
"Kenapa males? mau pulang sama ibu? tanya nina yang masih berusaha sabar.
" Ibu tanya mulu sih, ibu pulang duluan aja" jawab abizar dengan tatapan panjang.
"Wahh,ini kalau diterusin bisa perang ni anak sama gue" gumam nina.
"Ok lah,bu nina pulang ya.. kamu pulangnya hati-hati." kata nina sambil mengelus kepala abizar.
Entah kenapa saat Nina menyentuh kepala Abizar,Abizar merasa nyaman. Dia melihat wajah Nina yang kini tengah tersenyum dan matanya teduh.
Kemudian Nina pergi meninggalkan kelas kelas. Nina tidak pulang,Nina memilih duduk didekat kelas sambil menunggu Abizar keluar dari kelas. Karena itu adalah tanggungjawab Nina untuk memastikan muritnya baik-baik saja.
Satu jam lebih Nina berada disitu,tidak ada tanda-tanda Abizar keluar dari kelas. Nina memberanikan diri untuk mengintip dari jendela, ternyata Abizar masih seperti tadi. posisinya masih duduk seperti saat Nina menunggalkannya.
"Anak itu kenapa? Apa dia ada masalah? Kenapa dia seperti itu? Dia siapa sih?" Bermacam-macam pikiran memenuhi isi otak Nina. sampai dia tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang melihatnya.
__ADS_1
Dia adalah Abizar,saking asyiknya bertanya dengan dirinya sendiri Nina sampai tidak sadar kalau Abizar sudah keluar dan sekarang tengah melihatnya.
"ibu ngapain? ngintip aku?" tanya Abizar.
"hmm..mm.. enggak.....ibu......" jawab Nina gugup.
"Ibu ngapain nungguin saya? Saya udah biasa kok pulang terakhir. Sekarang saya mau pulang" sela Abizar sambil merebut tangan kanan Nina dan mencium punggung tangannya.
"Assalamualaikum" salam Abizar
"Waalaikumsalam" jawab Nina yang masih terperangah dengan kelakuan muritnya.
"Bu Nina belum pulang?" sapa Alfin. Teman guru Nina.
"oh belum Pak Alfin,tapi ini mau pulang" jawab Nina.
__ADS_1
"hati-hati bu Nina" kata Alfin.
"Terimakasih pak" jawab Nina sambil berlalu.
"aku masih penasaran sama Abizar,apa sebaiknya aku tanya ke Pak Alfin ya?" gumam Nina. Kemudian Nina membalikkan tubuh,dan didapatinya Alfin sudah berjalan menjauhi dirinya yang membuat Nina mengurungkan niatnya.
Di perjalanan pulang sambil menyetir mobilnya Nina tidak henti-hentinya memikirkan Abizar. Apalagi kelakuan Abizar yang mencium punggung tangannya. "Kenapa dia jadi sopan? Padahal tadi pagi dia ketus. Sepertinya anak ini memang memiliki masalah" gumam Nina dalam hati. Meskipun baru dua hari Nina mengajar di sekolah tapi rasa sayang Nina untuk murit-muritnya sudah cukup besar. Nina tidak bisa membiarkan kalau muritnya tidak bahagia. Baginya kebahagiaan adalah kebutuhan utama bagi anak-anak.
*********
Keesokan harinya di SD Tunas Bangsa
Nina berjalan tergesa-gesa dari pagar sekolah menuju ke kantor guru. Hari ini dia terlambat karena van mobilnya mendadak bocor. Yang membuat Nina harus memanggil servis langganan keluarganya dan meninggalkan mobilnya, sementara Nina harus naik ojol karena hari semakin siang.
Disela-sela perjalanannya yang sembari berlari kecil,mata nina tiba-tiba melihat sosok Abizar di depan sekolah. Dia terlihat berantakan sekali. Seragam yang dia pakai lebih lusuh dari kemarin. Dan yaa Abizar menangis. Dia tidak masuk ke sekolah,namun dia duduk di sela-sela pagar sekolah. Dia memegang sebuah kertas. Nina berjalan berbalik arah dia ingin mengajak Abizar masuk. Namun langkahnya terhenti saat ada laki-laki yang menghampiri Abizar. Abizar terlihat ketakutan dan segera berlari menjauhi laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Abizaarrr..." teriak Nina. Namun Abizar sudah tidak mendengarnya karena dia sudah jauh berlari.
" Abizar kenapa? siapa laki-laki itu? kenapa Abizar lari? Aku harus mencari tahu. Kasian Abizar dia terlihat ketakutan" gumam Nina.