Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 5


__ADS_3

 


**Back to Home**


sahila harus kuat.!


 


Setiap Sahila kembali kerumahnya Sahila selalu mendapatkan kesedihan itu. Rumah itu mengingatkan atas kepergian Papa dan Mama nya, tapi rumah itu juga banyak kenangan dari Almarhum Papa Sahil dan Mama Juwita. Membuat Sahila kembali untuk bangkit dalam menghadapi hidupnya yang sebatang kara.


"Bibi ... Bibi ...! Dimana kamu?" teriak Sahila saat membuka pintu rumah.


"Sahila sudah pulang nih!" teriak Sahila saat berada di ruang makan. Bibi pun menghampiri Sahila yang sedang teriak-teriak memanggil namanya.


"Iya Non?" ujarnya.


"Bibi, Sahila minta tolong dong masakin Sahila nasi goreng. Sahila lapar nih," ucap Sahila dengan dengan senyum tipis.


"Tumben Non?" ujar Bibi Eni sedikit heran.


"Kenapa? buruan dong Bibi, Sahila lapar banget nih."


Untuk pertama kalinya Sahila minta untuk di buatin nasi goreng.


Entah kesambet makhluk halus apa? sepulang dari kuliah Sahila langsung minta di buatin nasi goreng.


Dengan senang hati Bibi Eni pun memasaknya untuk Sahila. Bibi juga sangat senang karena sudah lama sekali Bibi tidak pernah masak nasi goreng, karena yang suka nasi goreng di rumah itu hanya almarhum Papa Sahil.


Tek tek tek. Suara piring dari sendok Sahila.


Sahila memakan nasi goreng itu dengan sangat lahap. Seperti anak kecil yang sedang makan, sampai nasi gorengnya bersorak kan di meja makan.


"Non makannya pelan-pelan non, kayak anak kecil," ujar Bibi yang duduk di sebelah Sahila dengan memungut nasi goreng yang berjatuhan dari piring nya.


"Emang Sahila masih kecil, kan Sahila masih umur 9 tahun." Jawaban Sahila yang mengegerkan hati Bibi.


"Non?" Sahila hanya melirik ke arah Bibi sekali dan kembali memakan nasi goreng itu.


"Non Sahila baik-baik saja kan?" sambungnya.


Sahila langsung menghentikan sendok nya untuk melahap dan melirik tajam ke arah Bibi. Bibi Eni hanya menelan ludah saat mendapatkan tatapan itu.

__ADS_1


"Sahila hanya kangen Bii sama Papa dan Mama," lirih Sahila sembari menundukkan kepalanya.


Bibi Eni yang melihat aksi Sahila yang tiba-tiba sedih itu langsung memeluknya. "Menangis lah Non."


"Sahila ingat, Papa pernah ngomong ke Sahila kalau saat Sahila besar nanti Sahila akan sangat menyukai nasi goreng buatan Bibi dan memakan bersama-sama tapi sebelum Sahila melakukan keinginan Papa, tuhan sudah mengambilnya."


"Lihatlah Bii sekarang Sahila sudah menyukai nasi goreng kesukaan Papa," ujar Sahila melepaskan rangkulan Bibi dan mata yang berkaca-kaca itu sudah mulai menetes dan membasahi pipi Sahila.


"Iya Non." Bibi Eni tidak bisa ngomong banyak Bibi Eni hanya mencoba menjadi pendengar yang baik. Kini Bibi kembali memeluk Sahila supaya tenang.


"Habisin dulu Non nasi gorengnya nanti keburu dingin, gak enak lho," ujar Bibi Eni dengan mengelus lembut punggung Sahila.


"Oh ya, gimana perasaan Non Sahila saat pertama masuk kuliah Non," ujar Bibi mengalihkan pikiran Sahila. Tiba-tiba Sahila senyum-senyum sendiri dan menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya.


 


"Ah apaan sih Bibi ini, kepo banget." Sahila membuang muka.


"Ih kok malu-malu gitu. Wah! ada cowok yang Non taksir ya," ejek Bibi Eni menarik pundak Sahila untuk melihat wajah karena tersipu malu.


"Bibi," rengek Sahila sembari pergi meninggalkan meja makan dan berjalan ke ruang keluarga mengambil stik game di atas meja ia langsung duduk dan menyalakannya.


"Huu .. Serem" sambungnya. Setelah beberapa menit Sahila main game tiba-tiba Sahila merasa penasaran dan perasaanya itu ia tanyakan kepada Bibi Eni.


"Bii, Bibi pernah nggak jatuh cinta," ujar Sahila dengan meletakkan stik gamenya dan posisi duduknya di hadapkan di hadapannya Bibi Eni.


"Kenapa Non tiba-tiba tanya itu," ujar Bibi dengan membuang muka.


"Iihh ... Ayo katakan Bibi," rengek Sahila.


"Pernah lah. sama almarhum suami Bibi," seru Bibi Eni sembari menaikan alisnya.


"Oh ya, teru-terus?" Sahila sangat penasaran dan tertarik dengan cerita cinta Bibi Eni. Ia pun menceritakan awal pertemuan suami Bibi dengan dirinya.


"Dulu Bibi bertemu dengan Suami Bibi waktu dia main sepak bola bersama timnya dan Bibi salah satu dari penontonnya. Awalnya Bibi kurang suka dengan Suami Bibi ini karena dia play boy," ujarnya. Sahila semakin tertarik dan memintanya untuk meneruskan ceritanya.


"Lalu tiba-tiba bola itu mengenai jidat Bibi sehingga Bibi terjatuh pingsan. Tapi dia sangat bertanggung jawab dia merawat Bibi dengan baik, setelah Bibi sadar. Bibi baru menyadari dia sangat tampan sekali pantas saja semua gadis menyukainya, tapi Bibi tidak begitu meresponnya karena banyak cewek cantik di atas Bibi yang menyukai dia jadi Bibi tidak terlalu berharap. Tapi suami Bibi itu lebih penasaran dengan Bibi karena Bibi selalu cuek kepadanya. " Mereka pun tertawa terbahak-bahak.


Sahila kegirangan karena baper dan Bibi Eni melanjutkan ceritanya. "Lalu-lalu," seru Sahila.


"Awalnya Bibi males melayani nya karena teman Bibi sudah menjadi salah satu korbannya. Tapi kenyataannya Bibi sudah terperangkap oleh cintanya karena itu akhirnya Bibi mau di nikahi olehnya. Setelah Bibi menikah dengannya Bibi baru tau dia orang yang sangat baik dan sangat mencintai Bibi setulus hatinya. Bibi sangat beruntung karena mendapatkan suami sepertinya. Tapi karena kecelakaan itu Suami Bibi meninggalkan aku." Bibi mulai tidak bisa mengontrol emosinya saat Bibi mengingat atas kejadian kecelakaan itu dan Bibi Eni mulai menangis dengan tersedu-sedu.

__ADS_1


Sahila yang melihat Bibi menangis seperti itu, Sahila meminta Bibi untuk menghentikan kisah cerita cintanya dan memeluk Bibi Eni dengan penuh kehangatan.


"Non Sahila tau tidak. Bibi beruntung banget karena Bibi di pertemukan oleh keluarga Non yang sangat baik ini. Apalagi Bibi tidak mempunyai anak karena itu Bibi sangat sayang sekali sama Non, jadi kalau Non sedih Bibi juga ikut sedih," ujarnya.


"Bibi, Bibi boleh kok menganggap Sahila seperti anak Bibi sendiri," ujar Sahila sembari memeluk nya.


"Makasih ya Non." Sahila mengangguk dalam pelukannya.


"Ayo katakan siapa cowok beruntung itu?" tanya Bibi.


"Bibi apaan sih," rengek Sahila sembari menutup wajahnya dengan bantal sofa.


"Iih! malu-malu. Katanya Bibi udah di anggap kayak orang tuannya tapi kok masih tertutup," ujar Bibi kesal.


"Ok ok." Sahila mulai membeberkannya. Dengan pendengar baik Bibi menyimak.


"Saat Sahila masuk kampus tiba-tiba Sahila bertabrakan sama Cowok itu dan jatuh dalam pelukannya dan Sahila tercengang dalam pelukannya. Karena Sahila pikir yang Sahila tatap itu wajah Lee min ho ternyata hanya mirip doang setelah Sahila bangun dalam pelukannya," ujar Sahila kesal sembari memanyunkan mulutnya.


"Sahila hilang akal, sampai-sampai saat Sahila makan di kantin sama teman-teman Sahila dia lewat dan Sahila mengikuti dia, dengan ceroboh Sahila ketahuan dan sifatnya itu tidak setampan wajahnya karena itu Sahila menamparnya," sambungnya. Bibi kaget saat Sahila menampar pria itu.


"Sahila tampar? Kenapa Non?" tanya Bibi.


"Karena dia songong dan gede kepala," ujar Sahila kesal.


"Sahila pasti menyukainya karena dia mirip idola Sahila saja bukan karena cinta. Tapi Sahila kok mikirin dia terus ya Bii? apa ini cinta?" tanya Sahila.


"Iya ini cinta," jawab Bibi dengan menganggukkan kepala.


"Tidak Sahila benci banget sama dia," ujar Sahila sembari mengangkat pantatnya dan pergi meninggalkan Bibi sendirian.


"Non!" teriak Bibi.


"Sahila gerah Bibi ingin mandi," teriak Sahila saat berdiri di anak tangga.


Saat Sahila menatap bulan Sahila menangis karena kangen dengan orang tuannya dan saat Sahila menangis tersedu-sedu tanpa Sahila sadari Bibi berdiri di depan pintu yang setengah terbuka itu. Dan saat Sahila mendongakkan kepalanya Sahila melihat Bibi dan menghampirinya.


Saat Sahila membuka pintu itu Bibi terjatuh dan keseleo, Bibi histeris kesakitan karena Sahila tidak tau apa yang harus dia lakukan. Sahila minta tolong kepada penjaga rumah dan membawanya ke rumah sakit.


Di dalam perjalanan rumah sakit Sahila sangat khawatir dan Sahila teringat oleh kedua orang tuanya yang pergi meninggalkan Sahila dan Sahila tidak mau kalau Bibi juga meninggalkan Sahila.


Mengingat di usianya yang sekarang Sahila tidak mau terjadi apa-apa kepada Bibi Eni. Di saat itu juga Sahila memutuskan memecatnya jadi pembantu.

__ADS_1


__ADS_2