Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 2


__ADS_3

Di atas rerumputan yang basah sahila berdiri menikmati udara pagi, dengan memejamkan mata Sahila melentangkan tangannya dan memutar-mutarkan tubuhnya dengan pelan, ia lalu menghirup udara segar. Ia merasakan ketenangan dan kebahagiaan sehingga dia merasa hidupnya sudah sangatlah sempurna.


"Sahila! kemari lah, kita sarapan dulu yuk," teriak Mama Juwita.


"Mama?" batin Sahila dengan membuka kelopak matanya ia berlarian menuju ruang makan, dengan senyum bahagia.


Setelah Sahila sampai di depan meja makan Sahila melihat aneka makanan di atas meja. Ada nasi goreng, roti bakar, buah-buahan dan semangkuk salad buah.


"Pagi semua," ujar Papa Sahil sembari mencium kening Mama Juwita dan mencium semua area wajah Sahila tanpa satupun yang terlewatkan.


"Pagi juga Papa," jawab Mama Juwita dan Sahila.


"Sepertinya anak Papa ini riang sekali," tanya Papa Sahil dengan melahap nasi goreng.


"Iya dong, Sahila juga selalu senyum kepada orang-orang yang Sahila jumpai," ujarnya.


"Pinter banget anak Papa ini," ucap Papa Sahil dengan mencubit lembut pipi Sahila.


"Aak ..!" ujar Papa Sahil menerbangkan sendok untuk mendarat ke mulut Sahila. Tapi Sahila langsung membungkam mulutnya


"Mama! Papa nih," rengek Sahila.


"Papa udah dong, anaknya tidak suka di paksa terus," ujar Mama Juwita dengan memotong roti di atas piringnya.


"Sayang?" Papa Sahil berusaha membujuk Sahila untuk membuka mulutnya, dengan kembali menerbangkan sendok itu mendarat ke mulut Sahila. Dengan sangat terpaksa Sahila pun membuka mulutnya dan mengunyahnya dengan kasar.


"Tuh kan anaknya jadi ngambek, Papa ini," ujar Ibu juwita yang melirik anaknya mengunyah dengan kasar.


"Dia muntah Mama tidak tanggung jawab ya," sambungnya.


"Gimana enak kan?" tanya Papa Sahil.


"Tapi Sahila tidak suka Pa. Di tenggorokan sama mulut Sahila itu rasanya gak enak, kayak mau muntah terus," jawab Sahila kesal.


"Sahila marah?" tanya Papa Sahil yang melihat anaknya terus mengaduk-ngaduk salad buahnya.


"Tidak. Sahila hanya kesel sama Papa dan sekarang Sahila sudah tidak mood makan lagi gara-gara papa," ujar Sahila kesal dengan mengaduk-ngaduk salad buahnya.


"Sama aja itu marah?" lirih Papa Sahil memasang wajah melas. Sahila pun melirik ke arah wajah Papa Sahil.


"Papa sedih?" tanya Sahila dengan meletakkan sendok nya. Papa Sahil hanya menganggukkan kepala.


"Maafin Sahila Pa, tapi Sahila tidak suka sarapan nasi goreng," sambungnya.

__ADS_1


"Ya udah, lain kali Papa tidak akan memaksa Sahila untuk makan nasi goreng favorit Papa ini. Tapi Papa yakin saat Sahila dewasa nanti pasti Sahila suka dan kita bisa makan nasi goreng ini berdua," ujar Papa Sahil dengan menaikan Sahila ke dalam pangkuannya.


Jam dinding menunjukan pukul 07.00 wib


"Pa ayo berangkat, nanti Papa telat lho kan Papa harus nganterin Mama dulu," ujar Mama juwita sembari menggendong Sahila untuk turun ke pangkuan Papa Sahil.


"Apa Sahila masih ngambek sama Papa?" tanya Papa Sahil dengan mencolek hidung Sahila.


"Tidak," ucap Sahila dengan menggelengkan kepalanya.


"Pintar itu baru anak Papa," seru Papa Sahil dengan mencium kening Sahila dan disusul oleh ciuman Mama Juwita sembari mengambil tas yang berada di sofa ruang tamu


Entah kenapa Papa sahil merasakan berat sekali untuk meninggalkan Sahila sendiri.


"Bibi!" teriak Mama Juwita.


"Iya nyonya?"


"Saya mau berangkat tolong jaga Sahila ya," ujar Mama juwita sembari mengambil tas yang berada di sofa ruang tamu.


"Baik nyonya, nyonya tidak usah khawatir," ujar BiBi Eni.


Saat Sahila melambaikan tangan, entah kenapa Papa sahil merasa berat sekali untuk meninggalkan Sahila sendiri.


 


"Da da da," seru Sahila dengan melambaikan tangannya.


"Ayo kita masuk Non," ujar Bibi Eni saat mobil Papa Sahil sudah tidak terlihat. Sahila hanya menganggukkan kepala sembari melangkahkan kaki nya masuk ke rumah. Bibi Eni pun menutup pintu itu dan menguncinya.


Saat Sahila menaiki anak tangga Sahila merasa sedikit cemas, selangkah demi langkah Sahila menaiki anak tangga itu dengan pelan sampai akhirnya ia sampai di ujung bibir tangga.


Setelah Sahila membuka pintu kamarnya entah kenapa hari itu terasa hampa. Melirik ke arah rak meja buku Sahila berjalan dan mengambil salah satu buku novel dan dia duduk di sofa dekat jendela.


Jam dinding menunjukkan pukul 08.00 Wib.


Dengan meletakan buku novel di atas meja Sahila tidak melihat susunya.


"Bibi pasti lupa lagi," omel Sahila dengan hentakan kaki nya ia keluar kamar.


Terlihat Bibi Eni berdiri di depan telepon rumah. Sahila menuruni anak tangga dan menghampiri Bibi Eni yang membelakanginya.


"Bibi," sapa Sahila.

__ADS_1


Dengan sangat terkejut Bibi Eni membalikkan badannya dan terlihat Bibi Eni sedang menangis dan menutup teleponnya.


"Siapa yang nelfon Bibi? kok Bibi nangis?" tanya Sahila dengan mengerutkan dahinya.


Bibi Eni hanya diam dan menangis tersedu-sedu. Sahila semakin bingung dan khawatir.


"Bibi?" Tapi Bibi masih membungkam mulutnya dan kali ini menekuk tubuhnya dan duduk di lantai.


"Ya udah kalau Bibi tidak bicara aku akan pergi," ucap Sahila kesal.


"Tunggu Non," ujar Bibi Eni dengan memegang tangannya.


Sahila pun memandangnya dengan tatapan tajam. Melirik ke arah meja Sahila melihat segelas air putih.


"Minum lah Bibi," ujar sahila. Dengan tangan gemetar Bibi Eni mengambil gelas dari tangan Sahila.


 


" glek.. glek..glek.. "


 


"Hiks hiks ...!" Bibi Eni menangis lagi saat melihat anak yang berada di depannya itu dengan merentangkan tangan Bibi Eni memeluk Sahila.


"Bibi katakanlah sesuatu jangan membuat Sahila khawatir." Pertanyaan Sahila yang kesekian kalinya.


Mau tidak mau aku harus mengatakan ini. Non Sahila juga harus tau, bagaimana pun kenyataannya


"Tadi ada yang telfon dari rumah sakit. Katanya Papa non dengan Mama non mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit," lirih Bibi Eni dengan menatap Sahila sayu.


"Tidak, Bibi pasti salah, mungkin mereka salah sambung Bii, Ayo coba kita telfon Papa dan Mama Bii," ujar Sahila dengan mata mulai berkaca-kaca sembari menarik tangan Bibi Eni untuk menelfon kedua orang tuanya. Tapi Bibi Eni menahan tarikan Sahila dan mencoba untuk menjelaskan kepada Sahila, bahwa yang dikatakan pihak rumah sakit itu benar.


Karena kecelakaan beruntun, Mobil Papa Sahil masuk jurang dan pihak rumah sakit mengatakan bahwa Pak Sahil meninggal dunia dan jenazahnya akan dikirim setelah ini. Ujarnya


Mendengar penjelasan Bibi Eni. Sahila tidak menerima kenyataan itu dan dia pun terjatuh dan pingsan. Tentu itu membuat Bibi Eni Kaget dan khawatir, baru beberapa menit Bibi Eni di kejutkan oleh berita tentang meninggalnya orang tuanya dan sekarang ia harus melihat Sahila tergeletak karena pingsan.


Entah apa Sahila akan menerima kenyataan ini atau tidak, sejelas Sahila pasti akan sangat hancur akan kepergian kedua orang tua nya.


 


niiiuuuuu.... niiuuuu... niuuuuu....!!


 

__ADS_1


Ambulan pun datang 🚑


__ADS_2