
" Abizaaarr... " teriak Nina memanggil Abizar yang telah lari meninggalkan sekolah. Nina terdiam di depan pagar sekolah, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Nina merasa bersalah karena tiga hari lagi olimpiade diadakan dan Abizar malah ngambek karena salah faham.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan sekolah, mobilnya Dewo.
" Nin, kamu ngapain disini? Kenapa gak nunggu di dalam aja " kata Dewo dari dalam mobil.
Nina tersenyum melihat Dewo datang, " Mas Dewo tunggu sini bentar ya, Nina ambil tas di dalam ". ucap Nina sambil berlalu.
Dewo heran melihat tingkah Nina, dia memandangi punggung Nina yang semakin menjauh.
Diperjalanan Nina terlihat murung, dia hanya diam sambil melihat keluar jendela.
" Kamu baik-baik saja Nin? " tanya Dewo khawatir.
" Gakpapa kok mas " balas Nina.
" Abizar mana? udah selesai belajarnya? " tanya Dewo kemudian.
" Dia pergi, ngambek anaknya. Tadi gak sengaja Nina bentak dia karena dia tadi teriak-teriak pas ngomong di telfon sama Mas Dewo. Dia pengennya belajar terus, Nina pengennya dia istirahat aja dirumah hari ini biar gak terlalu capek tapi dianya malah paham. Dia mikirnya Nina gak mau belajar gara-gara mau pergi sama Mas Dewo " cerita Nina.
" oohh gitu... " Dewo menanggapi.
" Tapi kayaknya Abizar bener deh " imbuh Dewo sambil menahan senyum.
" Maksutnya? " saut Nina kaget.
__ADS_1
Dewo hanya tersenyum manis, Nina yang telah mencerna maksut Dewo pun hanya tersenyum-senyum sendiri menahan malu.
Tidak bisa dipungkiri Nina memang sedang merindukan Dewo, sehingga jadwal belajar hari ini dengan Abizar dia tiadakan. Dan alasan yang kedua karena Nina benar-benar tidak mau Abizar kelelahan.
Nina dan Dewo pun menghabiskan sore bersama. Mereka berjalan-jalan menyusuri kota, makan bersama, bercanda berdua. Mungkin orang yang melihat akan sangat kagum dengan mereka, "yang cewek cantiknya Subhanalloh yang cowok gantengnya juga Subhanalloh kalau punya anak gak mumgkin anaknya jadi Astagfirulloh" batin orang-orang yang melihat mereka berdua.
Nina merasa sangat nyaman bersama Dewo, meskipun dia ingin menghindari rasa yang dia miliki terhadap Dewo, tapi dia bagai tersihir oleh pesona Dewo.
" Mas aku lapar " kata Nina tiba-tiba karena perutnya sudah berbunyi lirih.
" Lapar lagi Nin, bukannya barusan kamu habis jajan batagor "
" Yaelah Mas kan itu cuma batagor, cuma nylempit aja itu diperut. "
" Apa aja terserah "
" steak ? "
Nina menggeleng
" pasta ? "
Nina menggeleng lagi
" sea food ?"
__ADS_1
Nina menggeleng lagi.
" kamu mau apa sih? " Dewo gemas.
" Terserah mas dewo aja "
" google carikan restoran yang namanya terserah " kata Dewo sambil membuka google di handphonenya.
" iihhh,, gak gitu juga kali mas " Nina tertawa melihat kelakuan Dewo.
" terus kamu mau makan apa tuan putri yang ngrepotin?" ucap Dewo sambil mencubit kedua pipi Nina gemas.
" Iihhh... gak jadi gak jadi makan, aku gak mau ngrepotin mas dewo " kata Nina cemberut dan langsung pergi.
Dewo dibuat gemas tingkat maksimal oleh kelakauan Nina. Kemudian dia menyusul Nina dan membalikkan tubuhnya.
" Maaf.. " kata Dewo sambil menjewer telinganya sendiri.
Nina pun tersenyum melihatnya. Dewo tertawa senang akhirnya dia berhasil membujuk pujaan hatinya.
" Yaudah, tuan putri Nina yang cantik sekarang mau makan apa? Saya akan siap menemani dan menuruti permintaan tuan putri " ucap Dewo sambil bejongkok di depan Nina.
" Eemmm... nasi bebek aja " jawab Nina dambil berlalu meninggalkan Dewo yang sangat terkejut mendengar makanan yang diinginkan Nina.
"Ya Allah... cuma nasi bebek " gumam Dwwo tersenyum.
__ADS_1