
"Wahh gimana nih? aku malu. genit banget sih jawab kayak gitu " gumam nina didalam hati.
drrt...drrt... pesan masuk lagi dari dewo.
i love you more more more more more more
nina tersenyum sendiri melihat balasan pesan yang dikirim dewo, hingga tidak sadar. Bruukk... tubuhnya menabrak tubuh Gilang.
"bu nina... " seru gilang.
" hahh,,maaf gilang. kamu gak apa-apa? mana yang sakit? " kata nina sambil memegang tubuh gilang, padahal yang terasa sakit adalah lengan nina sendir. secara badan gilang 2kali lebih besar dari tubuh nina yang mungil.
" lah kebalik bu.. bu nina mananya yang sakit. kalau gilang mah gak kerasa sama sekali. lagian bu nina liatin handphone terus sih.. " omel gilang.
" iya,maaf ya gilang. yaudah kita masuk kelas yuk" ajak nina menggandeng gilang.
******
bel sekolah berbunyi, seperti biasa nina langsung menuju rumah sakit menemui abizar.
sesampainya di rumah sakit, dilihatnya Abizar bersama seorang laki-laki sedang mengobrol.
"Assalamualaikum " sapa nina.
" waalaikumsalam " jawab abizar.
" eh bu nina, kenalin ini om ari temannya bunda. om, ini bu nina guru aku" abizar memperkenalkan diri.
nina dan ari saling bersalaman.
__ADS_1
" bizar bunda mana? "tanya nina.
" lagi ambil obat bu, mungkin antrinya lama. dari tadi gak balik-balik. om ari sampai kelamaan nungguin bunda. "
mereka ber tiga mengobrol. tak lama bunda datang dengan beberapa kantong obat ditangannya.
" ehh ada bu nina udah lama bu? " tanya bunda tersenyum. namun senyum itu cepat memudar saat matanya mengarah ke laki-laki yang duduk di dekat anaknya.
" ari, kenapa kamu disini? " tanya bunda terkejut karena ada laki-laki yang dulu sangat dicintainya.
" saya mau jenguk abizar" jawab ari.
Obrolan pun dilanjutkan, mereka tertawa bahagia mendengar cerita-cerita ari yang lucu. namun tidak dengan bunda, dia merasa tidak enak dengan kehadiran ari disini.
Tak lama ari pun berpamitan, dia hendak pulang. bunda mengikuti ari sampai ke luar.
" bizar, bizar mau gak punya ayah lagi? " tanya nina hati-hati karena takut menyinggung perasaan abizar.
Abizar terdiam, dia sepertinya memikirkan sesuatu.
Nina pun merasa bersalah, tidak seharusnya dia bertanya akan hal itu. mungkin abizar masih trauma, batinnya.
kemudian abizar tersenyum sambil melihat nina.
" om ari baik kok bu, bunda pasti bahagia kalau sama om ari. "
" kalau kamu sendiri? "
" abizar bahagia kalau bunda bahagia bu, bunda memang harus bahagia "
__ADS_1
" bizarr... kamu anak kok baik banget sih.... " kata nina bahagia sambil mencubit hidung abizar.
" aduhh sakit bu... " kata abizar meringis.
" dokter bilang kamu boleh pulang kapan? " tanya nina.
" besok sore katanya boleh pulang bu " jawab abizar.
" siiippp " seru nina mengacungkan jempol.
tak lama bunda masuk kembali ke kamar dengan wajah murung.
" bunda kenapa? " tanya nina.
" ohh tidak apa-apa kok bu " jawab bunda menutupi apa yang ada dihatinya.
" bunda besok kalau pulang tungguin nina ya.. besok nina jemput. " kata nina.
" bu nina sudah bu, jangan repot-repot. bagaimana saya harus membalas kebaikan ibu " jawab bunda.
" bunda hrus balas kebaikan nina dengan kebahagiaan bunda dan abizar. nina mau kalian berdua bahagia " kata nina sambil memeluk bunda.
Bunda pun tak kuasa melelehkan airmatanya.
" bunda terima pak ari ya.. abizar mau kok, pak ari jadi ayahnya " kata nina berbisik di telinga bunda.
bunda pun melepaskan pelukannya dan melihat nina dengan wajah terkejut.
"nina ingin bunda bahagia, abizar juga ingin itu" kata nina lirih.
__ADS_1