Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
BAB 37


__ADS_3

Dewo tidak melancarkan aksi menembaknya hari ini juga. Dengan melihat wajah nina yang seperti itu saja bagi Dewo sudah cukup.


Sudah cukup meyakinkan Dewo bahwa dia tidak ditolak. Dewo sudah mengenal nina sejak kecil. Jadi dia sudah faham betul bagaimana sikap nina.


Sementara itu di perjalanan menuju kamar Abizar, jantung nina berdegup kencang, wajahnya pun masih tertunduk malu. Apalagi dari tadi tangannya digenggam erat oleh Dewo. Saking eratnya nina merasa sedikit kesakitan.


" Mas meganginnya jangan erat-erat, sakit " kata nina yang masih tertunduk.


" Kalau mas gak megangin erat-erat nanti kamu jatuh. Orang dari tadi nunduk terus. " kata Dewo tersenyum.


Dan nina mendengar jawaban Dewo hanya bisa pasrah dan terus menunduk. "Malunya berlipat lipat ini " gumamnya.


Sesampainya di kamar operasi, bunda masih setia dengan duduknya. Nina menghampiri bunda dan memberikan bungkusan makanan yang dibawanya tadi.


" Bunda makan dulu " kata nina.


" iya bu, terimakasih " jawab bunda sambil membuka makanan di tangannya.

__ADS_1


Tak lama dokter pun keluar dari ruang operasi. Langsung saja nina dan bunda menyerbunya.


" Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Pasien akan dipindahkan ke ruang icu untuk pemulihan operasi " kata dokter.


Nina dan bunda lega sekali mendengar perkataan dokter. Mereka pun mengikuti perawat yang membawa Abizar ke ruang icu.


" Bu nina pulang saja, ini sudah sangat larut. biar saya yang menjaga Abizar " ucap bunda kepada Nina.


" bunda tidak apa-apa sendirian? " jawab nina.


" yaudah, besuk pulang dari sekolah nina kesini lagi bun. Kalau ada apa-apa bunda hubungi nina ya.. " kata nina.


Kemudian Nina dan Dewo meninggalkan rumah sakit. Diperjalan ke rumah Nina hanya menunduk, rasa malunya masih tidak bisa dihilangkan. Jantungnya pun berdegup kencang.


Dewo yang menyadari nina salah tingkah hanya memandangnya sambil tersenyum. Dia sangat bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, ya meskipun nina belum mengucapkan apapun tapi Dewo sudah 100% yaqueen. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga, melindungi dan membahagiakan nina.


Sesampainya di depan rumah nina, nina turun dari mobil dengan masih tertunduk malu tanpa mengatakan apapun. Dewo mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


" mas dewo gak langsung pulang ? " tanya nina, karena biasanya dewo langsung pulang.


" mas mau mastiin kalau kamu masuk rumah dengan selamat karena dari tadi kamu nunduk terus. takutnya kalau kamu kejedot " jawab dewo yang membuat nina tambah menunduk dalam karena malu.


" udah ayo.. " kata dewo lembut sambil memeluk tubuh nina.


Sampai di depan pintu dewo mengetuk pintu, kebetulan pembantu rumah nina yang membukakan.


" non nina kenapa nunduk gitu?" tanya bik ipah pembantu nina.


" bik, antar nina sampai kamarnya ya.. dipegangin ya bik, nanti dia kejedot karena nunduk mulu. " kata dewo.


Bik ipah yang juga mengerti akan nina hanya tersenyum dan menuruti perintah dewo. Dewo pun kemudian pulang ke rumahnya.


Sampai di kamar, nina mulai mengangkat kepalanya. Wajahnya merah sekali sampai dia pun tak tega melihat wajahnya sendiri. Dia duduk di meja riasnya sambil terus mengingat-ingat kejadian yang tadi. Yang secara tidak langsung dewo menembaknya. Kejadian yang membuat dia sangat malu. Kemudian dia mulai memejamkan mata, sambil senyum-senyum.


****Hai kakak-kakak reader, semoga selalu suka dengan episode-episode yang author beri. Saran dan kritik dari kakak-kakak sangat author tunggu. Mohon dukungannya ya.. Selamat membaca ****

__ADS_1


__ADS_2