Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 41


__ADS_3

Tidak ingin menyerah Haykal terus melakukan segala cara untuk mengambil hati Sahila kembali, dia terus merayu bahkan dia mengkhawatirkan masa depannya jika dia tidak menerima Haykal dengan dengan tangan terbuka, masa depannya akan benar-benar hancur. Tapi karena keras kepala Sahila ia tetap dalam pendiriannya.


Kediaman Sahil Dermawan.


"Pulanglah Kal aku mau istirahat, terima kasih untuk hari ini," ujar Sahila.


"Tunggu Sa," ujar Haykal menahan tangan Sahila.


"Apa lagi?" lirih Sahila.


"Yang saya katakan tadi sungguh aku serius Sa, aku benar-benar sangat mencintai mu. Mungkin ini waktunya tidak pas tapi inilah yang dikatakan isi hatiku saat ini, aku benar-benar mencintai mu bahkan aku berniat untuk meminang mu ..."


"Cukup Kal hentikan." Sahila menatap kedua mata itu, Sahila benar-benar ingin melihat keseriusan Haykal tapi sayangnya cinta yang dulu ia miliki untuk Haykal kini sudah hilang, tidak ada cinta ataupun namanya yang dulu terukir di hatinya. Kini Cinta nya sudah hilang bersama virgin yang ia rampas dengan curang.


"Apa kau benar-benar mencintaiku?" ujar Sahila dengan tatapan tajam.


"Iya," Jawab Haykal dengan menganggukkan kepala.


"Apa kau benar-benar ingin memiliki aku seutuhnya ?"


"Iya Sa," seru Haykal


"Apa kau sudah benar-benar yakin atas keputusan mu ini? dan tidak akan menyesalinya?"


"Iya, tidak akan aku menyesali keputusan yang sudah aku pikirkan dengan matang ini," ujarnya.


"Baiklah jika kamu sudah yakin, sekarang aku milik mu, dan kamu milik ku, Aku sudah mendapatkan cinta mu itu tapi kamu sudah kehilangan cintaku," ujar Sahila.


"Apa maksud mu Sa?" tanya Haykal sembari mengerutkan dahinya.


"Iya aku sudah menjadi milik mu, semua yang ada dalam diriku sudah menjadi milikmu. Tapi tidak cintaku karena semuanya sudah hancur karena mu jika bisa, kamu boleh menyatukan serpihan cinta itu yang sudah hancur tapi seperti layaknya pecahan kaca bekasnya akan tetap ada." Sahila langsung mendorong pintu mobil itu dan menutupnya dengan kasar dan masuk kedalam rumah nya tanpa berpaling.


Haykal yang berada di dalam mobil tercengang oleh kata-kata Sahila, dia merasa harga dirinya sudah terjatuh dan tidak ada harga dirinya lagi di depan Sahila, baru kali ini ada cewek yang sangat berani memperlakukan dirinya seperti itu. Menghina dan menolak cintanya.


Apalagi saat virgin nya sudah ia renggut semua wanita pasti bertekuk lutut dan minta pertanggung jawabannya tapi dengan sangat berani dan tanpa rasa takut akan masa depannya, Sahila justru menolak kebaikan dan pertanggung jawabnya itu seakan-akan tidak ada nilainya di mata Sahila.

__ADS_1


Dengan senyum sinis dan tertawa kecil Haykal menyalakan mesin mobilnya dan membanting setirnya keluar dari halaman rumah Sahila dengan kecepatan 120 km.


"Bodoh! Bodoh jika kamu menolak gue Sa. Kamu lihat gue akan memastikan kamu pasti bertekuk lutut lagi kepada ku dan saat kamu mengemis cinta ku, aku pastikan belas kasihan ini tidak akan ada lagi dan setelah itu akan aku buang raga dan cinta mu sejauh mungkin dari hidup ku," gumam Haykal dengan satu alis ke atas.


****


"Sahila kamu sudah datang nak?" ujar Bibi Eni saat Sahila melewati ruang tamu.


"Bibi kok belum tidur?" tanya Sahila sembari melangkahkan kakinya ke arah Bibi Eni yang sedang duduk di sofa.


"Bagaimana Bibi bisa tidur sedangkan anak Bibi ada di luar, entah kemana dia pergi dan sampai selarut ini kamu baru pulang," lirih Bibi Eni mengusap-usap wajah sayu Sahila.


"Apa ini?" sambung Bibi Eni saat melihat Sahila memegang beberapa kantong belanjaan di tangannya.


"Ini habis belanja, terus tadi di ajak jalan di pasar malam. Lalu kita makan sebentar karena itu Sahila telat pulang maafkan Sahila ya Bii sudah bikin Bibi khawatir," ujar Sahila sembari memegang kedua tangan Bibi dan mengecupnya.


"Tidak papa, yang penting anak Bibi ini baik-baik saja terus dimana teman-teman Sahila kok gak mampir dulu." ujar Bibi eni dengan mendongakkan setengah kepalanya.


"Bibi Sahila tidak pergi dengan mereka, Sahila pergi dengan Haykal," lirih Sahila dengan mengerutkan dahinya.


"Apa? Bukankah kalian tadi pergi bersama?" tanya Bibi Eni dengan alis hampir menyatu.


"Baiklah kalau gitu Sahila bisa istirahat, tapi ingat besok Sahila harus menjawab semua pertanyaan Bibi dan Bibi tidak akan menerima alasan apapun dari Sahila.


"Iya pasti Bii Makasih ya, " ujar Sahila sembari memegang pundak Bibi Eni dan berjalan menaiki anak tangga dengan langkah yang sangat pelan dengan posisi menekuk nekuk lehernya.


"Iya non gak papa," balas Bibi Eni.


"Eits.. Tidak pakai non."


"Iya maaf." Sahila pun tersenyum tipis dan ia pun kembali melanjutkan menaiki anak tangga dengan langkah pelan.


Untuk kedua kalinya Sahila merasa sangat hancur.


Pertama dia harus kehilangan kedua orang tuanya untuk selamanya dan sekarang pun dia harus kehilangan virgin yang juga tidak akan bisa merubah dirinya untuk bisa menjadi wanita yang di banggakan lagi atau merubah dirinya lebih baik lagi dari tahun ke tahun untuk masa depan yang cerah.

__ADS_1


Kehidupannya seakan-akan sudah berhenti di mana Haykal merebut itu semua dan kini hanya ada luka dan kecewa. Haykal juga harus merasakan sama dengan apa yang di rasakan Sahila dan ia juga harus menelan benih duri yang sudah ia tanam pada diri Sahila.


Kehancurannya akan menghancurkan kehidupan Haykal.


Dengan menangis tersedu-sedu Sahila membanting tubuhnya di atas tempat tidurnya dan menyeret bantal menutupi wajahnya.


Menatap layar ponsel, tidak ada satupun dari sahabat Sahila yang mengabari dirinya. Mungkin karena mereka marah dan juga terlalu kecewa atas perilakunya terhadap sahabat-sahabatnya itu.


"Dhani aku kangen," ujar Sahila saat melihat foto Dhani dari layar ponselnya, tiba-tiba ada panggilan masuk.


*Kring ... Kring ...


"Dhani"


Dengan sangat bahagia Sahila pun langsung menyapu layar ponselnya ke atas untuk mengangkat telfon dari Dhani.


"Halo Dhani," seru Sahila sembari menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Sahila apa kamu baik-baik saja? maaf tadi gue tinggal kamu begitu saja dengan cowok tanpa akhlak itu, rasanya tadi aku ingin membunuhnya dan mencacah tubuhnya, " lirih Dhani dengan nada yang sangat pelan tapi sedikit membentak.


Sepertinya Dhani menyesali perbuatannya karena meninggalkan Sahila dengan cowok ******** seperti Haykal.


"Tidak Dhan, kamu jangan bicara seperti itu. Gue yang minta maaf sama lu karena gue udah nyakitin hati kamu sehingga kamu pergi meninggalkan aku dengan cowok Brengsek itu," ujar Sahila kesal.


"Apa tadi kamu bilang?" tanya Dhani, ia tidak percaya kalau Sahila juga sependapat dengan Dhani.


"Apa?" tanya Sahila bingung.


"Itu tadi katakan satu kali lagi."


"Yang mana Dhan?" Sahila semakin bingung.


"Kalau Haykal cowok yang ..." seru Dhani, Sepertinya Dhani mulai kembali semangat, dan Sahila mengerti apa yang di maksud Dhani, dengan lantang Sahila mengulang perkataannya tadi.


"Iya dia adalah cowok yang sangat Brengsek. Sangat-sangat BRENGSEK!" seru Sahila dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


"Iya benar sangat brengsek." Sahila dan Dhani pun tertawa dengan terbahak-bahak saat mereka berdua dengan kompak mengatai Haykal cowok yang Bre***sek.


Keseruan mereka pun berlanjut tanpa ingat waktu mereka berbincang di dalam telfon sampai subuh tanpa mereka sadari.


__ADS_2