
“ Kamu yakin nak mau jadi guru?” tanya Bu Tina membuyarkan
lamunan Nina, putri semata wayangnya.
“ Yakin lah ma.. yakin banget malah.” jawab Nina pasti. “Kok
jadi mama yang ragu sih,emangnya mama kenapa?” tanya Nina seraya memeluk
mamanya.
“Mama takut kamu bosan. Emangnya kamu bisa Nin, ngajar anak
SD lo itu.. Kamu bisa jadi guru yang sabar? Anaknya tante Sinta aja masih kamu
godain sampai nangis. Apa kamu juga mau godain murit-muritmu? Atau nanti malah
kamu yang digodain sama murit-muritmu?” kata bu Tina.
“Iihh mama lebay deh... gak gitu juga kali ma. Nina bakal
serius kok, Nina janji. Mama gak usah khawatir.” Jawab Nina meyakinkan mamanya
sambil sesekali bibirnya mencium pipi mamanya.
*********
Yaa... namanya adalah Nina. Gadis berusia 22 tahun ini bisa
dikategorikan sebagai gadis yang mendekati sempurna. Betapa tidak, udah
cantiknya maksimal,anaknya orang kaya, ceria, baik hati pula. Ayahnya memiliki
beberapa perusahaan besar di Indonesia dan di Singapura, tak jarang Nina sering
turun tangan membantu pekerjaan Ayahnya karena meski usianya masih belia Nina
adalah lulusan Magister Ekonomi di salah satu Perguruan Tinggi terbaik di
__ADS_1
Indonesia. Namun sejak kedatangan Pakdhe Haris kerumahnya 3 hari yang lalu,
Nina jadi bersikeras untuk menjadi guru di sebuah Sekolah Dasar yang Pakdhe nya
pimpin.
Pakdhe Haris adalah kakak dari Ibu Tina, beliau adalah
pemilik sekaligus Kepala Sekolah di SD Tunas Bangsa. 3 hari yang lalu Pakdhe Haris
beserta keluarganya datang berkunjung ke rumah Nina. Beliau bercerita tentang
sekolahnya yang tengah kekurangan guru. Akhirnya entah setan apa yan g merasuki
Nina, dirinya begitu saja menawarkan diri untuk menjadi guru.
“Aku aja Pakdhe yang jadi guru disana.” kata Nina.
“Oo ya... kamu serius?” kata Pakdhe Haris
“Serius Pakdhe...Nina ingin bantu Pakdhe di sekolah. Boleh
“Waahhh...Pakdhe gak bisa nolak ini. Lagian nanti anak-anak
pasti seneng banget punya guru yang cantik kayak gini” kata Pakdhe diikuti
wajah merona Nina karena malu.
*********
“Yaudah kalau gitu kamu cepat tidur, besok bangun pagi” kata
Ibu Tina sambil merangkul Nina ke tempat tidur. Kemudian menidurkan Nina , menarik
selimut Nina. Kemudian berjalan menuju pintu.
“Maa... aku ingin jadi guru seperti nenek” kata Nina sambil
__ADS_1
tersenyum sedangkan tubuhnya sudah menikmati empuknya kasur dan hangatnya
selimut.
Ibu Nina yang mendengar perkataan Nina berbalik arah mendekati
Nina. “Nenekmu mendedikasikan usianya untuk menjadi guru,beliau sangat
mencintai murit-muritnya. Dulu waktu nenek meninggal murit-muritnya banyak yang
datang ke rumah untuk takziyah sekaligus mengenang nenkmu. Kata salah seorang
muritnya jasa nenekmu tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidupnya.” Kisah Ibu
Tina sambil meneteskan air mata.
“Oia Nin, bagaimana dengan Dewo? Kamu sudah bilang kalau mau
mengajar?” tanya Bu Nina mengakhiri ceritanya.
Dewo adalah kekasih Nina,upss salah.. Dewo adalah cowok
ganteng dari lahir, kaya raya sejak dari dalam kandungan, baik hati, ramah yang
sekarang sedang mendekati Nina. Namun Nina enggak paham kalau Dewo
mendekatinya. Karena sejak kecil mereka berteman dan Nina sudah menganggap Dewo
sebagai kakak. Kakak yang ganteng dan selalu melindungi maksutnya.
“ Lah ngapain bilang Mas Dewo ma?” kata Nina yang langsung
beganti posisi menjadi duduk.
“Ya enggak apa-apa” jawab Bu Tina sambil berlalu dan menutup
pintu kamar Nina.
__ADS_1
“Mama ada-ada aja.” Batin Nina sambil malu-malu. Yang
kemudian membenamkan wajahnya ke dalam selimut.