Pacarku Musuhku

Pacarku Musuhku
episode 36


__ADS_3

Tak lama setelah itu Devi dan Dhenis datang.


"Dhan gimana Sahila?" tanya Devi dengan wajah cemas.


"Dia masih mengurungkan diri di kamar," jawab Dhani.


"Masalahnya serius banget ya," ucap Devi dengan mengerutkan dahinya sembari meletakan tasnya di samping pahanya yang sudah menduduki sofa ruang tamu itu.


"Ia sehingga rasa nya aku ingin sekali membunuh pria itu."


"Jaga bicara mu Dhan," ujar Dhenis.


"Siapa yang kamu maksud?" tanya Devi penasaran tapi


Dhani hanya melengos kan wajahnya, dan menatap ke arah atas ujung tangga itu.


"Ayo semua kita makan dulu, Bibi udah masakin sarapan buat kita semua nih. Sementara itu saya panggil Sahil. Ayo sini duduk," ujar Bibi dengan menata piring di atas meja masing-masing. Bibi benar-benar orang yang sabar dan dia juga bisa membuat situasi yang tegang menjadi tenang. Bibi pun melanjutkan langkahnya ke arah anak tangga untuk menemui Sahila buat sarapan pagi.


Tak lama setelah itu Sahila turun. Kali ini dia lebih sedikit membaik, dengan keadaan yang tadinya kusam, baju yang berantakan dan rambut yang acak-acakan tapi sekarang sudah lebih berseri-seri dan rambut lebih rapi dengan poni terjepit ke atas.


Sekilas Dhani sedikit senang melihat Sahila yang sudah lebih baik. Walau sebenarnya ada pertanyaan di pikiran Dhani dengan kedatangan Haykal tapi itu ia pendam, dia tidak mau merusak mood gadis itu.


Dengan menarik kursi Sahila duduk dan hanya menyapa ke dua sahabatnya yang baru datang itu, Devi dan Dhenis. Ia hanya melontarkan sapaan dengan sedikit senyuman tipis. Dan kembali menundukkan kepala mengambil dua centong nasi goreng di atas piringnya.


Devi sedikit lega setelah melihat sahabatnya itu ternyata baik-baik saja, dengan memegang telapak tangan Sahila yang berada di pinggir piring Devi melebarkan senyumannya dan memberi sedikit semangat ke sahabat baiknya itu. "strong and keep smiling," ujarnya. Sahila pun menganggukkan kepala dan tersenyum menunjukkan giginya. Melihat senyum diwajahnya Devi pun sangat senang.


"Ayo silahkan dimakan." Tiba-tiba suara Bibi membuyarkan tatapan kedua sahabat itu.

__ADS_1


Dengan menyendok kan nasi goreng itu ke mulutnya sekilas Sahila melihat Dhani yang duduk di depannya itu. Wajah tanpa ekspresi itu, Sahila kembali menundukkan kepalannya dan tiba-tiba sendok yang ia pegang itu dia banting di atas piring nya dengan kasar. Sontak membuat semua orang yang berada di meja makan itu kaget dan tercengang saat melihat Sahila yang tiba-tiba membanting sendok nya itu dan berdiri dari kursinya. Dengan berlarian Sahila kembali ke kamarnya.


"Kenapa dia?" sontak Devi kaget.


"Baru saja dia bisa tersenyum ke gue kok tiba-tiba marah gitu. Apa ada yang salah sama gue ya," sambungnya.


"Tidak. Itu karena aku, karena aku dia bete," sahut Dhani.


"Apa yang kamu lakukan sampai dia marah seperti itu?" tanya Devi dengan mengerutkan dahinya dan sembari menaiki anak tangga itu untuk melihat keadaan Sahila.


Bibi yang ikut tercengang pun kini ia tidak bisa melanjutkan makannya dan kini Bibi juga kembali masuk ke dalam kamarnya. Dhenis yang juga ikut kaget itu pun dia juga meletakkan sendok nya dan hanya mengambil buah apel dan duduk di sofa ruang keluarga. Tidak mau ambil pusing Dhenis mengambil stik game yang berada di ruang keluarga itu.


Dhani yang melihat aksi kakaknya itu pun ikut berdiri dan menghampirinya untuk menemani dia main game. Terlihat Dhani yang mengambil stik kedua di bawah meja.


"Apa kamu sudah tau masalahnya?" tanya Dhenis yang mulai duduk di sampingnya.


"Tidak ada yang terlalu rumit kalau kamu mengetahui inti permasalahannya dan kamu selesaikan dari sumbernya dan kamu akan lebih memudahkannya," ujar Dhenis jelas dan padat sembari memalingkan wajahnya dari layar TV.


Melihat kedua mata Dhenis, Dhani paham apa yang sedang di bicarakan kakaknya itu dan dia langsung beranjak dan pergi dari kediaman Sahila.


****


"Sa.. Apa gue boleh masuk," tanya Devi yang berada di balik pintu dengan sedikit pintu terbuka.


"Masuklah Vi," ujar Sahila dengan menghapus lembut air mata yang membasahi pipinya.


"is everything all right?," tanya Devi dengan memegang pundak Sahila yang membelakanginya.

__ADS_1


Sahila yang tidak bisa menahan tangisannya ia pun membalikkan badan dan memeluk sahabat baiknya itu dengan pecahan tangisannya. " is ok, menangis lah Sa," sambungnya dengan membalas rangkulannya.


"Gue udah tidak berguna Vi gue sudah mengecewakan ke dua orang tua ku."


"Kenapa kamu ngomong gitu. Kamu adalah anak yang baik dan selalu menjaga kehormatan orang tua mu meskipun mereka sudah tiada tapi kamu selalu menjunjung nama baik mereka dengan baik," ucap Devi dengan mengelus lembut punggung sahabatnya itu.


Sahila pun semakin jadi menjadi tangisannya saat Devi mengatakan itu. " Kamu tidak tau Vi apa yang sudah saya lakukan and this is very embarrassing," batin Sahila dengan menghapus air matanya yang masih dalam pelukan Devi dan mendorong lembut pundak Devi itu.


"Apa menurut mu aku teman yang baik?" tanya Sahila dengan tatapan tajam.


"Kenapa harus kamu pertanyakan. Tentu saja kamu teman yang baik. very very good. and the only best friend in this world," balas Devi dengan menghapus air mata yang terus mengalir di dalam matanya itu.


"Tapi aku bukanlah anak yang baik." Sahila semakin meluapkan emosinya saat ini dan menundukkan wajahnya karena malu.


"Hai lihatlah aku," ujar Devi dengan mengangkat dagu yang berusaha menyembunyikan wajah lesunya itu.


"Siapa yang bilang kamu bukan anak yang baik. Kamu ingat kan sewaktu mereka masih hidup, kamu selalu menjadi anak kebanggaan mereka dan juga penyemangat mereka. Lalu kenapa kamu pertanyakan semua ini, pointless question."


"Tidak Vi. Kamu jangan bandingkan aku dengan Sahila yang dulu. Nyatanya Sahila yang sekarang adalah Sahila yang gak guna, Sahila yang gak tau diri, Sahila yang sudah menghancurkan kebanggaan kedua orang tuannya. Lalu sekarang kamu masih ngomong aku anak yang seperti itu," lirih Sahila setengah bentak.


"Apa maksud mu yang sebenarnya?" tanya Devi dengan mempertanyakan omongan Sahila yang tidak di masuk akal itu. Devi sudah mempertanyakan kebaikan yang ia kenal selama ini. Dengan menatap tajam kedua sahabatnya itu dengan tegas ia ingin jawaban segera dan jelas.


"A-aku. Aku sudah kotor," ucap Sahila jelas. Dengan melepaskan kedua tangannya dari pundak Sahila, Devi tercengang dan semakin mempertajam pandangannya yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Apa yang kamu bicarakan?" Devi meyakinkan kembali dengan apa yang sudah ia dengar.


"Ia Vi gue sudah tidak suci lagi gue sudah kotor," jelas Sahila. Pernyataan Sahila itu seakan-akan menusuk jantung Devi dan ia pun kini tergeletak lemas saat mendengar pernyataan sahabat yang selama ini dia sanjung-sanjung kan itu.

__ADS_1


__ADS_2