
"Abizar kenapa? Kenapa jam segini dia juga belum masuk sekolah? Lari kemana dia tadi?" pertanyaan yang terus meracau di fikiran Nina.
"Aku harus mencari tahu." gumamnya kemudian.
Tettt...teett... bunyi bel tanda istirahat.
Nina keluar dari kelas,matanya berputar kesana kemari siapa tahu dia menemukan sosok anak yang dicarinya. Nina terusberjalan sampai di pagar sekolah,matanya berputar lagi menyisiri daerah sekitar sekolah Abizar tidak ada disana.
Nina kembali masuk dengan frustasi. Nina meletakkan tubuhnya pada kursi guru di ruang guru.
"Bu Nina kenapa murung?" sapa seseorang yang Nina sudah hafal suaranya. Pak Alfin, beliau adalah teman Nina mengajar. Usianya kira-kira 4tahun lebih tua dari Nina. Menurut cerita dari Pakdhe Haris,Pak Alfin merupakan guru teladan di sekolah ini. Dedikasinya pada dunia pendidikan dan perhatiannya kepada murit-muritnya patut diacungi jempol. Dan yang bikin jempol satunya ikut-ikutan ngangkat adalah Pak Alfin memiliki wajah yang rupawan,badan yang atletis,ramah,sopan, dan yang paling penting jomblo. Wajah dan karakternya 11-12 sih sama mas Dewo sama gantengnya, cuma Pak Alfin keliatan kebapakan mungkin karena dia guru kali ya..
"Bu Nina..." sapa Pak Alfin lagi karena melihat Nina yang terdiam melihatnya.
"Eh iya Pak Alfin, gak kok gak apa apa." jawab Nina gugup karena merasa malu telah memandang wajah Alfin dalam.
"Kalau ada apa-apa Bu Nina bisa cerita ke saya" kata Alfin.
__ADS_1
"Iya,Pak Alfin tahu Abizar gak?" tanya Nina memberanikan diri.
"Iya tahu, kenapa bu?" jawab Alfin.
"Dia kok tidak seperti teman-temannya ya.. dia agak berbeda, lebih pendiam, wajahnya juga selalu kusut" kenang Nina.
"Abizar, dia anak broken home bu. Ayahnya pergi setelah meninggalkan hutang. Ibunya sakit-sakitan. Dulu sebelum ibunya sakit Abizar terkenal sebagai anak yang pintar. Namun sekarang ..."
Belum selesai Alfin berbicara Nina menyela,
"Lalu dia bayar sekolahnya gimana?" sela Nina.
" Terima kasih Pak Alfin atas informasinya." kata Nina.
" Tidak perlu berterimakasih bu Nina" jawab Alfin dengan tersenyum.
Dalam hati Alfin, "jangankan cerita tentang Abizar,hidupku aja aku kasih buat kamu Nina. Nina kenapa kamu cantik sekali,wajahmu benar-benar membuat hidupku jadi panas dingin. Kamu tahu Nina saat bicara denganmu aku merasa sinar rembulan menghiasi awan, meskipun aku tau itu tidak mungkin karena ini siang hari. Saat kamu menatapku aku seperti ditusuk oleh tombak cinta tepat didadaku dan itu juga tidak akan mungkin karena aku masih sehat-sehat saja sekarang. Nina, apakah kamu bidadari yang Tuhan turunkan untuk mengisi ruang kosong dijemariku? Apakah kamu orang yang akan mendampingiku duduk duduk di pelaminan?"
__ADS_1
"Pak Alfin..." panggil Nina
"pelaminan.." racau Alfin tidak sadar.
"Pelaminan? Pak Alfin mau menikah?" tanya Nina.
"Oh tidak-tidak Bu Nina. Maaf" Alfin meninggalkan Nina dengan tergesa-gesa karena malu.
******
Bel pulang sekolah berbunyi,tapi sampai saat ini Abizar masih tidak terlihat di sekolah. Nina pun memutuskan untuk pulang. Nina menelfon mamanya untuk menyuruh sopir menjemputnya di sekolah.
Diperjalanan pulang, jalanan yang biasanya lancar hari ini terlihat macet.
"Ada apa Pak" tanya Nina pada sopir.
"Sepertinya di depan ada kecelakaan bu" jawab Pak sopir.
__ADS_1
Nina keluar dari mobil, entah kenapa dia ingin keluar dari mobilnya. Dia melihat di depan ada orang yang menggendong anak kecil yang penuh dengan darah,sepertinya dia korban kecelakaan. "Korban tabrak lari, korban tabrak lari" teriak orang-orang disekitar. Anak tersebut masih memakai seragam sekolah meskipun saat ini seragamnya telah penuh dengan darah. Dan yaa anak itu "Abizaar...." Nina berteriak