Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
BAB 31


__ADS_3

Dewo mengantar nina pulang ke rumahnya, sedangkan abizar bersama mobil polisi diantar pulang.


Sesampainya di rumah nina disambut mamanya dengan bahagia, semalaman mamanya hanya menangis mengkhawatirkan nasib anak semata wayangnya itu.


Nina yang masih merasa trauma dengan kejadian yang telah menimpanya terlihat masih trauma. Wajahnya masih seperti orang ketakutan. Kemudian mamanya membawa dia ke kamar untuk beristirahat.


Disisi lain, Abizar masih menahan sakit di tubuhnya. Bunda yang juga sangat mencemaskan dirinya hanya bisa berlinang air mata menyesali kejadian yang menimpa anaknya.


Para kawanan itu telah ditangkap polisi, psikopat dan anak buahnya sekarang sudah mendekam di penjara. Sementara Ayah Abizar yang tertembak polisi meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.


Bunda dan Abizar yang mendengar kabar itu merasa bingung harus sedih ataukah lega. Sedih karena itu adalah ayah Abizar, yang seharusnya dihormati dan yang seharusnya menyayangi keluarganya. Lega karena apa yang mereka khawatirkan selama ini dan yang selalu mengganggu kehidupan mereka telah pergi. Bunda dan Abizar mengadakan pengajian di rumahnya untuk mendoakan ayah Abizar sebagai penghormatan terakhir. Mengingat keluarga Ayah Abizar juga tidak ada.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian suasana sudah kembali seperti biasa. Abizar sudah masuk sekolah setelah luka-luka di tubuhnya sembuh. Nina pun mulai melakukan aktifitasnya di sekolah setelah memulihkan psikisnya. Bedanya nina membutuhkan waktu yang lebih lama dari Abizar untuk pulih. Sehingga hari ini adalah hari pertama nina untuk mengajar setelah kejadian penculikan itu.


Murit-murit nina menyambut kedatangannya dengan suka cita. Ada yang memberi setangkai bunga, ada yang memberi permen, ada juga yang menghadiahkan puisi. Mereka semua merindukan kehadiran nina. Hal ini yang membuat nina jadi lebih bersemangat.


" Bu nina kalau masih belum sehat tidak usah ngajar aja hari ini " kata Gilang.


" Iya bu nina, sebaiknya bu nina istirahat di rumah aja " timpal Andi.


" halahhh... itu kan cuma bisa-bisa kalian aja supaya hari ini kita gak dapat pelajaran" saut Yasmin menggerutu karena dia mulai mengerti maksut teman-temannya.


Anak-anak sekelas pun tertawa riuh.

__ADS_1


Nina melihat Abizar dibangkunya, wajah anak itu masih sembab, di dahinya juga masih tertempel plester. Dan ternyata banyak plester yang tertempel di tubuhnya. Nina hanya bisa melihatnya dengan iba.


Kemudian nina memulai pelajaran hari ini. Ternyata anak-anak benar, nina masih belum sehat benar. Dia terlihat memaksakan tenaganya untuk mengajar. Kepala nina terasa pusing, matanya pun berkunang-kunang. Namun dia tetap bertahan. " Ahh,sebentar lagi pasti sembuh. Tidak mungkin aku meninggalkan anak-anak, selama aku tidak mengajar anak-anak pasti banyak tertinggal pelajaran. Aku harus kuat " batin nina menguatkan fisiknya.


Namun tiba-tiba


Bruukkkk... suara tubuh nina jatuh ke lantai. Nina pingsan. Anak-anak pun kebingungan. Mereka berlari kesana kemari meminta tolong sambil berteriak. Abizar segera menghampiri tubuh tak berdaya nina, dia tidak bisa melakukan apapun. Abizar hanya bisa memanggil nama nina sambil menangis karena dia takut terjadi apa-apa dengan nina.


Abizar bukan anak yang lemah, dia jarang sekali menangis. Bahkan kejadian penculikan itu tidak membuatnya keluar air mata. Namun saat melihat tubuh nina tak berdaya seperti ini, air matanya jatuh.


Krmudian beberapa guru perempuan datang ke kelas itu dan segera membopong tubuh nina ke UKS. Abizar mengikuti mereka sambil terus menggengg tangan Nina.

__ADS_1


Sesampainya di UKS nina dirawat oleh perawat yang ada di situ. Tak lama kemudian Nina pun sadar. Abizar yang terus menggengam tangan nina merasa lega. Nina melihat Abizar dengan tersenyum lemah.


__ADS_2