Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 3


__ADS_3

Semenjak kecelakaan setahun yang lalu Sahila harus kehilangan kedua orang tuanya. Rumah yang dulunya penuh canda tawa kini sudah hilang.


Sahila yang selalu terkesan ceria, cerewet, jaim kini menjadi pendiam dan lebih suka mengurungkan diri di dalam kamarnya.


Setiap pagi Sahila selalu duduk di ayunan teras depan rumahnya, dengan mengayunkannya pandangan Sahila tertuju ke pintu gerbang dengan penuh harapan. Berharap kedua orang tuanya kembali pulang.


Sahila selalu mengatakan bahwa kedua orang tuanya itu akan kembali, meskipun Sahila sudah menyaksikan Jenazah orang tuanya sudah di pendam di liang kubur tapi tetap saja Sahila tidak ingin memutus keyakinan bahwa orang tuanya masih hidup dan akan kembali dalam pelukannya. Seakan-akan yang terjadi tidak pernah terjadi.


Sahila yang depresi itu membuat Bibi Eni sangat terpukul tapi apa daya Bibi Eni hanyalah seorang pembantu, Bibi tidak bisa melakukan hal yang lebih untuk Sahila. Cukup hanya bisa mengawasi dan menjaga Sahila dengan baik.


"Non. Ayo masuk udah siang lho, nanti kulit Non yang putih ini jadi hitam. Ayok," seru Bibi Eni dengan menarik tangan Sahila. Tapi Sahila menahan tarikan tangan dari Bibi Eni.


"Non ayolah?" ucapnya saat tangan Bibi tertahan. Melihat ke arah wajah Sahila ia menangis memecahkan suasana.


"Kamu kenapa Non kok menangis?" tanya Bibi, menatap tajam kedua mata itu. Berjongkok di depan Sahila, Bibi Eni menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Jangan menangis Non nanti Bibi ikut menangis," lirih Bibi Eni mulai berkaca-kaca.


"Kenapa Bibi, kenapa semua ini harus menimpa Sahila?" resah Sahila.


Melihat kesedihan itu Bibi tidak tahan melihatnya, dia langsung memeluk Sahila dan membuatnya tenang. Tapi Sahila semakin menangis tersedu-sedu, Bibi semakin bingung dan khawatir.


"Bibi?" Sahila melepaskan pelukannya dan menatap tajam Bibi dengan penuh tanda tanya, Sahila melontarkan beberapa pertanyaan.


"Mama Sahila dimana?" Deg ...!


Jantung Bibi seakan-akan berhenti dan membalas tatapan tajam Sahila dengan melotot kan matanya.


Selama setahun ini Sahila tidak pernah mempertanyakan keberadaan Mamanya tapi kali ini Sahila mempertanyakan itu semua. Entah apa yang aku katakan padanya, Bibi Eni tidak mungkin mengatakannya karena kecelakaan maut itu jenazah Mama Juwita tidak di temukan karena mobil yang di kendarai Papa Sahil masuk ke dalam jurang dan Mama Juwita hilang di tempat kejadian.


Dan Sampai saat ini Mama Juwita tidak di temukan. Mengingat setahun yang lalu Bibi Eni kembali mengingatnya.


**Sebelumnya**.

__ADS_1


Saat Ambulan datang hanya jenazah Papa Sahil dan supirnya yang di antar dan semua orang juga menyaksikannya termasuk Sahila. Tapi waktu itu Sahila tidak mengatakan apapun bahkan dia tidak pernah mempertanyakannya, Sahila hanya memeluk Jenazah Papanya tanpa rasa takut dia terus menangis.


Bibi Eni pun bertanya-tanya waktu itu kenapa Sahila tidak mencari Mamanya dan dia lebih konsen ke Jenazah Papanya. Bibi juga tidak memberanikan diri untuk bertanya soal itu.


Waktu itu Pak Edo hanya memberi informasi kalau jenazah Mama Juwita belum di temukan dan pencarian terjadi selama 3 bulan lamanya. Tapi jenazah Mama Juwita tidak di temukan sehingga pencarian itu dihentikan dan pihak polisi mengatakan Mama Juwita sudah meninggal dunia dan timsar menyatakan bahwa jasad Mama Juwita kemungkinan besar di makan binatang buas.


***


"Bibi katakan? kenapa Bibi diam saja?" tanya Sahila sembari menghapus air mata yang terus membasahi pipinya.


"Dengar baik-baik." Bibi Eni berusaha tenang dan mulai menceritakan apa yang terjadi setahun yang lalu.


"Mama Non hilang, dan jasadnya tidak ditemukan. Pihak Tim sar mengatakan bahwa Mama Non meninggal dunia karena di makan binatang buas," ujar Bibi Eni sembari memegang kedua tangan Sahila.


Sahila pun terkejut dan dia melepaskan genggaman tangan Bibi. "Tidak Bibi, Mama Juwita masih hidup. Mungkin Mereka bohong mereka menyembunyikan Mama, ayo Bibi kita cari ayo," ujar Sahila dengan nada sedikit tinggi. Sembari menarik tangan Bibi dan berteriak ke supirnya untuk mengantarkannya pergi.


Melihat Sahila yang seperti itu membuat Bibi takut akan mentalnya Sahila. Ia terus memandangi Sahila saat menarik tangannya dengan kasar. Supir itu pun datang dan siap mengantarkan mereka berdua untuk pergi.


Bibi pun menghempaskan tangannya saat Sahila menariknya untuk masuk kedalam mobil  Range Rover Sport 3.0 HSE itu.


Terlihat sangat jelas saat Sahila masuk rumah, mata yang penuh air sampai bercucuran itu, kini berubah menjadi sangat merah tanpa air mata di pelupuk matanya itu karena murka.


Tapi Bibi malah mengotak-atik nomer telepon rumah.


Dengan sangat kesal Sahila mematikan panggilan Bibi.


"Non Bibi mohon biarkan Bibi nelfon," ujarnya dengan menekan-nekan nomer.


"Siapa yang Bibi hubungi sehingga Bibi mengabaikan perintahku?" Untuk pertama kalinya Sahila membentak Bibi dengan keras.


"Bibi ingin menelpon Pak Edo untuk membenarkan kematian Mama Juwita."


"CUKUP ..!" teriak Sahila tak terima, sembari berlarian menaiki anak tangga dan mengurungkan diri kedalam kamarnya.

__ADS_1


Dok dok dok.


Suara pintu kamar Sahila setelah beberapa jam kemudian. "Sahila keluarlah Pak Edo sudah datang," ujar Bibi Eni.


"Sahila? ini Om, sayang tolong buka pintu nya nak," ujar Pak Edo.


Mendengar suara Pak Edo akhirnya Sahila mau Membuka pintu itu, dengan menundukkan kepalanya Sahila berdiri tepat di depan Pak Edo. Pak Edo adalah pengacara pribadi keluarga Sahil Dermawan. Pak Edo juga di anggap seperti saudara nya sendiri oleh Almarhum Sahil Dermawan karena Orang tuanya pun sahabat dekat dengan Orang tua Pak Sahil Dermawan.


"Apa Om boleh masuk," ujar Pak Edo membungkukan badannya sembari mengangkat dagu Sahila. Sahila pun melihatnya dan hanya menganggukkan kepala dengan menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Setelah Pak Edo masuk dan duduk di sofa dekat jendela kamar Sahila itu, Pak Edo mendengar burung yang berkicau. "Kamu lihat burung itu Sahila," ujar Pak Edo dengan merentangkan tangan ia menunjuk anak burung yang berkicau dalam sangkarnya.


Sahila menganggukkan kepala.


"Nah, bukankah dia sedang sendiri?" tanya Pak Edo. Sahila menganggukkan kepalanya lagi.


"Sahila tau kenapa anak burung itu sendiri?" Sahila menggelengkan kepalanya.


"Karena anak itu sedang menunggu ibunya untuk mencari makanan untuk anak burung itu," ujarnya.


Sahila menatap tajam Pak Edo, Apa yang coba sebenarnya Pak Edo katakan. Dalam hatinya.


"Anak burung itu di tinggal oleh Ibunya untuk mencari makan, tanpa takut anaknya terjatuh dengan ketinggian itu sang Ibu meninggalkannya, karena Ibunya tau di luar sana hidup anaknya itu akan lebih bahaya. Tapi dengan penuh keyakinan sang Ibu, Ibunya pergi dengan penuh kepercayaan bahwa anaknya bisa menjaga dirinya agar tidak terjatuh dalam sangkarnya itu karena anak burung itu tidak bisa terbang," ujar Pak Edo.


Sahila makin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Edo. Apa hubungan burung itu dengan dirinya, kenapa Pak Edo menceritakan kisah burung itu tanpa menghibur Sahila atau menjelaskan sesuatu kepada sahila.


"Tapi kenapa Om menceritakan ini," tanya Sahila.


"Sahila seperti anak burung itu, apa Sahila sudah mengerti maksud Om?" Sahila hanya mengerutkan dahinya.


"Sahila tidak benar-benar sendiri, Sahila masih ada Om dan juga Bibi Eni yang menyayangi Sahila seperti anaknya sendiri jadi Sahila tidak boleh berputus asa atau menghukum diri Sahila sendiri. Semua umat manusia mempunyai cobaannya masing-masing termasuk Sahila. Sahila di berikan cobaan ini karena tuhan yakin Sahila bisa melewati ini semua dan tuhan yakin Sahila bisa bangkit dan lebih kuat dari sebelumnya. Om yakin tuhan sudah merencanakan sesuatu untuk Sahila, sesuatu yang lebih dari yang Sahila dapatkan sebelumnya. Sesuatu yang bisa mengubah hidup Sahila lebih indah dan lebih bahagia. Seperti cerita di dalam dongeng," ujar Pak Edo dengan memegang tangan Sahila berharap ia mengerti dan setelah ini Sahila bisa lebih baik dan kembali ceria seperti dulu.


Setelah cukup lama berbincang Sahila perlahan-lahan mengerti dengan apa yang coba Pak Edo katakan. Dan kehadiran Pak Edo untuk menenangkan Sahila berhasil, sekarang dia lebih baik. Karena tenang Sahila tertidur saat Pak Edo menceritakan beberapa dongeng yang membuka pikiran untuknya.

__ADS_1


8 TAHUN KEMUDIAN.


 


__ADS_2