Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
BAB 33


__ADS_3

Anak-anak dijamu dengan sangat baik di rumah nina. Sampai-sampai Gilang sakit perut karena kekenyangan.


Nina terlihat senang sekali karena kedatangan mereka. Mereka tidak hanya bercerita keluh kesah di sekolah, tapi juga membuat lelucon-lelucon yang membuat Nina dan mamanya tertawa terbahak-bahak.


" Bu nina boleh tanya gak? " ucap Gilang serius. Semua mata tertuju padanya karena wajah Gilang yang terlihat begitu tegang.


" Iya boleh, emang ada apa Gil? " tanya nina balik yang ikut-ikutan tegang.


" Kemarin yang gendong ibu siapa? pacar ibu ya? " tanya Gilang dengan wajah sewot.


Semua mata tertuju ke arah Nina. Nina saat ini seperti diintrogasi oleh anak - anak kecil


" eehhmm.. " nina berfikir


" Bu nina harus jujur, gak boleh bohong." potong Gilang.


" Bukan, dia temannya bu nina kok. Namanya Mas Dewo " jawab Nina tersipu.


Mama Nina yang mendengar jawaban nina pun tersenyum geli.


" Oohh... " seru anak-anak bersamaan.

__ADS_1


" Alhamdulillah " saut Gilang sambil mengadahkan tangan.


" Hati aku gak jadi terpotek " sambung Iqbal.


Abizar juga tersenyum senang mendengar jawaban Nina.


" Anak kecil sekarang aneh-aneh " gumam nina dalam hati sambil tersenyum.


Setelah puas bercengkerama dengan nina, mereka pun pamit pulang. Mereka bergantian berjabattangan dengan Nina.


" Abizar.. " panggil nina kepada Abizar sebelum anak itu melangkah keluar pintu.


Abizar mendekati nina. Nina pun mengelus kening Abizar yang masih ada plesternya.


" Tinggal dikit kok bu sakitnya. " jawab Bizar.


" Yang bener kamu ? Udah diperiksa dokter belum?


" Udah bu, kata dokter gakpapa " jawab Abizar bohong. Karena dia memang tidak memeriksakan dirinya ke dokter. Sebenarnya bunda sudah memaksanya untuk ke dokter, namun Abizar menolak karena Abizar sudah terbiasa dengan sakit seperti itu. Nanti juga sembuh fikirnya. Meskipun kadang dia masih merasa sakit di kepalanya. Tapi Abizar tidak mau membuat bunda khawatir. Apalagi kondisi kesehatan bundanya juga sedang tidak stabil.


" Yaudah, hati-hati ya " ucap nina.

__ADS_1


Bizar tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar.


" Bizar langsung pulang " imbuh nina sebelum dia kehilangan tubuh Bizar dari pandangannya.


" Iya bu... " jawab Bizar dengan tersenyum sambil berlalu.


Nina terdiam, dia merasa kagum dengan sosok Abizar. Anak kecil yang mengorbankan diri untuk menolongnya. Anak kecil yang harus menahan sakit hati gara-gara Ayah kandungnya ingin menembaknya. Dan juga sakit fisik gara-gara terus-terusan menjadi santapan sang Ayah yang sakit jiwa. Namun dia tetap kuat, dia tetap menjalani hidupnya seperti biasa. Dia selalu berjuang untuk kebahagiaan bundanya dan juga kebahagiaan nina. Dia sangat tulus menyayangi bundanya dan juga menyayangi nina.


Biasanya anak seusia itu masih suka bermanja-manja. Selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan berlimpah dari orang-orang terdekatnya. Namun Abizar berbeda, dia tumbuh dengan keadaan yang tidak layak untuk ukuran anak seusianya.


Setiap anak memang dilahirkan dengan keadaan yang berbeda tanpa bisa memilih. Dan Abizar adalah anak pilihan Tuhan yang dipilih untuk selalu berjuang.


" Abizar terimakasih.. Kamu sudah mengajarkan saya tentang ketulusan, tentang kasih sayang, tentang perjuangan " gumam nina lirih.


" Nina... " panggil mamanya.


" iya ma " jawab nina menoleh ke mamanya.


" Jadi itu tadi yang namanya Abizar.. Anak itu kelihatan kuat sekali ya " kata mama lirih.


" iya ma, dia anak yang kuat. Tadi aja dia bohong sama nina bilang kalau udah ke dokter, padahal aslinya belum. Dia pasti gak mau nina khawatir " saut nina lirih.

__ADS_1


***** haloo semuanya,,, selamat membaca novel ini ya.. semoga suka.


Author minta dukungannya ya di kolom komentar,, kasih masukan buat Author biar tambah semangat. Jangan lupa like dan vote. Terimakasih banyak*****


__ADS_2