Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 7


__ADS_3

Kediaman sahila.


Sudah berhari-hari sahila harus turun tangan untuk membersihkan rumahnya karena bibi eni masih harus beristirahat dan membuat sahila mengerjakan pekerjaan bibi eni.


" kenapa susah banget sih cari pembantu sahila capek banget." merintih kelelahan sahila membuang keringat yang ada di dahi dengan punggung tangan kiri sembari memegang sapu ditangan kanan."


melihat itu semua bibi eni berjalan pelan menghampiri sahila yang berada di punggung sofa sembari merintih kelelahan. " non?"


sontak membuat sahila kaget " iya bii? ada perlu apa? apa ada yang masih sakit? atau apa? katakan bii?


kekhawatiran sahila yang sangat berlebihan membuat bibi tak enak hati, karena bibi eni bukan sapa-sapa di rumah situ, bibi eni hanya pembantu yang dikasihani orang tua sahila untuk tetap tinggal dirumah itu semau bibi.


" tidak non. bibi tidak kenapa-kenapa, bibi baik-baik saja. bibi udah sehat non. sini bibi aja yang membersihkan rumah. kan non sahila harus pergi kuliah sudah beberapa hari non sahila tidak ngampus kan sejak pertama kali memasuki kuliah non.!"


ucap bibi eni khawatir dengan pendidikan sahila sembari merebut sapu dari tangan sahila.


" tidak bii. sahila tidak masalah, kesehatan bibi eni lebih penting dari pendidikan sahila. sahila tidak mau bibi kenapa-kenapa hanya bibi eni yang saat ini sahila punya" ujar sahila memandangi bibi dengan tatapan cemas


" tapi non. tidak seharusnya non sahila seperti ini, bibi eni tidak tega." dengan mata yang berkaca-kaca bibi eni sembari menyaut tubuh sahila dan memeluknya sangat beruntung memiliki majikan muda seperti sahila.


masih dalam pelukan sahila berkata " bibi.. bibi eni sudah seperti orang tua kandung sahila, bibi eni sudah membesarkan sahila dan menjaga sahila sebaik dan semampu bibi sehingga seperti ini, sudah cukup atas penderitaan sahila selama kepergian orang tua sahila beberapa tahun yang lalu, sahila tidak ingin juga harus kehilangan sosok ibu seperti bibi yang bibi berikan pada aku. dan sekarang hanya bibi eni yang menyayangi sahila sama seperti mama juwita yang menyayangiku " ucap sahila dengan suara sedikit tersendat-sendat tapi tegar


melepas pelukan dari sisi bibi eni, sahila menghapus air mata dari kedua pipi nya. meminta untuk tidak melayani sahila lagi atau membersihkan isi rumah itu melainkan jadi pengasuh sahila pribadi atau ibu angkat. " mulai sekarang bibi jangan panggil dengan sebutan non. tapi panggil sahila dengan nama saja. setuju" ujar sahila memberi senyum dan memajukan kelingking pertanda sepakatan.


" tapi non?" belum sempat melanjutkan pembicaraan, sahila langsung menutup mulut bibi dengan jari manis.


"udah stop. jangan membantah ini perintah."


dan mengangkat kelima jemari pertanda tidak boleh berdebat.


"dari majikan muda yang cantik jelita tiada tara ini nan mempesona." lanjut ucap sahila sambil memutar kan badan dengan penuh percaya diri..


sontak memberi suasana yang tadi nya penuh dengan suara tangisan kini berubah menjadi suara tawa sahila dan bibi eni


\* Hahahahh.... hahahaha... hahahh...!! \*


ting. tong!

__ADS_1


suara bel rumah yang menghentikan aksi lucu sahila dan tawa mereka berdua.


" bentar ya bii, sahila buka pintu dulu. sahila mohon bibi eni duduk dulu. jangan capek-capek ok" ucap sahila sembari memegang pundak bibi eni menuntun ke arah sofa. dan pergi kearah pintu rumah membuka pintu


" pagi. benar ini kediaman bapak sahil dermawan" ucap wanita berdiri di depan rumah, membawa tas yang cukup besar dan berseragam asisten rumah tangga dari kantor pusat yang sahila hubungi meminta kirim seorang pembantu di kediamannya.


"oh iya benar ini dari kediaman rumah pak sahil dermawan. ibu dari kantor pusat ***** itu kan "


ucap sahila dengan lega karena sahila sudah mendapatkan pembantu dan tidak perlu membersihkan rumah mewah itu seorang diri.


" iya benar non " ucap ibu itu yang masih berdiri di depan pintu rumah.


" mari bu silahkan masuk" memberikan jalan, sahila mempersilahkan masuk sembari menuntun ke ruang tamu untuk interview.


" oh ya.. sebelum ibu bekerja silahkan perkenalkan ibu siapa.?" ujar sahila


sahila tau sebenarnya tidak seharusnya sahila me interogasinya tapi bagi sahila itu perlu karena tidak pernah ada orang asing sebelumnya di rumah itu, karena itu sahila harus berhati-hati dalam mencari asisten rumah tangga dan langsung meminta dari pusat khusus lowongan asisten rumah tangga. demi keamanan.


" nama saya fatma non, saya bekerja sebagai asisten rumah tangga ini untuk menghidupi anak-anak saya yang ada di kampung karena saya bekerja sebagai asisten rumah tangga tetap saya harus meninggalkan kedua anak saya dikampung bersama dengan kedua orang tua saya non" ucap ibu fatma sopan


" suami udah meninggal non karena kecelakaan jatuh dari ketinggian bangunan sebagai kuli " ujar ibu fatma suara sedih.


mendengar perkataan ibu fatma, sahila langsung teringat mendiang orang tuanya yang juga meninggal karena akibat kecelakaan.


tak ingin mengingat kejadian itu karena sedih sahila langsung mempersilahkan ibu fatma bekerja dihari itu juga.


" ok bibi fatma boleh langsung bekerja. dan oh ya sebelumnya perkenalkan ini bibi saya bibi eni" ujar sahila memperkenalkan bibi eni dengan memegang kedua pundak bibi eni. dengan senyum dan bangga bibi eni langsung peluk sahila.


" untuk saat ini bibi silahkan istirahat dulu. kamarnya ada di belakang dapur silahkan saja masuk. dan nanti sore bibi langsung masak untuk makan malam dan untuk pekerjaan ibu fatma nanti bisa di jelaskan oleh bibi saya. nanti juga akan dijelaskan menu makanan atau hal kebiasaan saya sehari-hari saya. udah itu aja. silahkan." ujar sahila tegas dan sopan.


" ayok bii sahila antar ke kamar bibi dulu. sahila juga mau istirahat capek" ucap sambat sahila menuntun bibi kearah kamar tamu.


meskipun bibi eni udah dianggap seperti ibu sendiri dan juga sangat menyayangi nya sahila tidak mau memberikan kamar orang tua sahila ke orang lain meskipun itu bibi eni yang sudah dianggap ibu kandung sendiri.


" makasih ya non." menggenggam tangan sahila dengan kedua telapak tangan bibi eni terharu.


" iya bii, udah ah jangan baper-baperan lagi. satu lagi tuh yang lupa panggil nama sahila aja gak pakek non." melirik dengan dahi berkerut.

__ADS_1


" iya sahila sayang" ucap bibi dengan mencubit hidung sahila.


hari yang sangat melelahkan bagi sahila membuat sahila tertidur pulas. jam dinding menunjukan pukul 17.30 wib.


suara dering berbunyi dari telfon sahila.


meraba meja samping tempat tidurnya


Devi. ucap sahila melihat hp genggam miliknya dengan setengah mata terbuka dan membuka lebar mulutnya menguap.


" ha hallo, kenapa vi?" ucap sahila kesal setengah sadar.


" ganggu aja." lanjut merintih lemas


menganggu tidur pulas nya dengan mata masih tertutup dan hp di atas telinga.


" apa.? kenapa lu bilang, eh tuan putri lu kayak kagak punya dosa aja lu yee." teriak kesal histeris devi dari telfon yang masih diatas telinga sahila.


"aduh" teriak kesakitan memegang telinganya karena teriakan si devi yang terlalu kenceng.


" lu gila ya, biasa aja kalek. sakit nih telinga gue" lanjut rintihan lemas sahila setengah teriak dan setengah mata terbuka.


" eh masih untung gue kasih tau lu ya. tuh lu dicari dosen. lu mau di skors karena ber hari hari gak masuk kelas. lu itu orang baru jangan bergaya, kayak tuh kampus punya nenek moyang lu."


lanjut teriak gemas devi dari suara telfon genggam miliknya.


" haduh ini orang ya, gak bisa slow apa ngomong nya"batin sahila sambil melempar hp kebelakang punggung sahila yang tertidur miring.


" hallo.? hallo sahila? dengar gak si ni orang" suara devi yang masih terdengar di hp miliknya yang belum di matikan.


"suara kayak petir berisik banget" batin sahila


dengan membalikan badan dan " iya vi besok gue masuk. puas!"


" yaudah gue tunggu di kampus. inget gue tunggu"


"iya, bawel" ucap sahila langsung mematikan hp. melihat jam dinding masih setengah mata terbuka sahila melanjutkan tidur malamnya.

__ADS_1


__ADS_2