
"Dhani..!" Sahila tiba-tiba langsung memeluk Dhani dari belakang dengan sangat erat.
Dhani yang tertawa karena perkataan Sahila yang tak masuk akal itu pun langsung terdiam, saat tubuh Sahila memeluk lembut punggung Dhani. Dan dia langsung membalikkan badan dan
Menatap kedua mata itu. "Apa ini?" batin Dhani.
Dhani tau Sahila sangat menderita dan dia juga tau Sahila sangat membutuhkan seseorang di sampingnya dan mengerti penderitaan yang ia hadapi.
Sahila yang melihat tatapan tajam itu, dia langsung menundukkan wajah dan kembali menguraikan air mata. Seakan-akan dia menyesal karena sudah mencintai orang yang salah, dan menepiskan kebaikan Dhani. "Seandainya waktu itu aku langsung utarakan hati ku kepadamu, mungkin kamu akan menjaga ku dan hal ini tidak akan pernah terjadi," batin Sahila.
"Luapkan lah semuanya Sa, gue ada di sini untuk mu. Menangis lah." Dhani yang tidak bisa melihat Sahila menderita seperti itu ia langsung mendekap tubuh itu dan memeluk tubuh mungil itu dengan penuh kehangatan.
"Rasanya aku ingin mati Dhan," ujar Sahila dengan melingkarkan tangannya di pinggul Dhani.
"Huss ... Apa yang kau katakan," ujar Dhani dengan mengangkat wajah Sahila dan menatap tajam mata sipit itu.
"Aku sudah tidak berguna dan aku sudah kotor," lirih Sahila jelas.
"Tapi aku masih membutuhkan kamu." Mendengar itu Sahila tercengang dan dia balik menatap tajam kedua mata itu dengan bertanya-tanya.
"Apa maksud mu?" lirih Sahila.
"A-ku ... Aku sangat mencintai mu Sa." Deg! jantung Sahila seakan-akan berhenti dan dia melangkahkan kakinya satu langkah ke belakang dengan melotot kan matanya.
Plak!
Dengan mata melotot Sahila langsung menampar kasar pipi itu. "Aku harap setelah tamparan ini kamu sadar Dhan. Apa kamu tuli, belum 5 menit gue ngomong tapi kamu sudah melupakan omongan ku itu."
"Aku sadar ... aku sadar dengan apa yang aku omongin ini Sa. Sudah lama sekali semenjak kita duduk di bangku SMP aku sudah mulai mencintai mu, bahkan saat kamu mengakui kesalahan mu ini, Aku tetap masih sangat mencintai mu. Semalaman aku memikirkan masalahmu ini dan semalaman juga aku memikirkan hal cintaku kepada mu, dan suara hatiku masih menyebutkan nama mu Sa .."
"Gila. gila kamu Dhan!" teriak Sahila dengan memalingkan wajahnya.
"Ya aku emang udah gila. Gila karena cinta mu," ujar Dhani setengah bentak.
"Lebih baik kamu keluar dari kamar ku dan kamu pergi dari rumah ku!"
"Tidak. Aku tidak akan pergi, sebelum kamu jawab pertanyaan ku. Katakan kalau kamu memang tidak mencintaiku maka tatap mataku."
__ADS_1
"Pergilah Dhan.. Sebelum aku hilang kendali," teriak Sahila dengan membanting semua barang riasannya yang berada di meja make-up itu.
Tapi tubuh Dhani masih berdiri tegak di belakang Sahila, dengan menyaksikan perlakuan Sahila itu. Saat Sahila sekali melirik, dengan membalikkan badan Sahila melihat Dhani yang keras kepala itu belum pergi, ia pun mendorong kasar dada kekar itu.
Dhani sempat berontak dorongan Sahila itu. Tapi saat tangan Sahila terhempas dengan kasar oleh tangan Dhani. Dhani pun mengalah dan menerima dorongan kasar tangan Sahila itu sehingga tubuh itu terdorong keluar.
Brakk
Pintu itu tertutup saat Dhani jatuh terduduk di depan pintu kamar Sahila.
"Sa plis buka pintu nya Sa?"
"PERGI ...!" Dhani pun pergi saat satu barang yang berat itu melayang dan terbentur dengan keras di balik pintu itu. Dengan melangkahkan kakinya ke anak tangga itu dengan berat hati Dhani melangkahkan kakinya satu per satu. Dengan tubuh yang lemas Dhani tidak bisa menompangkan tubuhnya itu.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Sahila. Dhani pun menunggu di ruang tamu dan membaringkan tubuhnya di atas sofa, karena semalam suntuk Dhani tidak bisa tidur.
Tak lama kemudian tiba-tiba Haykal datang dengan membawa beberapa makanan. Melihat Dhani yang sudah tertidur pulas di atas sofa, dengan mengendap-endap tidak sopan Haykal melengos dan menaiki anak tangga itu untuk menemui Sahila di kamarnya tanpa sepengetahuan Dhani ataupun Bibi eni.
Saat Sahila mendengar suara ketukan pintu dia melemparkan barang lagi kearah pintu "Pergi Dhan .. gue gak mau bicara lagi sama lu."
"Haykal! ngapain dia kesini, terus dia ketemu sama Dhani gak ya?" batin Sahila dengan mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi mulusnya itu.
"Gue pingin sendiri Kal. Pergilah," ujar Sahila dengan nada pelan.
"Gue bawain makanan kesukaan lu nih, setelah lu makan gue janji. Gue akan pergi dari sini." Sahila tau betul seperti apa Haykal itu. Dia tidak akan pergi sebelum apa yang ia ingin kan terpenuhi, dengan terpaksa Sahila membukakan pintu untuk Haykal.
"Masuklah," kata Sahila.
"Kamu habis menangis ya? kok mata kamu bengkak? oh aku tau pasti penyebabnya Dhani. Ia kan?" Dengan Dengan mata melotot Haykal mengatakan itu. "Orang ini ngomong kayak gini kayak kagak punya dosa aja," batin Sahila dengan tatapan tajam sembari mengerutkan dahinya.
Gue nangis gara-gara lu Ba**ng*n
"Enggak kata siapa gue nangis gara-gara Dhani," ujar Sahila dengan menurunkan pantatnya di atas sofa dengan pelan.
"Gak usah bohong, tuh Dhani ada di ruang tamu lagi tidur. Dia tidur di sini ya?" tanya Haykal dengan tatapan tajam.
"Lho dia masih ada disini. Dhani kenapa kamu begitu baik .. Dengan kamu melakukan hal ini, gue akan bertambah bersalah dengan kamu," batin Sahila.
__ADS_1
"Hai ... tambah bengong lagi. Jawab?" ujar Haykal kesal dengan melambaikan tangannya ke arah wajah Sahila.
"Apaan si lu Kal. Gue nangis ya gara-gara lu lah, ini semua gak ada hubungannya dengan Dhani. Dan Dhani kesini hanya ingin menghibur gue tapi gue usir. Mungkin karena khawatir jadi dia gak bisa ninggalin gue dengan keadaan gue yang seperti ini." Sahila sudah tak tahan mendengar sahabatnya itu dijelekkan seperti itu.
"Lu kok nyeselin sih ..."
"Ya emang kenyataannya kayak gitu. Kenapa lu gak terima. Gue kayak gini karena lu udah hancurin masa depan gue tau gak. Udah, udah mending lu pergi sekarang juga. Dan bawa juga makanan lu ini, gue gak butuh." Dengan kesal Sahila menarik keluar tangan Haykal dengan kasar.
Brak
"Sa .. buka dulu pintunya Sa?"
"Katanya gue nyebelin jadi pergilah dari sini."
Teriakan Haykal itu membuat Dhani kaget hingga terbangun. Mendengarkan satu lagi teriakan itu. "Siapa?" Dhani pun mendongakkan kepalanya di bibir anak tangga. Mendengar teriakan itu dari arah kamar Sahila, Dhani pun menghampirinya dan melihat Haykal berdiri di belakang pintu Sahila itu ia pun menyeret Haykal keluar dari rumah Sahila.
"He ngapain lu kesini. Pergi!" Dengan kasar Dhani menyeret tangan kanan Haykal dengan di saksikan Bibi Eni dari bibir anak tangga bawah. Sahila yang hanya bisa mendengar keributan itu dari luar dia hanya bisa menangis tanpa menghentikan pertikaian yang ada di luar kamar Sahila itu.
"Lepas!"
Buk.
Hantaman tangan Haykal mengenai pipi Dhani. Tidak terima Dhani pun membalas pukulannya. Dengan teriak Bibi Eni minta tolong ke satpam. Satpam itu pun akhirnya melerai pertengkaran kedua pria itu. Dengan di seretnya Haykal, Dhani dengan kesal menendang keras sofa yang berada di sampingnya itu.
"Brengsek!"
"Udah sabar Dhan, jangan kamu hiraukan cowok ugal-ugalan itu. Dasar anak gak sopan," ujar Bibi dengan kesal sembari mengunci pintu rumah itu.
"Gimana dia bisa masuk sih Bii," ujar Dhani kesal dengan meminum minuman yang sudah di sediakan Bibi.
"Kan ada Dhani jadi gak Bibi kunci. Maaf ya Dhan."
"Enggak Bii, ini bukan salah Bibi. Cowok itu aja yang memang gak punya aturan. Lain kali kalau dia datang gak usah di bukain pintu," ujar Dhani kesal.
"Iya baik Dhan. Saya percayakan Sahila kepada kamu, Bibi tau Dhani ini anak yang baik."
"Makasih Bii, aku pasti akan jaga Sahila dengan baik," ucap Dhani dengan meremas gelas yang ia pegang dan melotot kan mata nya dengan tajam.
__ADS_1