatu," ucap Haykal sembari sesekali melirik Sahila.


Sahila pun mengembalikan ponselnya ke dalam tas miliknya, sembari melirik ke arah Haykal bingung.


"Kamu tadi ngapain ke rumah sakit itu, kamu sakit? kok tadi aku telfon kamu susah banget buat di hubungi," ujar Haykal.


"Tidak aku baik-baik saja." Sahila tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena Sahila tau Haykal tidak akan menyukai itu kurang lebih Sahila tidak mau ada drama lagi di antara mereka.


"Lalu ngapain kamu ke rumah sakit itu ini kan jauh dari rumah mu, sangat jauh malah ini sampai perbatasan kota kita," ujar Haykal sembari melirik Sahila tajam.


"Bukan urusan mu," ujar Sahila kesal.


"Ehmmm.. kok nggak bawa mobil terus rambut kamu kok mamel gitu, habis nyemplung ke mana kamu?" tanya Haykal lagi.


"Aku bilang bukan urusan kamu!" Sahila semakin kesal dengan pertanyaan pertanyaan Haykal yang terlalu mengurusi kehidupan Sahila.


"Ya ini urusan gue, bagaimana pun juga kamu ini cewek gue. Hayo! kamu habis pergi sama siapa?"


"Apa an si kamu Kal, kamu tidak berhak ya interogasi gue seperti ini. Kamu bukan siapa-siapa aku dan tidak ada hubungan sepihak yang melibatkan dua orang, NGERTI!" bentak Sahila dengan nada tinggi.


Haykal yang hati nya sedang berkobar-kobar berusaha tenang di depan Sahila, Haykal tidak ingin membuat kesalahan dan membuat Sahila semakin membencinya dengan menghela kan nafas Haykal mulai bertutur lembut kembali.


"Sepertinya hari ini kamu sangat kesal sekali dan I don't mind that. Apa kamu lapar?" tanya Haykal sembari meraih tangan Sahila yang berada di atas pahanya.


"Tidak gue tidak lapar, gue sudah makan gue hanya ingin pulang. Aku harap kamu mau langsung mengantarkan aku pulang," ujar Sahila dengan nada pelan.


Tidak ingin membuat mood Sahila semakin berkobar, Haykal pun menuruti Sahila yang ingin langsung pulang, meskipun Haykal sebenarnya sangat ingin sekali seharian ini berduaan saja hanya sama Sahila.


Tapi karena tidak ingin mengecewakan kan kembali mengambil hati Sahila, Haykal terpaksa harus menuruti permintaan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2