
Saat Haykal mendengarkan music dengan mengangguk-anggukan kepala Sahila melirik ke arah nya dengan sangat sensi, seakan-akan gadis itu sangat sekali mencakar-cakar wajahnya itu dengan sadis, dan saat Haykal menoleh karena dia merasa dari tadi dirinya di lirik oleh Sahila. Sahila pun langsung membuang mukanya dengan jutek, Haykal yang melihat itu menggelengkan kepala.
Tak lama setelah itu pikiran yang menganggu Sahila tadi kembali menganggu pikirannya, dia tidak tahan lagi atas perasaan penasarannya terhadap Haykal. Bagaimana bisa dia berada di rumah sakit tadi, apakah ini memang kebetulan atau apa?
Sahila benar-benar bingung, kalau dia tau kalau gadis itu di rumah sakit bagaimana caranya kalau Sahila sendiri saja tidak memberitahunya dan dia juga tidak mengirim pesan apapun kepadanya.
Mengingat sebuah pesan gadis itu teringat, apa dia juga mengirim pesan itu kepada Haykal kalau Dhani sedang masuk rumah sakit, tapi Sahila mikir lagi "Tidak mungkin, kalau iya dia pasti sudah mempertanyakan itu kepada ku dan pasti akan ada pertanyaan lain yang bisa membuat diriku pusing, tapi ini tidak," batin Sahila dengan tercengang.
"Haduh mending gue cek sendiri aja sih, dari pada bertanya-tanya kayak gini terus," batin Sahila lagi sembari membuka tasnya dan mengambil ponselnya untuk melihat pesan, apakah benar Sahila juga mengirim pesan kepadanya.
"Tidak, nggak ada. Lalu bagaimana mungkin dia sampai di rumah sakit itu," batin Sahila sembari melirik tajam ke arah Haykal.
Haykal yang merasa di lirik itu langsung menoleh ke arah nya. "Ngapain kamu dari tadi lirik-lirik gue, suka ya," ujar Haykal sembari tertawa.
"Apa.an sih gak lucu," sontak Sahila.
"Siapa juga yang ngelucu nona," ujar Haykal sembari menggelengkan kepalanya.
Tidak tahan menahan semua kegelisahannya itu Sahila langsung mempertanyakan apa yang ada di dalam pikirannya itu, ia langsung menghadap ke arah Haykal dengan kaki kanan naik bersila di atas kursi.
"Kal!"
"Hemmm ...?"
"Iihh ... liat gue."
"Iya sayang kenapa, gue lagi nyetir nih bicara aja," ujar Haykal dengan nada pelan.
"Apaan sih sayang-sayang bikin nggak mood aja."
__ADS_1
"Ye .. bercanda, lah lu tumben-tumbenan ngerengek seperti ini biasanya juga ceplas-ceplos kalau ngomong."
"Ngomong-ngomong tadi ngapain lu ada di rumah sakit itu?" ujar Sahila penasaran.
"Ngapain kamu tanya-tanya, memang lu siapa gue. Jangan harap gue akan jawab pertanyaan lu ini yang pertanyaan ku saja tidak lu jawab, malah lu caci gue," ujar Haykal kesal.
"Kamu kok ngeselin banget sih," ucap Sahila kesal dengan membuang muka menghadap ke kaca jendela mobil itu.
"Kamu itu yang ngeselin, dasar!" ujar Haykal sembari mengobrak-abrik rambut Sahila dari belakang.
Tidak lama setelah itu, Sahila masih saja memonyongkan bibirnya dengan alis yang hampir menyatu. Tidak tahan melihat perilaku gadis itu, Haykal langsung menghentikan mobilnya dan menarik pundak Sahila paksa untuk menghadapkan kepada dirinya.
Sahila yang terkejut karena tiba-tiba Haykal memberhentikan mobilnya itu dan langsung menarik bahunya itu, Sahila tercengang dan menatap tajam pria itu dengan mata terbelalak.
"Sebenarnya ada apa ini? kenapa Haykal memberhentikan mobilnya di tengah-tengah jalan raya yang seperti ini," batin Sahila sembari melirik ke kanan dan ke kiri yang dia lihat hanya sawah-sawah dan jalan aspal yang lurus tanpa ada satu orang pun di sana.
"Kal lu mau ngapain sih," lirih Sahila dengan mengedipkan matanya sesekali.
Haykal tidak menjawab pertanyaan Sahila, justru dia malah melirik ke arah leher gadis itu dan menyingkap rambut indahnya sembari mengelus lembut leher yang halus dan putih itu, seakan-akan Haykal ingin melakukan hal kotor lagi kepada gadis malang itu.
Dengan sangat refleks saat Sahila mendapatkan aksi itu dari Haykal, gadis itu langsung mendorong kasar dada kekar milik Haykal. Tapi Sahila tidak berhasil justru ia malah mendapatkan aksi yang tidak pantas oleh Haykal.
Haykal langsung mencekik leher Sahila tanpa ampun, tentu Sahila merasa kaget dan kesakitan karena Haykal menekannya dengan kasar saat gadis itu mendorong pria jahat itu.
"Kal lu jangan macam-macam ya, kalau tidak gue akan bunuh lu di sini," tegas Sahila dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Apa? bunuh gue?" Haykal tertawa terbahak-bahak sembari meraih kembali leher cantik itu.
"Kamu lihat dong posisi kamu saat ini, kamu saja tidak bisa berkutik dan apa lu bilang tadi, mau bunuh gue," kata Haykal sembari tertawa.
__ADS_1
"Lepaskan gue!" teriak Sahila sembari berusaha lepas dari jeratan Haykal.
"Cukup Sa, meskipun kamu teriak sampai suara kamu habis pun tidak akan ada yang mendengar mu," ujar Haykal dengan menyunggingkan bibirnya ke atas.
Sahila menoleh ke kanan dan ke kiri arah belakang mobil tapi tempat itu memang benar-benar sepi dan tidak ada tanda-tanda kedatangan kendaraan lain yang lewat di tempat itu.
"Apa mau mu?" tanya Sahila dengan meneteskan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.
"Apa mau ku? tentu diri mu sayang," ucap Haykal dengan mencolek dagu gadis itu.
"Kamu memang benar-benar tidak waras Kal, demi mendapatkan gue lu harus melakukan ini kepadaku, jahat tau nggak," ujar Sahila dengan nada sedikit bentak.
Haykal yang tidak terima dengan tuduhan itu, ia langsung menjerat Sahila dan kembali mencekik nya sampai Sahila merasa kesakitan dan mulai meneteskan air mata.
Karena tidak tega Haykal melepaskan cekikan itu.
"Tenang sayang gue tidak akan menyakiti kamu, bagaimana mungkin aku tega melakukan itu kan aku sayang banget sama kamu. Sekarang kamu jawab aja kamu mau nggak jadi pacar aku?" ujar Haykal dengan menaikan satu alis ke atas.
"Dengan cara seperti ini? cuih ... menjijikan, gue lebih baik mati dari pada harus jadi pacar mu," ujar Sahila kesal.
Haykal kembali memikirkan ide lain untuk bisa menjadi pacarnya dengan cara kasar seperti ini Sahila tidak jera dia malah menantang ancaman darinya dan sekarang gadis itu terlihat sangat pasrah dengan hidup nya, sepertinya aku harus memikirkan cara lain.
Dengan menyunggingkan bibirnya ke atas Haykal mendapatkan ide, yang sepertinya Sahila tidak akan menolaknya.
"Gue tau apa yang harus aku lakukan," batin Haykal dengan senyum sinis.
Haykal melepaskan jeratannya dan sangat terlihat jelas Sahila merasa lega tapi gadis itu melirik ke arah Haykal dengan bingung tapi tidak ingin berpikir panjang karena Tidak ingin membuang waktu lagi, Sahila langsung membuka pintu mobil itu dengan kasar tapi mobil itu terkunci oleh tombol sisi dari pengemudi.
Sahila melirik ke arah Haykal yang sedang tertawa terbahak-bahak itu, Sahila dengan sangat berani langsung menampar Haykal karena tidak tahan lagi dengan sifatnya itu.
__ADS_1