Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
BAB 36


__ADS_3

Diwaktu yang telah ditentukan, Abizar pun menjalani operasi. Sebelumnya dia dirawat terlebih dahulu di rumah sakit tersebut untuk melakukan serangkaian tes. Nina dan Bunda selalu setia menemani Abizar.


Abizar masih di ruang operasi sejak 3jam yang lalu. Nina dan bunda menunggu di ruang tunggu, tak henti-hentinya mereka mengucapkan doa untuk keberhasilan operasinya Abizar.


Tiba-tiba Dewo datang ke rumah sakit, dia khawatir dengan Nina karena beberapa hari ini perhatiannya tercurahkan kepada Abizar. Setelah mengajar nina langsung ke rumah sakit, setelah larut malam atau tepatnya setelah Abizar tidur dia baru pulang. Begitulah kegiatannya beberapa hari ini. Sehingga Dewo menghawatirkan kesehatan nina selain itu dia juga rindu.


" Nin, sudah makan? makan dulu yuk " ajak Dewo sambil berbisik.


" Nanti aja " jawab Nina.


" Ayo kita makan sekarang, udah malam. Aku yakin tadi siang kamu juga belum makan " imbuh Dewo.


" Nina gak lapar mas.. " tolak nina


Bunda pun mendengar percakapan Dewo dan nina.


" bu nina makan aja, saya yang akan menunggu Abizar. Ibu jangan khawatir " ucap bunda tersenyum di hadapan nina.


Nina tidak bisa menolak permintaan bunda, dia pun akhirnya harus rela meninggalkan tempat itu.


" nina segera kembali bun " kata nina pada bunda. diikuti oleh senyuman dari bibir bunda yang mengisyaratkan setuju.


Di kantin rumah sakit

__ADS_1


Nina yang dari tadi hanya diam dan manyun membuat Dewo gemas. Makanannya pun dari tadi hanya dilihat.


"aaa.... " Dewo menyuapkan nasi ke mulut nina.


Nina yang kaget dan tidak siap menolak mau tidak mau membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu.


" aaa... " Suapan kedua dari Dewo ke mulut nina. Nina pun membuka lagi mulutnya.


" Oo ternyata minta disuapin " saut Dewo yang kontan membuat pipi nina merona.


" Ayo aa lagi " suapan ketiga dari Dewo.


Akhirnya semua makanan di piring nina masuk kemulutnya dengan disuapi Dewo.


" Aduhh.. dibayar berapa ini nyuapin sepiring gini. " kata Dewo menggoda nina.


" ihhh... mas dewo emang mau dibayar berapa. Aku bayar!! " Nina menekankan kalimat terakhirnya sambil senyum senyum.


" emang kamu mau bayar, mahal lho " Dewo menggoda dengan tatapan mata yang tidak bisa ditebak.


Nina cemberut mendengarnya dan membuat Dewo malah gemas.


" Emang berapa, jangan mahal-mahal dong mas" nina merajuk manja.

__ADS_1


" mas maunya dibayar pakai ini " sambil menunjukkan dadanya.


" apa? mas mau nina beliin baju " kata nina polos.


Dewo tertawa mendengarnya. Kemudian dia menggenggam kedua tangan nina diatas meja.


" Mas ingin kamu membayar pakai hati kamu. hati yang cantik dan sangat baik itu. Boleh kan? " ucap Dewo.


Nina merona mendengarnya. Dia tersenyum senyum. " Wahh apa ini mas dewo nembak aku? Benarkah?? " batin nina.


Nina tidak bisa berkata apa-apa lagi, kepalanya tertunduk tidak berani menatap Dewo. Nina juga tidak mau kalau Dewo sampai melihat wajahnya yang saat ini sudah seperti kepiting rebus.


Dewo yang menyadari kalau nina malu hanya tersenyum sambil menikmati pemandangan wajah nina yang sangat lucu.


" nin, are you ok? " tanya Dewo.


Nina gelagapan mendengar pertanyaan dewo.


" ehh iya ehh ok ehh " jawab nina salah tingkah.


" yuk, kita ke ruangan Abizar lagi. Bunda juga pasti sudah lapar. kita antarkan ini " kata Dewo mengajak nina pergi sambil membawa makanan untuk bunda.


Dewo tidak melancarkan aksi menembaknya hari ini juga. Dengan melihat wajah nina yang seperti itu saja bagi Dewo sudah cukup.

__ADS_1


__ADS_2