Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 40


__ADS_3

Setelah Sahila tenang dalam pelukannya ia pun membawanya pergi ke pasar malam festival itu.


Jam menunjukan pukul 23.35 wib.


Haykal membawanya ke sebuah cafe yang tidak jauh dari pasar malam festival itu, Haykal memastikan dengan benar kalau Sahila sudah membaik dan ia bisa mempertanyakan soal kenapa dia menangis waktu di pasar malam festival.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Haykal saat Sahila menyelesaikan makannya dan meletakkan sendok itu di atas piring. Sahila pun melirik tajam Haykal, ia hanya menelan ludah berharap pertanyaannya sudah di waktu yang tepat.


"Apa kamu takut?" tanya Sahila masih tatapan tajam.


"Tentu saja tidak, kenapa aku harus takut," balasnya.


"Saya baik-baik saja, saya tidak mengira kalau kamu punya rasa takut terhadap cewek."


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," ujar Haykal sembari berdiri dan pergi dari hadapan Sahila.


Awalnya Sahila mengira Haykal pergi ke toilet tetapi langkah arah jalannya menuju ke pintu keluar.


"Hai apa dia pergi meninggalkan gue sendiri," batin Sahila sembari mendongakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Haykal setelah mata itu tak tau arah tujuannya.


Dengan gelisah akhirnya Sahila berdiri untuk menyusulnya dan mencari keberadaan Haykal saat ini tapi setelah Sahila sampai di luar pintu keluar Sahila juga tidak dapat melihat keberadaan Haykal, lalu dia pergi ke arah parkir mobil dengan langkah lebih cepat sembari menolehkan kepalanya ke kiri ke kanan, mungkin Haykal berada di sekitar sana.


Saat Sahila sampai di parkiran mobil milik Haykal, Sahila melihat Haykal tertunduk di atas setir mobil. Dengan rasa penasaran Sahila pun mengetuk kaca mobil itu dengan rasa cemas.


"Haykal? Haykal!" teriak Sahila sembari mengetuk pintu kaca mobil itu dengan kasar karena Sahila melihat Haykal masih tertunduk saat Sahila sudah beberapa kali mengetuk kaca mobil itu.


"Haykal?" Sahila berusaha membuka ganggang pintu mobil itu. Dan saat Haykal mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah kaca Sahila berdiri, Sahila mendapatkan air mata yang sudah membasahi pipi Haykal.


Sahila semakin cemas dan dia memintanya untuk segera membuka pintu mobilnya, dengan tatapan sayup Haykal membuka pintu mobil itu dengan lirih.


"Kamu tidak papa?" tanya Sahila dengan cemas sembari menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Saya baik-baik saja Sa, kamu tidak perlu cemas," lirih Haykal.


"Lalu kenapa kamu menangis seperti ini," tanya Sahila masih keadaan menghapus air mata Haykal.

__ADS_1


Haykal pun menahan tangan yang berusaha menghapus air matanya. "Aku sangat mencintai mu Sa."


Deg! tubuh Sahila tiba-tiba gemetar dan Haykal mendekatkan wajahnya seolah-olah dia ingin mencium bibir Sahila.


"Aku tanya kenapa kamu menangis?" tanya Sahila gugup sembari membalikkan badan membelakangi Haykal.


"Bagaimana aku menjawab nya kamu saja membelakangi aku seperti ini, apa kau menyuruhku untuk mengobrol dengan punggung mu," ujarnya.


"Katakan saja," tegas Sahila.


"Aku sudah mengatakannya kamu saja yang tidak memahami dengan jawaban aku."


"Maksud mu apa?" Sahila masih membelakangi Haykal.


"Karena kata-kata mu aku sedih dan kecewa karena itu aku menangis, aku harap kamu mengerti maksud ku."


Dengan sangat gugup dan tubuh gemetar Sahila tidak bisa berfikiran jernih ia terus meremas-remas kedua tangannya itu dan sesekali menelan ludah.


"Aku ingin pulang, ini sudah larut malam," ujar Sahila sembari melangkahkan kakinya memutari separuh mobil itu dan masuk kedalam mobil.


"Apa kamu takut," tanya Haykal saat gadis malang itu sudah duduk disampingnya.


"Lalu kenapa tangan mu gemetar," ujar Haykal saat melihat tangan Sahila gemetaran saat menarik sabuk pengaman itu.


"Aku hanya lapar."


"Apa lapar?" Haykal tertawa terbahak-bahak saat Sahila mengatakan bahwa dirinya lapar, sedangkan saja ia selesai makan dan itupun belum 15 menit ia selesai makan.


Dengan sangat sadar Sahila salah berucap dan ucapan Sahila itu menjadi bahan ejekan Haykal.


"Apakah kamu puas," ujar Sahila kesal.


"Tidak tidak, ternyata selain pemarah kamu ini orangnya humoris ya," seru Haykal masih tertawa.


"Cukup Haykal, ayo jalan kan mobilnya," ketus Sahila.

__ADS_1


Dengan sigap Haykal memegang kedua tangan itu dan menatap tajam kedua itu, ia mendekatkan wajahnya seolah-olah ia ingin mencium bibir merah delima itu.


"Ka-kamu mau apa Kal." Sahila melotot kan matanya sembari meremas-remas sabuk pengaman itu dan wajah itu semakin mendekat, Sahila langsung membuang muka.


"Kenapa? aku mau apa aja terserah, bukan kah kau ini kekasih ku," jelas Haykal saat membisikan kata-kata itu tepat di telinga Sahila yang ketakutan.


Brak!


Sahila sangat terkejut sembari membuka kelopak matanya saat pintu mobil itu terbanting oleh Haykal.


Dengan rasa malu Sahila memalingkan wajahnya dan menatap kaca jendela dengan menggigit bibir bawahnya dan tertunduk karena malu.


"Udah nggak usah malu gitu, biasa aja kali. Ama pacar sendiri aja," seru Haykal dengan sesekali menaikan alisnya dan tersenyum sinis.


"Kekasih? Pacar? sejak kapan?" ketus Sahila sembari menggelengkan kepalanya.


"Sejak di apartemen itu kan, kita sudah memutuskan untuk menjalin kasih," seru Haykal dengan nada pelan.


Mendengar itu tentu membuat Sahila kesal dan marah, kata-kata Haykal itu membuat Sahila mengingat atas kejadian malam itu, kejadian dimana ia merengkuh kesuciannya dengan cara kotor dan menjijikan.


"Stop Haykal, jangan pernah lagi kau sebut nama gedung itu lagi aku sangat jijik saat mendengarnya." Histeris Sahila sembari menutup kedua telinganya.


"Hai tenang lah Sa." Haykal berusaha membuka telinganya dengan kedua tangannya itu.


"Tenanglah Sa," ujar Haykal saat Sahila berada dalam pelukannya dengan mengelus lembut punggungnya.


"Kamu jahat Kal, kamu sangat sangat jahat," lirih Sahila sembari memukul dada kekar Haykal berkali-kali.


"Maafkan Aku Sa, menangis lah dan pukul aku sampai kamu puas."


"Puas kamu bilang?" bentak Sahila saat lepas dari pelukan Haykal.


"Tidak akan ada kepuasan saat memukul kamu bahkan sampai kamu mati pun. Karena itu tidak akan bisa mengembalikan kesucian ku," sambung Sahila dengan nada sedikit tinggi.


Sahila kembali menangis dan meratapi pahit hidup yang akan ia hadapi, dengan menutup wajah dengan kedua tangannya Sahila menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa di lakukan lagi oleh Haykal, ia hanya merasa menyesal dengan apa yang ia lakukan kepada Sahila. Rencana yang ia susun dengan rapi dan berjalan dengan mulus itu tidak membuat dirinya puas atau pun bahagia.


Dendam yang selama ini ia simpan tidak membuahi hasil atupun kepuasan di balik meninggalnya orang tuanya. Justru ia malah terjebak oleh cinta nya Sahila.


__ADS_2