
"Sayang!" lirih Haykal saat memiringkan tubuhnya dengan meraba, tangan itu mencari tubuh Sahila yang tidur disampingnya. Tapi tangan itu tak kunjung menggapainya, dengan membuka mata Haykal melotot kan matanya.
Ia pun menelusuri seluruh ruang kamar tidur miliknya itu tapi ia tidak menemukannya dengan bergegas Haykal turun dari kasurnya mencari Sahila ke kamar mandi tapi juga tidak ada, dan dia melanjutkan langkahnya jalan keluar dari kamar itu.
Tapi Haykal tetap tidak menemukannya dan melihat kearah lantai, Haykal hanya melihat baju miliknya sendiri yang berhamburan di ruang tamu itu.
Di sana juga ia tidak melihat satu helai baju milik Sahila, dengan bingung Haykal pun mencari keberadaan ponselnya dan mencoba menghubungi Sahila.
Tapi ponsel yang Haykal hubungi sudah tidak aktif dan Haykal pun memikirkan atas hilangnya Sahila dengan secara tiba-tiba.
"Mungkin dia sedang cari angin," batin Haykal dengan menoleh ke arah samping sofa.
"Tapi dimana koper itu? gw ingat sekali koper Sahila aku taruh tepat di pinggir sofa itu" lanjut lirih Haykal khawatir.
"Kalau emang dia sudah pergi dari sini, kenapa dia pergi begitu saja tanpa memberi tahu ku?" batin Haykal dengan menjatuhkan barang-barang yang berada di atas meja ruang tamu itu dengan kasar. Gelas dan botol minuman itu pun pecah berhamburan.
"Sahila kemana kamu? jangan buat aku cemas seperti ini dong!" ucap Haykal dengan menarik-narik rambutnya.
Hotel village.
Liburan ketiga sahabat sahila itu pun akhirnya usai, terlihat jelas saat Dhenis dan Devi mengembalikan kunci kamar di resepsionis. Dhenis juga memberikan Atm miliknya untuk membayar lunas semua dari pemesanan makanan ke kamar serta minibar yang disediakan di masing-masing kamar itu.
"Gak kerasa ya liburan kita udah berakhir dan endingnya gak seru, " rajuk devi dengan menempatkan dirinya di tengah-tengah ke dua kursi depan, dalam mobil itu.
__ADS_1
Dhani yang duduk di kursi depan itu hanya terdiam dan menatap layar ponsel miliknya. Sedangkan Dhenis yang mengendarai itu hanya melirik tersenyum ke arah Devi dan mengelus lembut pipinya.
Melihat aksi kedua pria yang tanpa respon itu, Devi pun kesal dan menyandarkan tubuhnya di kepala kursi mobil belakang. Dengan melihat-lihat hasil potret saat liburan sama Sahila, Devi pun merasa kangen dan mencoba untuk nelfon Sahila dengan maksud menayakan kabarnya dan juga masalah yang menimpa Haykal dan Cindy tapi dari informasi pusat memberitahukan bahwa yang dihubungi Devi sedang tidak aktif.
"Ya Hp nya mati," lirih Devi dengan menaruh kasar ponselnya itu di samping pahanya.
"Kenapa sayang?" tanya Dhenis dengan melirik ke arah spion tengah.
" ini yang, gw nelfon Sahila tapi gak aktif," jawab Devi dengan nada kesal sembari menutup kedua matanya itu.
" ow, udah dong jangan kesal gitu kan besok bisa ketemu di kampus atau nanti kamu datang aja langsung kerumahnya, biar aku antar sekaligus meminta maaf," balas Dhenis dengan senyum tipis. Devi pun merasa senang dan lega.
"Kira-kira dia masih marah gak ya yang," tanya Devi dengan nada lirih.
"Kalau marah wajar lah yang, tapi kan Sahila gak pernah bisa kalau marah lama-lama, entar kita hibur dia juga udah balik sembuh," ejek Dhenis dan Devi hanya tertawa kecil dan menganggukkan kepala.
Ting tong.
"iya! cari siapa ya," tanya bibi eni saat membuka pintu.
"emm! Sahila nya ada bii? tanya pria itu.
"Iya ada, kalau tau den ini siapa ya? tanya bibi eni dengan mengerutkan dahinya. karena bibi eni tidak pernah melihat sebelumnya dan Sahila juga tidak pernah menceritakan pria yang berdiri di depan bibi eni saat ini.
"Siapa bii?" teriak Sahila saat menuruni anak tangga.
Dengan tanpa izin pria itu menerobos masuk saat mendengar suara Sahila. Tentu itu membuat bibi eni kaget dengan sikap pria itu dan saat pria itu menunjukan dirinya di hadapan Sahila ia pun terkejut dan gelas yang ada di genggaman Sahila terjatuh dan pecah.
__ADS_1
"Haykal!" gumam Sahila kaget dengan alis hampir menyatu.
"Kau? ngapain kamu ke sini?" teriak Sahila marah saat Haykal berada di bibir anak tangga itu. Mengingat kejadian sewaktu di apartemen tadi membuat darah Sahila naik sampai ke ubun-ubun.
Ia pun langsung membalikan badan dan lari menaiki setengah anak tangga itu.
"Sahila tunggu!" teriak Haykal lari menaiki anak tangga dan menginjak serpihan kaca gelas itu dengan sepatu yang ia kenakan.
Brak.!
Suara pintu terbanting dengan keras Saat Haykal tepat berada di depan pintu kamar Sahila.
"Sahila plis keluar lah, kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik," teriak Haykal dengan menggedor-gedor pintu itu.
Dibalik pintu itu Sahila berdiri dan hanya bisa menangis dan mengingat akan masa depan Sahila kini sudah di lenyap kan oleh Haykal dalam semalam.
"Kenapa Kal? kenapa kau lakukan ini?" teriak Sahila dengan nada tersengal-sengal sembari memukul pintu itu.
"Dengan sangat menyesal gw minta maaf Sa, gw juga hilang kendali. Gw sadar gw sudah jatuh cinta sama lu dan gw tau lu juga jatuh cinta kan sama gw karena itu gw berani dan tanpa memikirkan apapun," ucap Haykal dengan memegang ganggang pintu kamar Sahila, berharap ia mau membuka pintunya.
"Tapi kamu tidak berhak akan semua atas diriku" teriak Sahila dengan menendang keras pintu itu. Tapi Haykal tidak menyerah ia terus berusaha membuka pintu kamar itu dan ia juga mengancam akan mendobrak pintu itu jika Sahila tidak membukanya dengan segera.
Dengan sangat terpaksa Sahila pun membuka pintu dengan cucuran air mata, Sahila tertunduk malu, ia juga tidak bisa melihat orang yang sudah menghancurkan semua impiannya itu. Tanpa malu Haykal langsung memeluknya saat Sahila membuka pintu kamarnya itu.
Setelah berdebatan itu akhirnya Sahila mau mendengarkan Haykal tapi Sahila tidak ingin membicarakan itu semua di rumahnya karena itu masalah yang sangat sensitif. Saat Haykal menerima permintaan Sahila, Haykal langsung menarik tangan Sahila dan membawanya pergi dari rumahnya itu.
Terlihat bibi eni sedang membersihkan serpihan gelas beling yang Sahila jatuh kan di anak tangga. Dengan menundukkan kepala Sahila tidak berani menoleh ke arah bibi eni. Bibi eni hanya melihat uraian rambut Sahila yang menutupi wajahnya dan dengan tangan Haykal yang menggandeng Sahila tepat dibelakang Sahila.
__ADS_1
"Sahila kenapa? sepertinya ada masalah besar? Tapi apa itu? Sahila juga tidak memberitahu ku ke mana dia akan pergi," batin bibi eni dengan sangat cemas dan memanggil bibi fatma untuk melanjutkan membersihkan serpihan gelas kaca itu.