
Nina menatap wajah Abizar dengan seksama. Wajah itu masih setia dengan mata tertutup. Tanpa sadar Nina pun mengelus kepala Abizar. " Abizar cepat sembuh ya" kata Nina pelan.
"Kamu sudah menghubungi keluarganya Nin?" tanya Dewo.
"Aku gak tau keluarganya mas,tapi ini tadi aku sudah menghubungi sekolah. Kata Pak satpam sekolah rumah Abizar kosong, katanya beliau langsung kesana tadi pas Nina kasih kabar." Nina berkata dengan masih menatap Abizar.
"Lalu kamu sekarang gimana? Mau tetap disini temani dia?" tanya Dewo mengingat hari semakin larut.
"Iya mas, Nina gak tega ninggalin Abizar disini sendirian. Iya kalau orang tuanya datang,kalau gak?" keluh Nina yang memang benar-benar khawatir dengan muritnya ini.
"Mas Dewo pulang aja,Nina gak apa-apa kok disini sendirian" kata Nina kemudian yang tidak enak dengan Dewo karena bagaimanapun juga Abizar adalah tanggungannya.
"Enggak, malam ini kita disini aja sampai keluarga Abizar datang. Mas temani kamu." jawab Dewo yang membuat Nina terpesona dan malu.
Nina tidur di bed penunggu di kamar rawat Abizar, sementara Dewo tidur di kursi panjang yang juga berada di kamar tersebut. Nina memang menyewa kamar VVIP untuk perawatan Abizar.
"Lepas....lepas...lepaskan aku. Ampun..ampun.. Ampun Pak ampun.." Tiba-tiba Abizar menjerit dalam tidurnya.
Nina dan Dewo tersentak kaget melihat Abizar mengigau. Dewo dengan sigap memegang tangan Abizar karena selain berteriak dia juga berontak, Dewo takut infus Abizar akan terlepas. Nina mengelus kepala Abizar sambil menanangkan.
"Abizar, ini bu Nina. kamu sama Bu Nina. Semua baik-baik saja. Kamu tenang ya.." Nina berusaha menenangkan.
__ADS_1
Perlahan-lahan Abizar membuka mata. Dilihatnya Nina dengan seorang laki-laki. "Ini pak Dewo dia teman bu Nina" kata Nina yang tidak mau melihat Abizar ketakutan lagi.
"Abizar mau makan?" kata Nina sambil menyodorkan makanan.
Abizar hanya menggeleng.
"Abizar harus makan, kasihan bu nina dari tadi khawatir sama Abizar. Abizar harus sembuh harus kuat tidak boleh lemah" Dewo ikut membuka kata. Nina yang mendengarnya ikut terperanjat. "Mas Dewo peduli sama " Abizar" gumamnya dalam hati.
Akhirnya Abizar mau memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kenapa saya disini bu? bunda dimana?" tanya Abizar.
"Bu Nina bundaku dimana?" tanya Abizar lagi dengan air mata yang hampir tumpah. "Bunda pasti diambil sama laki-laki itu." keluh Abizar dengan air mata yang sekarang sudah tumpah.
Nina bingung, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakan. Dia masih mencerna kalimat Abizar satu persatu.
" Laki-laki siapa Bizar?" Dewo yang bertanya, karena dia tahu Nina pasti akan diam membatu.
"Laki-laki yang mau ngambil bunda. Ayahku jahat, Ayahku ngasih Bunda ke laki-laki itu. Bunda sakit. Nenek tidak tahu" Begitulah kalimat yang keluar dari mulut anak berusia 11tahun tersebut dengan air mata yang terus mengalir dan suara yang bercampur dengan isakan tangis. Nina benar-benar tidak bisa mencerna dan berfikir tentang apa yang Abizar katakan. Abizar bercerita layaknya anak kecil yang habis bertengkar dengan temannya. Dia hanya bisa memeluk Abizar dengan penuh iba, setidaknya dia ingin Abizar merasa kalau dirinya tidak sendiri. Nina tidak tahu seberapa besar masalah yang dihadapi Abizar, yang Nina tahu hanyalah dia akan selalu melindungi Abizar
Dewo yang mengetahui hal tersebut hanya membiarkan saja melihatnya. Dia tahu bagaimana Nina. Kemudian Dewo meminta orangnya untuk mencari tahu tentang keberadaan Bunda Abizar dan bagaimana tentang keluarganya.
__ADS_1
"Abizar, kamu tenang ya.. Pak Dewo sudah menyuruh orang untuk mencari Bunda kamu. Saya pastikan bunda akan segera ditemukan" kata Dewo menenangkan Abizar. Yang dia yakini juga pasti akan membuat Nina tenang.
"Terimakasih mas" ucap Nina sambil tersenyum.
Dewo pun tersenyum tenang melihat senyum tersebut.
Keesokan harinya Nina dan Dewo masih setia di rumah sakit menemani Abizar. Beberapa pelayan dari rumah Nina bergantian datang untuk membawakan makanan dan baju ganti untuk Nina, Dewo, dan Abizar. Nina merawat Abizar dengan baik. Siapa pun yang melihat tidak akan menyangka kalau itu adalah guru dan murit, Nina terlihat sangat menyayangi Abizar.
"Nina bisa kita keluar sebentar?" ajak Dewo.
"Ada apa?" jawab Nina yang baru selesai menyuapi Abizar.
"Yuk, sebentar aja" ajak Dewo sambil menarik tangan Nina.
Nina melihat ke arah Abizar sebagai tanda ijin. Abizar tersenyum sebagai tanda mengijinkan.
"Orang-orangku telah menemukan Bunda nya Abizar. Dia disekap oleh seorang yang terkenal sebagai psikopat." kata Dewo.
"Hahh" Nina hanya bisa melongo karena dia sama sekali tidak mengira kalau akan seperti ini ceritanya. Berbeda dengan Dewo yang telah menaruh curiga sejak Abizar mengigau.
" Ayah Abizar adalah seorang pemabuk dan penjudi, kemudian Bunda dan Ayah Abizar bercerai. Sejak itu Bunda Abizar sakit-sakitan. Abizar pun harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia biasa menjadi tukang semir sepatu dipinggir jalan. Abizar memiliki nenek,Ibu dari Ayahnya. Benek tersebut yang biasanya membantu memenuhi kebutuhan abizar dan bundanya, namun beberapa bulan yang lalu Nenek Abizar tewas akibat kecelakaan. Sehingga Abizar dan Bundanya semakin menderita. Mungkin Abizar belum tahu kalau neneknya meninggal, mumgkin bundanya tidak memberitahunya karena takut dia akan sedih. Penderitaan Abizar semakin parah karena Ayahnya telah menjual sang Bunda kepada psikopat itu untuk membayar hutang." Cerita Dewo.
__ADS_1