Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
BAB 8


__ADS_3

"Kenapa anak sekecil Abizar harus menghadapi masalah sebesar itu mas?" tanya nina dengan air mata yang telah memenuhi pipi.


Dewo yang tidak tega melihat Nina menangis langsung menarik nina ke dalam pelukannya, memberikan rasa nyaman untuk gadisnya . Nina pun merasa nyaman berada di dada bidang Dewo. Sampai akhirnya seorang perempuan menghampiri mereka.


" Apakah Ibu adalah gurunya Abizar?" sapa perempuan tersebut.


Nina terkejut mendengarnya dia segera melepaskan diri dari pelukan Dewo. Karena


selama berada dipelukan Dewo, Nina merasa lepas kontrol dia lupa kalau disini adalah rumah sakit.


" ooh iya" jawab Nina.


" Saya ibunya Abizar, dimana anak saya bu?" tanya perempuan yang sedikit lusuh itu.


"Abizar di dalam,dia baik-baik saja.Ibu bagaimana? Apakah ibu juga baik-baik saja? Apakah ibu perlu saya bawa ke UGD?" tanya Nina khawatir,karena dia tiba-tiba ingat kalau ibu tersebut barusan disekap.

__ADS_1


"Tidak ibu, saya baik-baik saja. Saya seharusnya sangat berterimakasih terhadap ibu dan bapak. Tanpa pertolongan dari orang-orang ibu dan bapak saya pasti tidak akan selamat dari psikopat itu. Biasanya ibu mertua saya yang selalu menolong saya dan Abizar namun saat ini beliau sudah meninggal" kenang ibu tersebut sambil meneteskan air mata.


" Sudah lah bu, yang terpenting sekarang ibu dan Abizar baik-baik saja. Saya akan berusaha semampu saya untuk melindungi Abizar, dia anak yang baik." kata Nina berusaha menenangkan.


Namun bunda Abizar tidak malah tenang tangisnya semakin menjadi sambil mengenang hal yang telah Abizar alami. "Takdir begitu kejam pada Abizar bu, beberapa hari ini dia dikejar-kejar oleh psikopat tersebut karena psikopat tersebut menginginkan saya dan Abizar berusaha melawan sehingga membuat psikopat tersebut marah. Bahkan kemarin dia sempat berkelahi dengan psikopat itu sampai akhirnya psikopat itu berhasil membawa saya dan kecelakaan ini terjadi." kenangnya.


Nina pun memeluk bunda Abizar, keduanya menangis di hadapan Dewo. Dewo pun merasakan rasa cintanya yang tumbuh semakin besar terhadap Nina. Nina yang selalu memikirkan orang lain, yang selalu berempati terhadap orang lain. Itulah sifat yang selama ini Dewo kagumi pada Nina. Di luar sana banyak sekali gadis yang mengejar cintanya, namun Dewo telah menjatuhkan pilihannya pada Nina. Dan saat ini hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menyatakan cintanya kepada Nina.


"Sebaiknya ibu ke dalam, ibu bisa lihat Abizar. Dia sangat mengkhawatirkanmu." kata Nina kepada bunda Abizar setelah mereka melepas pelukannya.


" Iya bu, saya sekalian pamit dulu sama Abizar." jawab Nina.


Kemudian Nina dan Dewo masuk ke dalam kamar, mereka sepakat untuk memberikan kejutan kepada Abizar.


" Bizar, ibu punya sesuatu buat kamu" kata Nina di depan pintu sambil tersenyum.

__ADS_1


" Ibu dari mana aja? ibu lama sekali" Abizar hanya menggerutu manja, dia tidak merespon apa yang dikatakan Nina barusan.


Nina tersenyum melihatnya, kemudian dia menghampiri Abizar mengelus rambutnya, sambil berkata " Maaf, ibu ada urusan sebentar di luar. Dan ibu punya kejutan buat Abizar. Ini kejutannya..."


Bunda Abizar masuk ke dalam kamar rawat tersebut sambil tersenyum menatap anaknya.


"Bunda..." teriak Abizar ingin berlari namun ditahan oleh Nina karena tangannya masih terpasang selang infus.


Bunda Abizar menghampiri dan memeluk Abizar sambil mencium pipi,hidung,mata Abizar bergantian sambil menangis tentunya.


" Abizar mana yang sakit? " tanya Bunda.


" Udah sembuh bun, bunda gimana? Bunda apa yang sakit? Bagaimana bunda bisa lari dari laki-laki itu? " cecar Abizar pada sang Bunda.


Mendengar semua itu ketiga orang dewasa dihadapan Abizar tersenyum senang. Kemudian Nina dan Dewo pamit untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2