
Nina segera berlari mendekati Abizar yang terkulai lemas. "Pak bawa dia ke mobil saya,saya akan membawanya ke rumah sakit. Dia murit saya" perintah Nina pada bapak yang menggendong Abizar.
Diperjalanan ke Rumah Sakit Nina tidak berhenti meneteskan air mata. Dia merasa sangat terpukul atas kejadian yang menimpa Abizar. "Seandainya tadi pagi aku mengejarnya, dan mengetahui apa yang terjadi pada Abizar, dia pasti akan baik-baik saja." sesal Nina dalam hati.
Di UGD Rumah Sakit terdekat, para perawat dan dokter segera bertindak cepat melakukan pertolongan pertama untuk Abizar.
"Pasien membutuhkan banyak darah" kata perawat yang merapat Abizar. "Golongan darahnya AB-, stok darah tersebut di Rumah Sakit sedang habis, kami juga telah menghubungi pihak PMI tapi disana darah tersebut juga kosong. Pasien saat ini sedang kritis. Kami butuh segera darah tersebut." tambahnya lagi yang membuat Nina shock, tubuhnya bergetar dia hampir pingsan untungnya perawat tersebut menahannya.
"Ibu tidak apa-apa?" kata perawat tersebut.
"Tidak, saya tidak apa-apa. Suster,ambil darah saya. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan murit saya. Ayo sus,cepat ambil darah saya secepatnya." kata Nina dengan wajah memelas namun dengan penuh kepastian.
"Apakah ibu keluarganya?" tanya perawat.
"Bukan, saya gurunya" jawab Nina.
__ADS_1
"Saya akan melakukan tes terlebih dahulu pada ibu, jika darah Ibu cocok ibu bisa mendonorkan darah" kata perawat.
"Baiklah" jawab Nina.
Setelah melakukan tes golongan darah, ternyata darah Nina cocok untuk Abizar. Nina mendonorkan darah untuk muritnya tersebut. Dan berangsur-angsur Abizar telah keluar dari masa kritisnya.
Mungkin semua orang saat di posisi Nina akan melakukan hal yang sama. Namun berbeda dengan Nina, dia merasa sangat peduli dengan Abizar bahkan lebih dari itu, dia telah menyayangi Abizar terlebih setelah Pak Alfin menceritakan kondisi keluarga Abizar, dan juga setelah Nina melihat kondisi Abizar yang bersimpuh darah.
Drrtt..drrtt... ponsel Nina bergetar, telfon dari mama.
"Halo iya ma..." jawab Nina di telfon.
"Nina dirumah sakit ma,murit Nina jadi korban tabrak lari. Dia kehilangan banyak darah. Tadi Nina donorin darah Nina" jawab Nina pelan karena tubuhnya masih agak lemas setelah proses pendonoran darah.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan Nin?" tanya laki-laki di telfon mamanya, dan dia adalah Mas Dewo. Ternyata Dewo ada di rumahnya Nina dan Bu Tina menelfon Nina dengan mode pengeras suara di ponselnya sehingga Dewo bisa mendengar apa yang Nina katakan.
__ADS_1
"Mas Dewo.." kata Nina yang tidak menjawab pertanyaan Dewo.
"Mas kesana sekarang,kamu tunggu ya.." kata Dewo kemudian sambil menekan tombol merah di hp Bu Tina.
Nina tersenyum sendiri membayangkan tingkah laku Dewo. Sebenarnya Nina nyaman bersama Dewo,entah karena Nina menyukai Dewo atau karena memang Dewo sudah sejak kecil menjadi temannya. Selama ini memang Nina tidak mau membuang buang waktu untuk memikirnya karena dia malu.
Beberapa menit kemudian, Mas Dewo datang. Dia tidak kesusahan untuk mencari keberadaan Nina karena ada hanya satu Rumah Sakit terdekat dari sekolah tempat Nina mengajar.
"Nin bagaimana keadaan kamu?" tanya Dewo dengan wajah khawatir.
"Nina baik-baik saja, murit Nina yang sakit mas" jawab Nina agak manja yang selalu membuat Dewo gemas.
"Ini makanan buat kamu, makanlah! kamu pasti lapar" pinta Dewo.
"Nanti aja mas, Nina gak lapar." jawab Nina sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kamu harus makan nin, gimana murit kamu mau jadi anak kuat kalau gurunya aja lemah gini" rayu Dewo.
"Iya deh..." jawab nina kalah. Nina selalu tidak bisa menolak permintaan Dewo.