
Tak lama dari itu tiba-tiba Dhani mendapatkan beberapa bercak merah yang menempel di tangannya seperti terkena gigitan serangga. Sahila yang melihat itu histeris kaget tapi tidak mengejutkan Dhani, ia langsung menarik tangan Dhani keluar dari kuliner seafood itu.
"Sa ada apa?" ujar Dhani kaget saat tangannya di tarik paksa tanpa aba-aba.
"Udah ayok kita ke rumah sakit dulu," ujar Sahila gugup.
Mendengar kata rumah sakit Dhani terkejut ia langsung melirik ke arah tangannya dan terdapat benjolan merah seperti di gigit nyamuk itu tapi sedikit membengkak. Melihat keadaanya itu Dhani langsung gemetar lemas.
"Sa tapi baju kamu basah apa kamu tidak ganti baju dulu," lirih Dhani sembari menahan tubuhnya yang mulai lunglai karena melihat keadaanya sendiri.
"Udah kamu jangan pikirkan saya, yang lebih penting itu adalah keadaan kamu," ujar Sahila dengan nada sedikit gugup.
"Mana kunci mobilnya," ujar Sahila sembari merogoh saku celana sahabatnya itu yang sudah mulai lemas.
"Iya dapat, ayo kamu masuk," ucap Sahila sembari membukakan pintu mobil menuntun Dhani masuk ke dalam mobil itu.
Setelah Sahila sudah berada di dalam mobil Sahila langsung menyalakan mesinnya dan membanting setir mobil itu dengan kecepatan 100 km. Kini Dhani sudah mulai merengek gatal dan Sahila semakin gugup, kurang lebih Rumah sakit dari pantai itu cukup jauh.
Sahila yang semakin gugup karena rengekannya itu, ia sudah lemas di punggung kursi mobil itu. Sahila semakin mempercepat kelajuan dengan kecepatan 120 km.
"Dhani maafin aku ya, ini semua karena aku kamu jadi seperti ini," ujar Sahila dengan nada pelan, ia mulai meneteskan air mata karena rasa bersalah.
"Tapi kok itu alergi mu tambah parah gitu sih Dhan, gue jadi semakin takut nih! mana Rumah sakitnya masih jauh lagi," Gerutu Sahila sembari sesekali melirik ke arah Dhani.
"Ini bukan salah mu Sa kamu tidak usah merasa bersalah gitu, ini juga gara-gara aku sendiri karena tidak bisa mengontrol untuk makan seafood-seafood itu," lirih Dhani dengan nafas mulai tidak beraturan.
"Sa gue semakin sulit bernafas." Dhani mulai kehilangan pernafasannya.
"Udah-udah kamu tidak usah banyak bicara kamu diam aja ya, habis ini kita sampai kok sabar ya. Plis kamu lawan rasa sakit mu ini," ujar Sahila semakin gugup sembari melirik ke arah Dhani yang semakin tidak berdaya.
Rumah Sakit C
"Suster sus ...! tolong tolong saya," teriak Sahila memanggil suster di sekitar loby itu.
Satpam yang melihat Sahila teriak itu langsung menghampirinya dan membawakan Brankar dorong untuk Dhani dan beberapa suster yang menghampirinya karena teriakan histeris dari Sahila.
__ADS_1
"Ini Pak tolong temen aku turunin dari mobil," ujar Sahila dengan nada pelan.
Dhani yang sudah mulai tidak sadarkan diri itu di gendong oleh satpam dan di letakan di atas brankar dorong itu. Sahila yang mendorong brankar dorong itu dengan beberapa suster ia semakin khawatir dia merasa sangat bersalah bahkan air yang keluar dari matanya itu bercucuran dengan deras.
"Maafin gue Dhan seandainya gue tidak egois dan tidak memaksa mu, mungkin kamu tidak akan seperti ini," lirih Sahila sembari mendorong brankar dorong itu dengan melihat Dhani yang sudah tidak sadarkan diri karena perbuatannya.
UGD
"Mbak maaf ya, mbak nya harus tunggu di luar," ujar salah satu Suster itu.
"Tapi Sus?" Suster itu langsung menutup pintu ruang UGD itu. Sahila yang semakin takut dan khawatir itu meremas-remas kedua tangannya sembari mondar-mandir di depan UGD itu dengan sesekali melirik pintu UGD itu.
Sahila tidak pernah mengira kalau jadinya akan seperti ini karena sebelumnya Dhani tidak pernah mengalami alergi separah ini. Saat Sahila mengingat Dhenis ia langsung mengambil ponselnya di dalam tas.
"Halo Dhenis? Dhenis ..." Sahila yang belum menyelesaikan kata-kata nya itu langsung meluapkan tangisannya dengan tersedu-sedu.
"Sahila kamu kenapa?" tanya Dhenis dari dalam handphone. Sahila semakin menjadi-jadi nangisnya.
"Sahila katakan sesuatu kenapa kamu menangis? Bukan kah sekarang kamu dengan Dhani? dimana dia?" tanya Dhenis yang mulai khawatir karena Sahila tidak mau bicara dia malah mengeluarkan suara tangisannya dari dalam ponselnya itu.
"Dhani? Dhani kenapa? Katakanlah?" Dhenis mengeluarkan nada tinggi saat Sahila hanya menyebutkan nama Dhani tanpa memberi perkataan lain.
"Dhani masuk ruang UGD," ujar Sahila dengan nada tersengal-sengal.
"UGD? dimana?" tanya Dhenis gugup.
"Di Rumah sakit C." Dhani yang menerima kabar itu langsung menutup ponselnya dan langsung bergegas menuju ke rumah sakit tersebut.
Beberapa menit kemudian Dhenis datang dengan berlarian menuju Sahila yang duduk di pinggir ruang UGD itu.
"Sahila dimana Dhani?" tanya Dhenis
"Masih di ruang UGD," lirih Sahila dengan uraian air mata.
"Bagaimana bisa ini terjadi? Kenapa Dhani Sa?" ujar Dhenis dengan nada sedikit bentak.
__ADS_1
"Dia habis makan seafood sama aku," balas Sahila dengan nada tersengal-sengal sembari menghapus pipinya karena air mata yang terus mengalir.
"Kamu tau kan dia alergi makan seafood lalu kenapa kamu mengajak nya makan seafood, apa dia tidak membawa obatnya," ujar Dhenis dengan nada sedikit bentak.
"Dia lupa membawanya dan aku tau mengetahui itu tapi aku paksa untuk makan seafood, aku kira tidak bakal separah ini tapi malah seperti ini," lirih Sahila dengan tersedu-sedu.
Dhenis yang tidak bisa berkata-kata lagi karena jalan pikiran Sahila yang tidak masuk akal itu meninju keras dinding itu. Sahila yang terkejut karena aksi Dhenis itu ia langsung meminta maaf.
"Dhenis maafkan aku," lirih Sahila, sangat merasa bersalah. Tapi Dhenis hanya diam dan mondar-mandir menyerupai setrika di depan Sahila.
Sahila yang tidak bisa berkata-kata lagi itu dia juga ikut diam dan menunduk karena penyesalan.
"Dok bagaimana keadaan adik saya?" ujar Dhenis saat menjumpai Dokter itu keluar dari UGD.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan sekarang dia baik-baik saja dan nafasnya kembali normal, untung saja dia segera langsung di larikan ke rumah sakit sini, jika tidak dia tidak akan tertolong karena kehilangan oksigen akibat kesulitan bernafas dan tekanan darah menurun," ujar Dokter Fandi itu.
"Apa sebelumnya dia meminum sesuatu seperti air kelapa?" tanya Dokter itu.
"Iya Dok sebelum kita makan seafood kita berdua sempat minum air kelapa muda," ujar Sahila dengan nada pelan.
"Ya syukurlah karena pengaruh air kelapa muda itu juga bisa membantu lambatnya penyerangan alergi yang Dhani hadapi," ujar Dokter Fandi.
"Apa saya boleh masuk Dok," tanya Dhenis
"Boleh tapi untuk saat ini saya perlu bicara dulu dengan anda," ujar Dokter Fandi.
"Oh ok Dok."
"Mari keruangan saya," ucap Dokter Fandi.
"Dok apa saya boleh menemui teman saya?" tanya Sahila menghentikan langkah kaki mereka.
"Oh silahkan," balas Dokter Fandi.
"Terima kasih Dok," ujar Sahila sembari melangkahkan kakinya ke arah ruang UGD dan mendorong pelan pintu itu.
__ADS_1