Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
BAB 42


__ADS_3

Beberapa orang datang mendekati meja yang mereka duduki kemudian memainkan biola dengan lagu romantis membuat kesempurnaan malam ini.


" Mas Dewo kenapa gini? tanya nina heran.


Dewo tidak menjawab, dia hanya tersenyum manis sambil menatap nina lekat-lekat. Nina pun tersipu dengan tatapan itu.


" Makanlah.." kata Dewo tanpa menjawab pertanyaan nina tadi.


Di meja istimewa tersebut memang sudah tersedia beberapa makanan kesukaan nina sebelum mereka menduduki kursinya.


Mereka pun makan dengan tenang, ditemani alunin musik romantis dari biola. Tidak ada kata diantara mereka, hanya senyuman dari bibir mereka yang sudah cukup untuk mewakili perasaan masing-masing.


" nina... " panggil dewo memulai kata.


Nina yang telah menyelesaikan makannya mengangkat sedikit kepalanya ke arah dewo sebagai jawaban.


Kemudian dewo menggenggam kedua tangan nina,sambil berkata, " nina apakah kamu menerima cintaku? aku memang bukan laki-laki yang sempurna, entah pantas atau tidak untuk mencintai perempuan secantik kamu. Tapi aku benar-benar mencintai kamu, entah sejak kapan. Saat melihat senyum di bibirmu, hatiku merasa damai. seolah aku tidak ingin senyum itu pudar dari bibirmu. ijinkan aku selalu menjaga senyum itu tetap ada di bibirmu nina, ijinkan aku mencintaimu. "

__ADS_1


Nina terkesiap mendengar ucapan dewo. jantungnya sudah tidak lagi berdetak normal. tangan yang masih digenggam dewo seketika menjadi dingin.


" nina, kamu sakit? tangan kamu jadi dingin gini? " kata dewo yang menyadari kalau tangan yang digenggamnya berubah dingin.


" enggak.. " jawab nina malu.


" aku beruntung sekali mas, punya kamu. dari dulu kamu selalu menjagaku. selalu mengusap air mataku saat aku menangis. selalu membangunkanku saat aku jatuh,waktu aku masih kecil. bersama mas aku merasa tenang, merasa nyaman. aku juga mencintai mas dewo entah sejak kapan. i love u " kata nina lagi.


Dewo pun tersenyum bahagia mendengar ungkapan perasaan nina. tangan nina yang tadi dingin sudah mulai menghangat seiring dengan ungkapan perasaannya dan transfer kehangatan dari genggaman tangan dewo.


Rasa canggung sudah mulai memudar dari dalam diri nina. seperti biasa saat bertemu dewo nina pun menceritakan semua yang dia alami. Nina memang perempuan yang anggun, tapi saat bersama dewo dia menjadi perempuan banyak bicara. Dewo pun tidak keberatan kalau malam romantisnya ini berubah menjadi ajang nina berceloteh malah suara nina lebih keras dibandingkan suara biola yang masih dimainkan. Bahkan nina meminta pelayan untuk menyalakan lampu, gelap katanya kalau cuma lilin.


didalam mobil, dewo tak henti-hentinya menggenggam tangan nina sambil sesekali mencium punggung telapak tangan itu. nina tidak keberatan.


" makasih sayang, sudah membuat hidupku menjadi lebih berarti. karena sekarang aku punya kamu" kata dewo sambil melirik nina.


Nina yang mendengar dewo memanggilnya sayang, jadi gugup.

__ADS_1


" i i iyaa mas " jawab nina terbata-bata.


" kamu kenapa?" dewo tersenyum.


" kaget , karena dipanggil sayang sama mas dewo"


" sayang sayang sayang sayang sayang sayang " dewo menggoda nina.


" iihhh mas dewo apaan sih.." seringai nina.


Sesampainya di depan rumah nina, dewo menghentikan mobil sportnya. Saat nina akan keluar, dewo menghalangi dengan menarik tangan nina pelan. Nina pun melihat ke arah dewo. Kemudian dewo mendekatkan wajahnya ke wajah nina, semakin dekat semakin dekat.


" hahh apa ini? apa mas dewo mau cium aku? ciuman pertamaku. gimana ini? aku takut, aku gugup " gumam nina dalam hati. tanpa disadari matanya pun terpejam, keningnya mengkerut.


Dewo yang menyadari kegugupan nina tersenyum gemas kemudian mencium kening nina sambil mengusap-usap rambut wanita yang dicintainya itu.


Nina membuka mata dan tersenyum malu. dia udah GR.

__ADS_1


Lalu dewo mengantarkan nina masuk ke dalam rumah, dan dia berpamitan pulang ke rumahnya sendiri.


malam ini adalah malan yang paling membahagiakan bagi mereka berdua.


__ADS_2