
Mendengar pernyataan Sahila, Dhani pun mengembalikkan majalahnya dan beranjak dari kursi dan dia pun pergi meninggalkan Sahila sendiri.
"Dhani! mau kemana kamu?" teriak Sahila menghentikan langkah kaki Dhani.
"Cari angin. panas!" balas teriak Dhani cuek dengan melanjutkan langkahnya keluar.
"Uhh..! kenapa sih gw ini," teriak Sahila dengan mendorong kursinya kebelakang dan berdiri meninggalkan restoran mengejar Dhani.
"Dhan? Dhani tunggu?" teriak Sahila dengan langkah lebih cepat. Dan saat ini berada tepat dihadapan Dhani.
" kamu marah?" tanya Sahila dengan menatap tajam kedua mata Dhani.
"Enggak! marah kenapa?" tanya Dhani balik, kesal.
Dengan menghela kan nafas Sahila meminta maaf, dia mengakui kesalahannya dan menyatukan kedua tangannya untuk pengampunan nya.
Melihat Sahila memohon seperti itu, Dhani jadi luluh dan akhirnya mau memaafkan nya. Dan mereka pun kembali berbaikan, dan berpelukan.
"Sekarang katakan yang sebenarnya, kamu kenapa?" tanya Dhani masih penasaran, dengan menatap tajam ke arah mata Sahila.
"Plis! jangan bahas ini. aku mohon!" Sahila memohon dan saat ini memegang kedua telinganya itu.
"Oke, gak masalah kalau lu gak mau jawab. tapi gw punya satu permintaan," ujar Dhani dengan memegang kedua tangan Sahila untuk melepaskan telinganya, yang masih memegang telinganya itu dan menurunkannya.
"Ok! gw setuju. apa tuh?" ucap Sahila penasaran dengan senyum tipis.
"Temenin gw mengelilingi puncak ini. Hanya ber dua sa ja," ujar Dhani dengan melotot sembari meletakkan kedua tangannya dipinggang.
"Ih! apaan sih lu, gak lucu tauk" pekik Sahila dengan tertawa kecil.
"Setuju gak?" rajuk Dhani dengan melipatkan kedua tangannya.
Sahila pun mengangguk-angguk kan kepala!
__ADS_1
Mereka berdua pun mengelilingi puncak itu, saat ini mereka mengelilingi puncak itu dengan dua sepeda. Tidak hanya itu, Dhani mengajak Sahila ke pasar sore di sana mereka belanja sesuatu untuk oleh-oleh dan membawa beberapa kue basah kesukaan Devi dan sahabat lainnya.
***Restauran***!
"Mereka semua kemana? kata Sahila dia nunggu gw disini!" ujar Haykal dengan mengamati sekeliling. Semua tempat yang ia lihat tidak satu pun dari keempat sahabat itu terlihat.
"Yaudahlah kita sarapan aja yuk, gw laper nih. Mungkin mereka semua udah pergi karena lama menunggu kita," sahut Cindy dengan menarik kursi yang berada tepat didepannya.
Haykal pun menyetujui itu dan mereka berdua pun duduk untuk sarapan, hanya berdua. Devi dan Dhenis pun tidak terlihat sejak Sahila pergi ke kamar Haykal.
"Gw kesini bukan untuk liburan yang seperti ini. Tapi gw kesini dengan rencana yang udah gw susun dengan baik. Tapi kenapa jadi begini," batin Haykal dengan melirik tajam ke arah Cindy. "Ini semua gara-gara cewek ini, ngapain sih gw bawa cewek ini kesini. Sahila jadi nyuekin gw, dan sekarang malah lebih dekat dengan Dhani," batin Haykal dengan merogoh ponselnya di saku celananya.
Saat Haykal menyalakan layar ponsel terdapat notifikasi story instagram Sahila. "Brengsek! Dhani..!" geram haykal saat membuka notifikasi itu dan hampir membanting ponselnya tapi tangan itu dihentikan oleh Cindy.
"apa-apa an si lu Kal!" ujar Cindy dengan dengan alis hampir menyatu sembari mengambil ponselnya dalam genggaman Haykal. Terlihat story Sahila saat bersama Dhani, berfoto di atas sepeda.
"Karena ini kamu marah? hah!" bentak Cindy bertanya.
Melihat Haykal tertunduk diam seperti itu, dan gerundel tidak jelas. Cindy pun menggelengkan kepala dan pergi meninggalkan Haykal sendiri. Terlihat Cindy sedang memasukan baju-bajunya kedalam koper dan meninggalkan hotel di saat itu juga.
Saat Haykal hendak menuju kamarnya untuk meminta maaf. Tiba-tiba Haykal terkejut saat melihat Cindy membawa kopernya.
"Cindy tunggu! mau kemana kamu?" ujar Haykal dengan menatap koper yang Cindy pegang.
"Gw mau pulang. males ya berurusan orang kaya kamu. yang konsisten dong," teriak Cindy memaki dengan nada tinggi sembari mendorongnya sampai terjatuh kelantai.
Saat Cindy mengembalikkan kunci kamarnya ke resepsionis, terlihat oleh Devi dan juga Dhenis. Mereka pun menghampirinya dan bertanya "ada apa ini? kenapa kamu membawa koper?" tanya Devi cemas.
Saat Cindy mau membuka mulut, Haykal datang dan memulai percakapan. menjelaskan bahwa Cindy dapat telfon dari orang tuanya dan dia harus balik sekarang juga karena urusan yang darurat.
plak!
Dengan kesal Cindy pun menampar Haykal dengan sangat keras. Devi dan Dhenis pun dibuat terkejut olehnya dan tercengang saat tangan Cindy sudah melayang kearah pipi Haykal.
__ADS_1
Cindy pun akhirnya pergi dengan menyeret kasar kopernya itu.
"Au! pasti sangat sakit itu," lirih Dhenis dengan memegang pipinya.
Melihat aksi Dhenis itu, Haykal pun melotot dengan alis hampir menyatu dan memegang pipinya karena menahan rasa sakit tamparan dari Cindy. Langsung membalikkan badan dan melangkah dengan cepat masuk kedalam hotel.
"Kamu itu apa-apaan sih sayang, orang ditampar malah di ejek. Jadi marah tuh," ucap Devi dengan menarik paksa tangan Dhenis sembari membuka layar ponsel.
"Hallo? dimana lu Sa?" tanya Devi dalam telfon genggam.
Cafe village
"ah serius lu vi?" ujar Sahila kaget. Saat Devi menceritakan kejadian pertengkaran antara Haykal dengan Cindy saat di loby tadi.
"Iya Sa, gw kaget banget saat tangan Cindy menampar keras Haykal. dengan bersamaan suara tamparan itu Cindy langsung pergi meninggalkan hotel dengan membawa koper," seru Devi dengan alis hampir menyatu.
"Pasti ada hal yang serius di antara mereka? kalau enggak, gak mungkin dong Cindy sampai pergi tanpa memberitahu kita?" ujar Sahila dengan memegang dahinya berfikir.
"Lah mangkanya itu Sa. Pas gw tanya cindy, eh malah Haykal yang jawab dengan nyelonong" ujar Devi dengan menyunggingkan bibirnya ke atas.
Tertawa kecil terdengar dari mulut Dhani.!
"Lu kenapa Dhan?" tanya Sahila penasaran yang tiba-tiba tertawa dengan mengerutkan dahinya sembari mendongakkan kepalanya ingin tahu.
Dhani pun hanya tersenyum saja saat dapat pertanyaan Sahila. Dhani mungkin tidak tahu masalah antara pertengkaran mereka tapi Dhani tau benar hubungan antara mereka.
Saat Haykal menarik tangan Cindy ke kamarnya. Ternyata Dhani melihat itu semua, saat Dhani hendak ke kamar Sahila untuk memberi obat anti linu.
Tapi semua itu Dhani simpan dan hanya memberitahu Dhenis bahwa mereka sedang bercumbu.
Melihat Dhani yang hanya tersenyum-senyum saja Dhenis mengerti dan menutup mulutnya berusaha menahan untuk tidak tertawa, agar tidak dapat pertanyaan seperti Dhani.
" ihh! nyebelin banget sih lu Dhan," rengek Sahila dengan memalingkan wajahnya dari Dhani.
__ADS_1