
Beberapa hari kemudian beberapa murit SD Tunas Bangsa melaksanakan seleksi untuk menentukan siapa yang berhak mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade. Abizar pun tampak tenang mengerjakan soal yang ada di depannya.
Nina sebagai pengawas ruang melihat sekelilingnya, dia merasa lucu melihat tingkah konyol muritnya saat mengerjakan soal. Ada yang mengerjakan sambil bertopang dagu, ada yang sibuk memainkan permen karet, ada yang sibuk sama ingus sampe bunyi srot srot, ada yang malah ketiduran. Nina tertawa geli melihatnya. Pandangannya terus mengelilingi aula tempat seleksi tersebut. Dan tampaklah Abizar, dia tidak seperti anak lain dengan gaya aneh-aneh dia nampak tenang mengerjakan setiap soal yang ada. Nina pun berjalan mendekati Abizar.
" Gimana Bizar? kamu bisa " tanya Nina saat sudah berada di sebelah Abizar.
Abizar membalas pertanyaan Nina dengan senyum sambil memperlihatkan lembar jawabannya yang sudah penuh.
Nina kaget dibuatnya dan bertanya, " kamu sudah selesai? "
"Sudah " jawab Bizar enteng.
__ADS_1
Nina pun meminta kertas jawaban Abizar dan membawanya ke tempat duduk semula. Nina melihat jam di tangannya, 20menit dari waktu awal mereka mengerjakan. Nina memeriksa lembar jawaban Abizar, dia dibuat takjub olehnya. Jawaban yang diberikan Abizar benar semuanya, tidak ada satu pun jawaban yang salah. Nina membaca lembar jawaban itu berulang-ulang, dan masih tetap sama jawaban Abizar benar semua. Nina merasa sangat bangga pada muritnya itu karena bisa dipastikan Abizar lah yang mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika.
Keesokan harinya, Pakdhe Haris selaku Kepala Sekolah memberikan pengumuman tentang siapa yang berhak mewakili sekolah mengikuti olimpiade. Banyak diantara murit-murit yang merasa kecewa karena tidak terpilih, ada juga yang malah senang karena tidak terpilih, seperti Gilang.
" Alhamdulillah Bu Nina saya tidak terpilih " seru Gilang saat berada di kelas.
" Kok malah seneng? " tanya Nina
" Seneng banget lah bu, soalnya tuh susah-susah banget. Bisa kurus saya kalau tiap hari dikasih soal kayak gitu. Tu soal bukan buat manusia bu " kata Gilang sewot.
" Iya bu... " Iqbal ikut-ikutan menimpali dengan wajah dibuat sememelas mungkin. Padahal Nina tahu kalau Iqbal dari tadi tidur sambil menutup wajahnya dengan lembar jawaban
__ADS_1
Nina pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar celotehan murit-muritnya. Dan dibalas dengan rasa sebal dari mereka.
" Abizar mulai sekarang sampai waktunya olimpiade kamu belajar sama Ibu ya.. " kata Nina.
" Wahh enak banget kamu zar, bisa sama bu nina terus. Tau gitu aku bakalan ngerjain soalnya dengan sungguh-sungguh banget dari hati yang paling dalam. " celoteh Iqbal yang diikuti sorakan dari teman-temannya.
" Jangan mimpi.. huuu.... halu... " seru teman-teman sekelasnya bersamaan.
********
Beberapa hari berlalu, sepulang sekolah Nina selalu memberikan les tambahan kepada Abizar. Ternyata Abizar anak yang sangat pintar, dia lebih pintar dari yang Nina kira. Tak jarang Nina dibuat salah tingkah karena salah menjawab menjawab soal dan malah Abizar yang membenarkan.
__ADS_1
Keluarga Abizar juga terlihat baik-baik saja. Ayah Abizar sudah tidak pernah lagi datang ke rumah Abizar. Psikopat yang mengejar-ngejar Ibu Abizar pun juga sudah tidak terlihat lagi. Entah karena memang sudah selesai atau memang ada rencana lain.
Semakin hari Abizar terlihat sangat dekat dengan Nina, Abizar bisa tertawa lepas saat sedang bercanda dengan Nina. Dia sekarang kembali menjadi sosok yang ceria seperti dulu. Bunda Abizar sangat bersyukur atas kehadiran Nina.